Story of Words


Dilihat dari berbagai sudut, hidup bisa jadi berwarna-warni. Tapi kadang juga tidak berwarna. Bukan masalah nano-nano yang manis-asam-asin. Tapi kadang orang menjadi muram hanya karena hitam. Padahal, semua warna adalah sama. Dan jika hitam adalah warna, mengapa harus muram, mengapa harus suram.

Saya bisa berdiri di pinggir jalan dan bertanya, begitu banyak orang, begitu banyak yang disebut individu, yang hidup dan bisa berpikir, merasa sakit, atau jatuh cinta. Ada kegiatan, ada aktivitas.

Di sebuah lingkungan mati, batu misalnya, tak akan ada seonggok batu yang menghitung batu lain lalu menjadi Sartre. Tapi manusia berbeda.

Saya tersenyum. Bagaimana jika sebenarnya dunia ini semuanya berwarna putih. Bagaimana jika sebenarnya tak ada apa-apa di atas kainnya. Bahwa tak ada apa-apa sekaligus hanya ada semuanya. Begitu saja.

Tidak mudah memang. Kita selalu terbiasa berbincang-bincang dengan maksud. Ada basa-basi, tapi ada latar belakang di balik basa-basi. Dunia tidak bisa dilihat sebagai basa-basi. Tidak ada yang menyepakatinya.

Jadi, biasanya kita tidak akan berdiri di pinggir jalan dan melihat begitu banyak individu sambil tersenyum. Di hari yang panas, semuanya akan menjadi keringat saja.

Keringat, setetes bisik-bisik yang tak berarti di tengah teriakan supir angkot yang mencuri keheningan dari sepotong siang yang sangat panas.

Seperti sebuah kapal yang akan angkat sauh, terompet tak henti bersangkakala. Bumi yang dipijak akan ditinggalkan. Jauh.. jauh.. Di mataku berkilasan wajah orang-orang. Aku tak mengenalnya meski mereka tersenyum. Telah lama aku menjadi asing di sini. Tak ada yang menyapa atau menepuk pundak. Tak ada yang berbicara dari dada ke dada. Di sini semua dibangun di atas keringat yang palsu. Ongkang kaki yang angkuh kaku. Aku tak suka.

Tapi di antara duri ada wangi. Aku mendengar dan aku melihat. Maka, aku berhenti untuk sejenak menghormati. Meski aku tak mungkin kembali, dan tak jua mau, pena telah ditumpahkan di atas sajadah hidupku. Dan tersurat telah apa yang sudah. Memberi aku jalan di masa depan ke masa lalu.

Wahai, tak ada sedikit pun rasa sesal. Aku akan kembali menantang ombak. Jika aku mati dikabar burung, kuburkan jasadku di dada tanah. Parang dan tombak telah siap, tameng tlah ditempa. Maka seperti sebuah kapal yang akan angkat sauh, terompet di dadaku tak henti bersangkakala.

 

bukan tentang aku kau bicara
pada dinding yang basah oleh hujan semalam
meski dalam pelukku yang panas
tubuhmu dingin ditikam masa lalu
aku harus ke mana dengan cinta merana
setelah dibunuh berkali-kali 
kuterjunkan diriku ke jurang yang menganga
dan kini
aku tersadar di sebuah ladang
yang tak pernah aku sesali
kau tak pernah belajar satu hal tentangku
bahwa kematian beribu kali
membuatku kebal dari hinaan
dan betapa pun melapuhnya kulitku kini
tak ada yang dapat mengalahkanku
aku tak mencari kemenangan di bumi ini
hidupku yang hancur tlah mengajariku
kebijaksanaan dari diamnya batu-batu
bukan tentang aku kau bicara
pada dinding yang basah oleh hujan semalam
meski dalam pelukku yang panas
tubuhmu dingin ditikam masa lalu
aku harus ke mana dengan cinta merana
setelah dibunuh berkali-kali 
kuterjunkan diriku ke jurang yang menganga
dan kini
aku tersadar di sebuah ladang
yang tak pernah aku sesali
kau tak pernah belajar satu hal tentangku
bahwa kematian beribu kali
membuatku kebal dari hinaan
dan betapa pun melapuhnya kulitku kini
tak ada yang dapat mengalahkanku
aku tak mencari kemenangan di bumi ini
hidupku yang hancur tlah mengajariku
kebijaksanaan dari diamnya batu-batu

Setiap butir darah dalam pembuluh nadiku berdetik. Waktu menjadi kesadaran yang mencengram kerah bajuku. Kesadaran seperti menyempit dan ruang yang lapang penuh dengan kegelapan.

Ada ketuk sepatu di lantai. Jantungku berdebur lebih dari ombak terbentur karang. Aku tak merasakan angin. Dan kini, seluruh pori di tubuhku mendingin berembun-embun.

Adakah kau akan datang kepadaku pada hari yang telah kita janjikan, tanyamu suatu hari. Aku tak percaya bahwa kita mampu untuk berlari dari apa yang telah ditakdirkan. Tapi kita tak usah menangis. Kita tak ingin jadi orang yang cengeng. Kau mengajarkanku untuk menantang nasib: dengan menafikannya.

Ketuk sepatu itu semakin mendekat. Aku seperti ingin loncat dan berteriak. Kemarahan yang muncul menelan ketakutanku. Mengapa kau tak tinggal saja sendiri dalam gelap. Aku bukan penghuni kegelapan.

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Melangkah satu-satu ternyata menyenangkan. Memang aku berhenti. Tapi aku bisa meluaskan pandang. Menikmati setiap titik dalam waktu yang tersedia. Aku tak sombong lagi dengan menginginkan satu lompatan. Aku sadar langkahku tak selebar raksasa. Aku bukan raksasa. Aku tak pernah menjadi raksasa. Bahkan Newton pun bukan. Ia harus berdiri di pundak raksasa alih-alih menjadi raksasa itu sendiri.

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Hari ini aku selesaikan satu langkah dan tak menjadi kesal saat langkah kedua belum aku rampungkan. Cukup satu sehari. Aku tahu bahwa bukit dibangun sedikit-sedikit. Dan batu dilubangi setetes-setetes. Aku harus menjadi yang sedikit itu, atau setetes itu,  tapi terus menerus dan tak mudah lelah.

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Terima kasih untuk tetap menarikku berpijak di atas tanah dan membangunkanku dari mimpi yang melenakan. Umurku telah hanyut jauh ke hilir, belum satu ranting pun aku tarik untuk kubuat rakit. Tapi, denganmu, aku seperti sadar, bahwa tak ada perahu di ujung sungai. Aku harus menarik dan menali, mengikat dan meluruskan. Agar ketika lautan itu sampai, kita tak tenggelam.

Aku tak lagi ambisius sayang, berikan aku selalu kekuatan untuk gagal atau berhasil. Beri aku pelajaran akan sesuatu yang bernilai kecil. Beri aku pengertian, bahwa satu di genggaman lebih berarti daripada sepuluh di bayangan.

Aku tak lagi ambisius sayang. Besok kita lanjutkan lagi sedikit demi sedikit membangun cita-cita kita.

Saya ingat film kungfu di RCTI. David Carradine bermonolog sambil memandang seekor laba-laba. Untuk satu mahluk hidup, ada satu dunia buat dirinya. Saat ini saya ingin mengganti dunia itu dengan sebuah gudang, atau instalasi kabel listrik di langit-langit. Untuk satu orang, ada satu instalasi kabel buat dirinya.

Berhadapan dengan siapa saja adalah sebuah proses timbal balik. Kita menari alih-alih berkelahi. Menari berarti sebuah kognisi. Kita memahami, kita dipahami, kita berubah, kita mengubah. Ada umpan balik ada respon. Kita berkolaborasi.

Tapi, bayangkan jika yang berkolaborasi adalah alien vs predator, atau kuntilanak vs pocong, dua instalasi kabel yang sama-sama semrawut. Satu keukeuh masuk lewat sini, yang lain bilang, kalau itu adalah jalan tempat keluar.

Di kepala setiap orang ada banyak yang bertengger. Siapa bilang kita adalah mahluk rasional. Setiap keputusan sepele yang kita ambil dalam hidup sehari-hari sering diambil lewat pengaruh emosi. Pada kenyataannya, proses berpikir adalah proses yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Jadi, emosi dan rasio itu tidak terbedakan.

Nah, jika dua manusia dengan pengaruh emosinya masing-masing saling bertemu, dengan pengalaman yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan riwayat yang berbeda, apa jadinya?

Saya ingin berkata bahwa bukan itu maksud saya. Tapi tentu saja saya hanyalah seorang yang secara strata akademis berada di bawah lawan bicara saya. Ada banyak asumsi yang dijelaskan tanpa saya memiliki kesempatan untuk mempertanyakan, atau bahkan untuk mengatakan bahwa tidak boleh asumsi seperti itu diambil.

Tapi karena mahluk hidup adalah suatu mahluk yang adaptif, saya membayangkan semrawutnya instalasi kabel yang mulai bergeser-geser untuk berusaha mengikuti semrawutnya instalasi kabel orang yang saya ajak bicara.

Sungguh sayang jika begitu kan? Pikiran adalah area di mana kebebasan menemukan perwujudannya yang paling penuh. Jangan tundukkan pada apa pun juga!!

Saya pun pergi sambil tertawa dalam hati.

Aku tak bisa mengingat nama tempat, pun jalur jalan. Ketika ada orang yang bertanya arah, aku akan mati kutu dan menjawab tak tahu. Bahkan jika pun itu adalah jalurjalur kota kelahiranku.

Aku tak mengingat pula nama orang. Tapi tak separah sang tua pikun. Kadang raut wajah menjentikkan suku kata atau suara. Dan nama mengalir di jantung lidahku. Terucap, seperti tergelincir dari lantai landai yang basah.

Di antara dua kutub Bumi, tak banyak tanah yang aku jejaki. Di antara dua waktu, jarakku tak banyak beranjak. Sepatuku tak tua dan jaket ku tak lusuh. Aku tak membawa gembolan di pundakku.

Tapi aku ingat kata-kata Wordsworth tentang Newton,

And from my pillow, looking forth by light
Of moon or favouring stars, I could behold
The antechapel where the statue stood
Of Newton with his prism and silent face,
The marble index of a mind for ever
Voyaging through strange seas of Thought, alone.

Bukankah batas langit adalah pikiran dan batas bumi adalah tubuh yang mati?

Maka aku ingin bertanya kepada orang-orang yang selalu berkata dengan lantang, seberapa jauh kau tlah arungi lautan kesunyian itu?

Waktu meretas di antara dua jemariku.
Langit terkepung gumpal kabut.
Ada yang mencoba mencari bentuk.
Memahat kebul dengan pisau ingatan.
Kau di sana, dan dia di sampingnya.
Orang ketiga yang tersenyum dan orang keempat yang memeluk.
Pigura yang tak pernah abadi.
Berapa laut yang akan membasuk tinta kenangan.
Membersihkannya hingga noda terakhir.
Bukan aku ingin melarikan diri.
Hanya saja sebingkai foto, entah mengapa, dapat meracuniku.
Dan aku tak ingin mati hari ini.

mungkin malam telah lelah usap pelupuk mataku
sementara hujan di luar pergi lebih dulu
mengapa aku membenci mimpi? ujarmu

mungkin karena dulu ditinggalkannya aku setiap pagi
dengan pahit melumat hati

Lihatlah diriku
mengukir di batu-batu

kau ingat ketika aku belajar menggariskan pahat?
garis yang tak pernah bisa menyatu membuatmu termenung
di sini seharusnya kau letakkan jantungmu
aku hanya mengangguk sambil menyelam dalam
matamu penuh dengan warna biru
dan jantungku merekam setiap pendar cahaya yang dipantulkannya

kini kupahat semua di batu-batu
mencoba melawan alpa yang menggerogoti akalku

sekarang atau nanti sama saja
sebab saat ini dan dulu
tak ada beda

Next Page »