Story of Thoughts


Golput boleh jadi adalah masalah politik. Tapi, golput bisa jadi juga adalah masalah statistik. Tapi saya tidak ingin dianggap mendukung golput. Beberapa argumen yang saya sampaikan di sini akan jadi mentah bila tulisan ini dianggap sebagai propaganda mendukung golput. Pemilu legislatif sudah lewat, kan? Setidaknya orang masih belum panas untuk pemilu presiden nanti.

Saya tidak mengatakan saya anti politik. Saya hanya tidak tertarik. Tapi ketidaktertarikan saya tidak terlalu penting. Jadi, kemarin saya datang juga ke TPS dan memilih. Partai yang saya pilih? Partai yang suka-suka saja. Tidak terlalu penting. Mengapa?

Anda memiliki satu suara bukan?Adakah kemungkinan satu suara mengubah hasil pemilu? Jawabannya ada. Berapa besar? Tidak terlalu besar.

Dari dulu saya berpikir bahwa jika saya tidak memilih, itu karena saya menganggap saya tidak memiliki arti apa-apa dalam pemilu ini. Wong saya cuman punya satu suara. Kalo saya punya 300 ribu suara, nah saya baru akan ikut pemilu.

Tapi orang yang saya bicara akan bilang selalu bahwa suara saya yang tidak dipakai itu sayang. Nanti bakal kurang satu suara. Nah, argumen yang melankolis dan bukan logis, jadi tak perlu ditanggapi.

Ada juga yang bilang seperti ini, “iya, itu sampean sendiri, coba kalo ada seribu, sejuta orang yang berpikir seperti sampean, toh hasilnya signifikan juga kan!”.

Nah lho, kalo pun seribu, sejuta orang berpikir seperti saya, toh itu bukan salah saya. Yang seribu itu akan milih atau nggak toh bukan saya yang nentukan, Jadi, tetap saja saya tak ada andil. Saya cuman wong cilik toh. Jumlahnya satu. Cuman satu. Ketiup angin juga terbang hilang.

Nah, jadi, ada beberapa kali pemilu saya golput karena memang merasa suara saya tak ada artinya. Sebenarnya ada jawaban yang lebih menantang: memilih itu adalah menggunakan hak, menunjukkan bahwa kita peduli, dan bahwa kita ikut berpartisipasi dalam suatu penyelenggaraan pesta demokrasi. Kalo begini jadinya, ini masalah intern ke dalam diri kita masing-masing. Toh saya akan tetap keukeuh, hasilnya tak berarti.

Ah, kau, ingat dong kata Paulo Coelho: “Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bekerja sama mewujudkannya.”

Hmmm, itu masih di luar ilmu saya mas. Yang jelas, ini bukan propaganda golput dan sebagai catatan, saya memilih pada pemilihan legislatif kemaren.

Tapi memang kadang-kadang saya merasa ada yang sembunyi-sembunyi di balik apa yang terlihat…

Adakah bedanya manusia dan batu? Pertanyaan yang mungkin bodoh untuk ditanyakan. Tapi, pernahkah Anda berpikir bahwa mungkin saja jawaban yang biasa dilontarkan sebenarnya bukanlah jawaban yang tepat. Sesuatu yang jelas itu mungkin saja mengandung kesalahan yang dilupakan atau tak disadari.

Bedanya banyak, salah satunya adalah antara hidup dan mati. Tapi apakah hidup?

Beda lainnya adalah keberadaan akal dan tidak. Tapi, apakah akal?

Saya yakin, dua pertanyaan terakhir tidak terlalu mudah untuk dijawab jika kita mau berpikir sedikit lebih teliti. Lalu, jika jawaban dua pertanyaan itu tadi tidak begitu mudah dijawab, bukankah dengan demikian pertanyaan awal tadi juga menjadi tidak mudah untuk dijawab?

Saya mungkin telah berpikir terlalu rumit. Saya mungkin telah mengada-ada. Tapi akhir-akhir ini, saya merasa tak berbeda dengan sebuah batu.

Yang menarik, kesadaran itu sungguh-sungguh membuat saya bahagia. Bukan bahagia karena memiliki banyak hal. Tapi bahagia karena merasa tak menginginkan apa-apa.

Tampaknya tanggung sekali. Setelah menulis tulisan sebelum ini, saya mungkin juga harus menanyakan salah satu pertanyaan yang sudah lama mengeram di benak saya. Banyak sekali orang yang pernah mengajukan jawaban terhadap pertanyaan ini. Tapi tak ada yang memuaskan saya sama sekali. Ini pertanyaan yang mirip dengan yang ditanyakan oleh tokoh utama dalam novelnya Sommerset Maugham berjudul “The Razor’s Edge”.

Jika Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa masih ada penderitaan di muka bumi ini?

Hari ini saya shalat jum’at di Salman. Di tengah-tengah khutbah, khotib berbicara tentang kebebasan yang diberikan oleh Islam dalam memilih agama. Islam tak pernah memaksa orang untuk memeluk Islam. Jika Anda yakin silahkan. Jika tidak silahkan.

Saya berpikir bahwa keyakinan bukanlah suatu keputusan. Iman atau tidaknya kita, tidak bergantung kepada suatu keputusan yang perlu diambil. Saya juga tidak yakin bahwa kita bisa memilih apa yang kita yakini. Keyakinan atau iman ada dalam diri kita sebagai sebuah hasil dari kehidupan kita.

Jika sejak lahir kita telah berada dalam lingkungan Islam, maka kita diindoktrinasi dengan segala nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, keyakinan terhadap Islam sebenarnya telah dibenamkan dalam diri kita sejak kecil. Jika pun ada kasus ketika setelah dewasa, seseorang menjadi tidak yakin, itu pun bukan sebuah proses yang sesaat. Kita tidak memilih suatu keyakinan.

Contoh sederhananya seperti ini. Jika datang kepada Anda seorang yang baru Anda kenal dan berkata bahwa dia telah kehilangan dompet, dan tak punya ongkos pulang, apakah Anda akan percaya?

Anda mungkin bisa memutuskan saat itu untuk memberi uang atau tidak. Tapi, keyakinan Anda bahwa orang itu adalah seorang yang jujur atau tidak sama sekali bukan diputuskan pada saat itu.

Anda memiliki pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah nilai-nilai yang Anda YAKINI. Nilai-nilai ini ada dalam diri Anda akibat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan cara Anda dididik sewaktu kecil, lingkungan tempat Anda besar, pendidikan yang Anda tempuh dan lain sebagainya. Seluruh nilai-nilai yang ada dalam diri Anda, yang membantu Anda untuk membuat keputusan adalah bukan hasil yang diperoleh sesaat.

Nah, jika demikian adanya, iman seseorang juga tidak diperoleh dari hasil sesaat. Lebih jauh, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi nilai-nilai yang Anda miliki, maka iman juga bukan merupakan suatu hasil keputusan yang bebas. Jika Anda berada dalam kebebasan memilih iman, maka Anda bisa saja beriman hari ini pada agama Islam dan besok berimana pada agama Kristen. Tapi kenyataannya tidak demikian bukan? Anda tidak bisa berpindah iman seperti Anda membalikkan telapak tangan.

Jadi, iman bukanlah suatu hal yang diputuskan. Sama dengan cinta. Anda tidak memutuskan untuk mencintai seseorang. Anda ‘ditimpa’ oleh rasa cinta terhadap seseorang. Anda tidak bisa berkata “ah, saya jatuh cinta hari ini kepada si A, tapi besok nggak dulu cinta deh.” Tidak bisa begitu. Frasa jatuh cinta menandakan bahwa mencintai seseorang adalah sebuah hal yang terjadi pada Anda dan bukan suatu hal yang terjadi oleh Anda. Begitu pula iman. Anda iman kepada Islam adalah sesuatu hal yang terjadi pada Anda dan bukan sesuatu yang terjadi oleh Anda.

Namun, di mana peran akal? Dengan menggunakan akal, tampak apa yang saya katakan baru saja tidak benar. Dengan akal, Anda merasa bahwa mengimani sesuatu adalah benar-benar pilihan. Dengan akal, Anda dapat menentukan mana yang patut dipercayai dan mana yang tidak. Anda bisa melakukan analisis. Hasil analisis tersbutlah yeng membuat Anda menjadi subjek yang aktif dalam memilih suatu iman.

Tapi benarkah demikian? Bukankah akal hanya menggunakan nilai-nilai yang ada untuk mengambil suatu kesimpulan logis. Akal selalu bekerja dengan asumsi sebagai premis dasarnya. Asumsi-asumsi ini adalah nilai-nilai yang telah ada dalam diri Anda. Anda tidak bebas untuk memilih nilai-nilai ini karena sebab yang telah saya kemukakan sebelumnya. Kebebasan yang dimiliki akal adalah proses deduksi dari nilai-nilai itu.

Proses deduksi inilah yang sepenuhnya Anda kuasai. Namun ini tidak berarti bahwa Anda menjadi bebas memilih iman. Karena tanpa adanya nilai-nilai sebagai asumsi tadi, Anda tetap tidak akan mengambil kesimpulan bahwa suatu keyakinan adalah paling baik di antara keyakinan-keyakinan lainnya.

Dengan demikian, jalan yang harus yang ditempuh dalam menemukan suatu keyakinan yang benar adalah melepaskan diri dari nilai-nilai yang telah jadi dalam diri Anda. Anda harus mempertanyakan segala nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh lingkungan Anda dari sejak Anda kecil.

Jika Anda ingin menggunakan akal, maka pertama sekali, Anda harus mempertanyakan asumsi-asumsi yang Anda miliki. Cara kerja akal tetap, tidak berubah. Hanya asumsi-asumsi yang berubah.

Untuk itu, Anda harus menjadi seorang filosof terlebih dahulu. Seorang filosof adalah orang yang sering mempertanyakan nilai-nilai yang biasanya sudah dianggap benar dalam masyarakat.

Jika Anda telah mencapai nilai-nilai yang benar, maka Anda dapat memutuskan keyakinan mana yang benar berdasarkan nilai-nilai yang Anda miliki tadi. Tapi di sini, Anda bukan berhenti pada suatu keadaan iman. Di sini, Anda beropini.

Nah, akhirnya saya ingin mengatakan bahwa iman akan selalu bersifat taklid. Taklid berarti sebuah iman, bukan merupakan sesuatu yang didapatkan dari sebuah proses berpikir logis. Iman adalah sebuah proses hati. Sebuah rasa. Sebuah keadaan di mana pertanyaan mengapa tak ada jawabannya. Kita beriman berarti kita percaya. Titik. Tidak ada pertanyaan mengapa percaya? Karena jika kita masih bisa menjawab pertanyaan itu, kita bukan mengungkapkan iman kita, tapi mengungkapkan opini kita.

Di sinilah jelas bahwa iman dan akal adalah dua hal yang terpisah. Immanuel Kant telah menyebutkan ini.

Jadi jika Ada yang mengatakan bahwa fitrah seorang manusia adalah percaya kepada Tuhan, dan seorang Atheis pun sebenarnya adalah seorang yang percaya kepada Tuhan, saya berpendapat bahwa ada kebenaran sekaligus keterburu-buruan di sana.

Pertama, benar karena setahu saya, seorang atheis adalah bukan seorang yang memiliki iman akan ketiadaan Tuhan, tapi seorang atheis adalah seorang yang beropini bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika sang Atheis itu sejak kecil dididik dalam lingkungan Theis, maka bukan tidak mungkin dalam hati terdalamnya, tersembunyi kepercayaan terhadap Tuhan. Mungkin bentuknya adalah sebuah dendam atau kemarahan terhadap Tuhan.

Kedua, terburu-buru karena tidak semua manusia dididik dalam lingkungan Theis. Dengan menggunakan hipotesis yang telah saya uraikan di sini dan dengan hipotesa tambahan bahwa yang namanya fitrah adalah nilai-nilai umum yang dianut masyarakat yang diajarkan kepada seseorang sejak kecil, maka tak ada fitrah bahwa semua manusia pada dasarnya percaya kepada Tuhan. Hanya karena Theis lebih banyak dari Atheis bukan berarti bahwa fitrah manusia memang percaya akan adanya Tuhan.

Jika benar semua yang saya katakan di atas [dan saya sama sekali tidak berpretensi bahwa argumen-argumen yang saya kemukakan di sini tidak ada yang konyol], maka suatu pertanyaan yang menarik bagi saya adalah:

Jika iman bukan pilihan, jika iman adalah sesuatu yang ditimpakan kepada ktia, mengapa Tuhan menyediakan neraka dan surga? Ini sama saja dengan membuat sebuah karakter jahat dan menghukum karakter itu karena jahat, padahal dia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berada dalam kebaikan.

Pertanyaan ini telah berusia lama dalam benak saya. Dalam contohnya yang lain adalah sebuah keheranan mengapa saya yang melihat secara logis bahwa hantu tidak ada masih merasakan bulu kuduk merinding setelah menonton film hantu.

Apa perbedaan antara manusia dan hewan? Biasanya, orang akan menjawab, manusia memiliki akal sedangkan hewan tidak. Benarkah?

Kucing saya dulu sering masuk lewat jendela. Setelah jendela tempat dia masuk saya tutup, dia bisa mencari jalan masuk lewat atap rumah. Tidakkah dari sini dapat disimpulkan bahwa kucing juga memiliki akal?

Contoh lain, seberapa sering kita menemukan makanan dalam perangkap tikus hilang tanpa satu tikus pun terperangkap? Tidakkah tikus juga memiliki akal?

Beberapa hari yang lalu saya melewati sebuah pekuburan. Sebenarnya bukan kejadian yang jarang-jarang. Tapi, pagi itu, saya memikirkan sesuatu.

Yang saya ingat adalah pertanyaan kakak saya ketika berziarah ke makam bapak. Jika digali, apakah mayat bapak sudah tinggal tulang belulang? Saya membayangkannya.

Bapak sudah tidak ada. Tapi, apakah yang dimaksud dengan tidak ada? Selintas saya merasa sangsi bahwa sesuatu yang ada dapat menjadi tidak ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, dari ada menjadi tiada tidak berarti sesuatu itu hilang. Hal itu hanya berarti perpindahan tempat. Dia ada di sini menjadi dia tak ada di sini.

Lalu, apakah kematian itu?

Saya berpikir tentang dua jawaban. Pertama tentang ruh. Yang ada ketika seseorang hidup dan tetap ada ketika dia mati adalah ruhnya. Jasanya hancur. Jadi, kematian itu bukanlah perubahan dari ada menjadi tiada.

Kedua, saya berpikir tentang apa yang dimaksud dengan sesuatu. Kita berpikir behwa sesuatu ada. Tapi, benarkah sesuatu itu ada?

Buddha berkata bahwa tidak ada “aku”. Tidak ada ego. Setiap hari kita adalah orang yang berbeda. Kita berada dalam perubahan terus menerus. Identitas diri adalah buatan manusia. Dilihat dari sini, pernyataan bahwa sesuatu berubah dari ada menjadi tiada bukan mustahil dari sisi ada dan tiadanya, tapi dari sisi sesuatunya. Tidak ada sesuatu. Dengan demikian, memang tiada yang kita sebut ada. Jadi, dari ada menjadi tiada adalah sebuah kesalahan.

Apapun, ini hanyalah masalah sudut pandang. Yang saya dapat adalah bahwa “kita” semua adalah ahli kubur. Tubuh akan menjadi bangkai tinggal tulang belulang. Jadi, apa yang sebenarnya bisa kita sombongkan? Seseorang bisa saja berdiri di depan saya dengan kecantikan atau ketampanan, tapi suatu hari, hanya tulang belulang yang tersisa dari dirinya.

Semoga saya dapat melihat bahwa semua orang adalah sama.

Saya kadang mengambil kesimpulan terlalu dini. Alih-alih bersifat ilmiah, kesimpulan yang saya ambil hanya didasarkan pada logika yang berjalan di pikiran saya dan kepercayaan. Pengalaman mendukung alasan yang terakhir itu. Meskipun saya tahu bahwa pengalaman kadang tidak menunjukkan hal yang sebenarnya.

Sepanjang perjalanan pergi ke kantor hari ini, saya diserang kantuk yang sangat. Tadi malam saya tidur pukul satu dan hari ini bangun pukul setengah enam. Empat jam setengah untuk tidur. Walhasil, kantuk tak dapat dibendung. Di bis kota, kepala saya terantuk-antuk di udara, lepas pondasi lehernya karena kendali kesadaran dilumpuhkan kantuk.

Saya tidak takut akan rasa kantuk. Rasa itu adalah sebuah hal yang normal. Yang sedikit saya pikirkan adalah setiap kali kondisi kesadaran saya mulai terbenam ke alam tidur, sering sekali saya ditarik lagi secara mendadak ke lingkungan sadar. Hal itu terjadi karena kepala saya oleng mencari sandaran yang tak ditemukannya atau oleh sebuah suara dadakan yang hadir di telinga saya. Semua itu membuat mata saya yang sedetik sebelumnya terpejam kembali terbuka seketika. Nah, di sinilah saya merasa jantung saya berdegup kencang. Mengapa?

Saat tidur, mekanisme tubuh kita melambat. Jantung berdetak pelan dan sel-sel tubuh mulai melakukan regenerasi. Itulah mengapa tidur disebut istirahat.Tidur yang baik tentu saja adalah tidur yang nyenyak, tidak terganggu apa pun. Dengan tidur yang baik, proses istirahat menjadi berkualitas dan kita dapat menghilangkan kelelahan sehabis kerja.

Jika tidur yang terjadi adalah “tidur” sejenak yang diselang oleh proses “bangun” yang dipaksa, maka yang terjadi adalah sebuah pemaksaan terhadap tubuh. Jantung yang mulai melambat tiba-tiba dipaksa untuk kembali berjalan normal. Seluruh panca indera kita kembali reseptif terhadap segala bombardir dari luar dan kesadaran kita harus bekerja untuk memilah-milahnya. Kerja ini mengharuskan jantung berjalan normal. Itulah sebabnya jantung saya berdebar ketika kepala saya oleng. Agar tidak jatuh, secara otomatis tubuh saya bereaksi dan saya harus bangun.

Nah, suatu hari teman saya berkata bahwa dia mengantuk sekali. Saya katakan kepadanya bahwa rasa kantuk yang ditahan akan berpengaruh pada jantung. Dia menanyakan sebabnya. Saya jelaskan.

Tak pernah memang saya menemukan penjelasan seperti ini sebelumnya. Dan saya lihat teman saya tersenyum. Sambil bercanda dia berkata, “Wah, kalo begitu, harus ditidurkan nih sekarang”.

Saya tidak tahu apakah dia menerima penjelasan saya sebagai benar atau tidak. Yang jelas, saya seharusnya bisa membedakan antara mana kesimpulan ilmiah dan mana yang masih merupakan hipotesis.

Lihat posting tepat di bawah posting ini? Tadinya tulisan tidak serius ini akan diteruskan di sana. Tapi, lebih baik bikin judul baru saja. Agar lebih fokus dan bisa berganti gaya penulisan. :)

Adanya sikap pro dan kontra dalam isu UU Pornografi diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang terhadap suatu masalah. Jika ditanyakan kepada kedua kubu, apakah mereka setuju sebuah film biru ditonton anak-anak atau dijual di jalanan, saya yakin mereka sepakat untuk menolaknya. Paling jauh, orang dari kubu CON akan meminta penanya untuk mendefinisikan yang dimaksud dengan film biru. Untuk pertanyaan itu, konflik dapat dihilangkan dengan membawa satu contoh film dan menunjukkan kepada orang tersebut. Maka, pembahasan jadi akan berpindah pada masalah film yang dibawa itu adalah film biru atau bukan. Tapi tentu saja kita yakin, dalam tahap ini kedua kubu (jika memang memiliki niat yang tidak bias), akan mudah untuk sepakat dibading untuk berbeda pendapat.

Dari sana, maka kita lihat bahwa sebenarnya kedua kubu memiliki kesamaan. Mereka sama-sama menolak suatu bentuk kebejatan moral. mereka sama-sama menolak eksploitasi anak. Mereka sama-sama menolak suatu bentuk asusila terjadi di masyarakat. Mereka sama-sama memiliki niat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.

Lalu, di mana letak percik api penimbul bara?

Jika dibaca, frasa “mengesankan ketelanjangan” memang sedikit lucu. Jika dipikirkan, kata-kata “menimbulkan hasrat seksual” memang agak menggelikan. Bukan dari segi maksud yang ingin disampaikan oleh kata-kata itu. Tapi dari segi kelayakan kata-kata tersebut berada di wilayah hukum. Masalahnya bukan substansi, masalahnya ada di bahasa.

Nah, di sinilah saya melihat emosi dari kedua kubu. Pihak PRO ngotot menyangka pihak CON ingin melestarikan pornografi di masyarakat. Pihak CON menyangka bahwa pihak PRO telah menghasilkan UU yang sangat membahayakan karena meletakkan hukum di bawah platform yang bergoyang.

Kedua kelompok cenderung untuk membesar-besarkan perbedaan yang kecil dan mengecilkan kesamaan yang besar. Pihak PRO seharusnya dapat belajar untuk mengerti sifat dari hukum dan pihak CON seharusnya mengusulkan untuk mengubah redaksi dari UU dan bukannya malah menuntut untuk tidak disahkannya UU itu.

Pada akhirnya, kedua kelompok ini menunjukkan kondisi di Indonesia. Apa yang terpotret? Bahwa terdapat banyak sekali pihak yang memiliki ideologi berbeda di sini. Pihak-pihak tersebut, dalam skala “kecil”, tengah melangsungkan suatu psywar. Jika sekarang gesekan yang terjadi sudah menunjukkan bahwa mereka tidak dapat menyelesaikannya dengan kepala dingin, bukan tidak mungkin konflik yang lebih besar nanti akan terjadi. Tapi mudah-mudahan saya salah. Wong ya saya bilang juga di atas tulisan ini tidak serius kok.

Sebuah media ternyata tidak pernah bisa netral. Seperti juga manusia, sebuah media pasti memiliki sikap terhadap isu tertentu. Tidak bisa kita mengharapkan sebuah media hanya menampilkan fakta apa adanya. Bagaimanapun cara menuliskannya, sebuah fakta harus “dipotret” dari sudut tertentu. Dan sudut ini sangat mungkin dibidik dari arah yang subjektif.

Koran Tempo hari ini menunjukkannya. Sikap TEMPO GROUP memang sudah jelas. Mereka menentang pengesahan RUU Pornografi. Dan ini ditunjukkan dengan headline hari ini.

Koran Tempo menuliskan pasal-pasal yang menjadi sengketa di dalam UU Pornografi. Kutipan pasal-pasal ini juga disertai dengan alasan mengapa pasal-pasal ini “bermasalah”. Dalam snapshot beritanya, dipilih berita penolakan dari beberapa daerah. Dari semua komponen berita itu, jelas Koran Tempo ingin menunjukkan bahwa pengesahan UU Pornografi adalah sebuah kesalahan.

Mari bandingkan dengan Pikiran Rakyat (PR). Berita pengsahan UU Pornografi di PR tidak mendapat tempat utama. Dari uraian yang dituliskan, PR lebih cenderung untuk bersikap “diam”. Beritanya tampak datar namun tetap saja bahwa sudut yang diambil mengesankan bahwa PR bersikap mendukung pengesahan UU Pornografi. Dengan “diam”nya, PR memilih untuk tidak menunjukkan adanya gejolak dalam isu ini. Dan ini bisa saja merupakan indikasi dari pilihan sikap PR tersebut.

Pernahkah Anda merasa mengerti tindakan seseorang. Anda mengamati dan mengambil kesimpulan lalu berkata dalam hati, “Ah, pasti dia berbuat hal itu karena alasan ini dan ini.” Tak ada keraguan dalam benak Anda.

Tahukah Anda, bahwa kadang kita merefleksikan kepribadian kita sendiri kepada orang lain? Itulah yang membuat Anda kadang merasa mengerti tindakan orang lain.

Teman saya pernah dituduh bahwa kebaikannya dilakukan tidak tulus. Dia dianggap mengharapkan imbalan. Kepada teman itu saya bilang, orang yang menuduhnya berkata begitu karena jika dia berbuat baik, dia selalu mengharapkan imbalan. Jika Anda selalu mengharapkan imbalan akan segala kebaikan yang Anda lakukan, maka Anda cenderung akan percaya bahwa orang lain juga begitu, tidak mungkin tidak.

Jadi, ketika Anda menduga-duga sifat seseorang, cek lah lagi. Siapa tahu Anda sebenarnya sedang menggambarkan sifat Anda sendiri.

Next Page »