Hari ini saya shalat jum’at di Salman. Di tengah-tengah khutbah, khotib berbicara tentang kebebasan yang diberikan oleh Islam dalam memilih agama. Islam tak pernah memaksa orang untuk memeluk Islam. Jika Anda yakin silahkan. Jika tidak silahkan.
Saya berpikir bahwa keyakinan bukanlah suatu keputusan. Iman atau tidaknya kita, tidak bergantung kepada suatu keputusan yang perlu diambil. Saya juga tidak yakin bahwa kita bisa memilih apa yang kita yakini. Keyakinan atau iman ada dalam diri kita sebagai sebuah hasil dari kehidupan kita.
Jika sejak lahir kita telah berada dalam lingkungan Islam, maka kita diindoktrinasi dengan segala nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, keyakinan terhadap Islam sebenarnya telah dibenamkan dalam diri kita sejak kecil. Jika pun ada kasus ketika setelah dewasa, seseorang menjadi tidak yakin, itu pun bukan sebuah proses yang sesaat. Kita tidak memilih suatu keyakinan.
Contoh sederhananya seperti ini. Jika datang kepada Anda seorang yang baru Anda kenal dan berkata bahwa dia telah kehilangan dompet, dan tak punya ongkos pulang, apakah Anda akan percaya?
Anda mungkin bisa memutuskan saat itu untuk memberi uang atau tidak. Tapi, keyakinan Anda bahwa orang itu adalah seorang yang jujur atau tidak sama sekali bukan diputuskan pada saat itu.
Anda memiliki pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah nilai-nilai yang Anda YAKINI. Nilai-nilai ini ada dalam diri Anda akibat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan cara Anda dididik sewaktu kecil, lingkungan tempat Anda besar, pendidikan yang Anda tempuh dan lain sebagainya. Seluruh nilai-nilai yang ada dalam diri Anda, yang membantu Anda untuk membuat keputusan adalah bukan hasil yang diperoleh sesaat.
Nah, jika demikian adanya, iman seseorang juga tidak diperoleh dari hasil sesaat. Lebih jauh, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi nilai-nilai yang Anda miliki, maka iman juga bukan merupakan suatu hasil keputusan yang bebas. Jika Anda berada dalam kebebasan memilih iman, maka Anda bisa saja beriman hari ini pada agama Islam dan besok berimana pada agama Kristen. Tapi kenyataannya tidak demikian bukan? Anda tidak bisa berpindah iman seperti Anda membalikkan telapak tangan.
Jadi, iman bukanlah suatu hal yang diputuskan. Sama dengan cinta. Anda tidak memutuskan untuk mencintai seseorang. Anda ‘ditimpa’ oleh rasa cinta terhadap seseorang. Anda tidak bisa berkata “ah, saya jatuh cinta hari ini kepada si A, tapi besok nggak dulu cinta deh.” Tidak bisa begitu. Frasa jatuh cinta menandakan bahwa mencintai seseorang adalah sebuah hal yang terjadi pada Anda dan bukan suatu hal yang terjadi oleh Anda. Begitu pula iman. Anda iman kepada Islam adalah sesuatu hal yang terjadi pada Anda dan bukan sesuatu yang terjadi oleh Anda.
Namun, di mana peran akal? Dengan menggunakan akal, tampak apa yang saya katakan baru saja tidak benar. Dengan akal, Anda merasa bahwa mengimani sesuatu adalah benar-benar pilihan. Dengan akal, Anda dapat menentukan mana yang patut dipercayai dan mana yang tidak. Anda bisa melakukan analisis. Hasil analisis tersbutlah yeng membuat Anda menjadi subjek yang aktif dalam memilih suatu iman.
Tapi benarkah demikian? Bukankah akal hanya menggunakan nilai-nilai yang ada untuk mengambil suatu kesimpulan logis. Akal selalu bekerja dengan asumsi sebagai premis dasarnya. Asumsi-asumsi ini adalah nilai-nilai yang telah ada dalam diri Anda. Anda tidak bebas untuk memilih nilai-nilai ini karena sebab yang telah saya kemukakan sebelumnya. Kebebasan yang dimiliki akal adalah proses deduksi dari nilai-nilai itu.
Proses deduksi inilah yang sepenuhnya Anda kuasai. Namun ini tidak berarti bahwa Anda menjadi bebas memilih iman. Karena tanpa adanya nilai-nilai sebagai asumsi tadi, Anda tetap tidak akan mengambil kesimpulan bahwa suatu keyakinan adalah paling baik di antara keyakinan-keyakinan lainnya.
Dengan demikian, jalan yang harus yang ditempuh dalam menemukan suatu keyakinan yang benar adalah melepaskan diri dari nilai-nilai yang telah jadi dalam diri Anda. Anda harus mempertanyakan segala nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh lingkungan Anda dari sejak Anda kecil.
Jika Anda ingin menggunakan akal, maka pertama sekali, Anda harus mempertanyakan asumsi-asumsi yang Anda miliki. Cara kerja akal tetap, tidak berubah. Hanya asumsi-asumsi yang berubah.
Untuk itu, Anda harus menjadi seorang filosof terlebih dahulu. Seorang filosof adalah orang yang sering mempertanyakan nilai-nilai yang biasanya sudah dianggap benar dalam masyarakat.
Jika Anda telah mencapai nilai-nilai yang benar, maka Anda dapat memutuskan keyakinan mana yang benar berdasarkan nilai-nilai yang Anda miliki tadi. Tapi di sini, Anda bukan berhenti pada suatu keadaan iman. Di sini, Anda beropini.
Nah, akhirnya saya ingin mengatakan bahwa iman akan selalu bersifat taklid. Taklid berarti sebuah iman, bukan merupakan sesuatu yang didapatkan dari sebuah proses berpikir logis. Iman adalah sebuah proses hati. Sebuah rasa. Sebuah keadaan di mana pertanyaan mengapa tak ada jawabannya. Kita beriman berarti kita percaya. Titik. Tidak ada pertanyaan mengapa percaya? Karena jika kita masih bisa menjawab pertanyaan itu, kita bukan mengungkapkan iman kita, tapi mengungkapkan opini kita.
Di sinilah jelas bahwa iman dan akal adalah dua hal yang terpisah. Immanuel Kant telah menyebutkan ini.
Jadi jika Ada yang mengatakan bahwa fitrah seorang manusia adalah percaya kepada Tuhan, dan seorang Atheis pun sebenarnya adalah seorang yang percaya kepada Tuhan, saya berpendapat bahwa ada kebenaran sekaligus keterburu-buruan di sana.
Pertama, benar karena setahu saya, seorang atheis adalah bukan seorang yang memiliki iman akan ketiadaan Tuhan, tapi seorang atheis adalah seorang yang beropini bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika sang Atheis itu sejak kecil dididik dalam lingkungan Theis, maka bukan tidak mungkin dalam hati terdalamnya, tersembunyi kepercayaan terhadap Tuhan. Mungkin bentuknya adalah sebuah dendam atau kemarahan terhadap Tuhan.
Kedua, terburu-buru karena tidak semua manusia dididik dalam lingkungan Theis. Dengan menggunakan hipotesis yang telah saya uraikan di sini dan dengan hipotesa tambahan bahwa yang namanya fitrah adalah nilai-nilai umum yang dianut masyarakat yang diajarkan kepada seseorang sejak kecil, maka tak ada fitrah bahwa semua manusia pada dasarnya percaya kepada Tuhan. Hanya karena Theis lebih banyak dari Atheis bukan berarti bahwa fitrah manusia memang percaya akan adanya Tuhan.
Jika benar semua yang saya katakan di atas [dan saya sama sekali tidak berpretensi bahwa argumen-argumen yang saya kemukakan di sini tidak ada yang konyol], maka suatu pertanyaan yang menarik bagi saya adalah:
Jika iman bukan pilihan, jika iman adalah sesuatu yang ditimpakan kepada ktia, mengapa Tuhan menyediakan neraka dan surga? Ini sama saja dengan membuat sebuah karakter jahat dan menghukum karakter itu karena jahat, padahal dia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berada dalam kebaikan.
Pertanyaan ini telah berusia lama dalam benak saya. Dalam contohnya yang lain adalah sebuah keheranan mengapa saya yang melihat secara logis bahwa hantu tidak ada masih merasakan bulu kuduk merinding setelah menonton film hantu.