Story of Linux


Setelah membantai isi yang tak perlu di dalam hardisk, akhirnya memiliki sisa ruang 6GB. Hmm, install Slackware dan menjadikan komputerku triple boot: XP, Ubuntu, dan Slackware. Namun, ternyata tidak mudah. Pertama kali install, tidak tahu harus install lilo atau tidak. Karena menganggap sudah ada Grub di MBR hasil instalasi Ubuntu, akhirnya memilih skip install lilo. Eng ing eng, setelah reboot, Grub error 15. Wah gawat!!!

Karena belum paham bagaimana menginstall balik grub dengan cd live ubuntu, akhirnya pake cd Windows dulu dan repair pake fixmbr dulu. Nah, bisa masuk windows dan langsung googling.

Ok, dapat cara install balik grub, meskipun beberapa kali harus menempuh cara yang panjang (sempet install lagi ubuntu di partisi yang tadinya dipakai buat slackware biar grub-nya ke install– fyuhh).

Setelah grub-nya baik lagi, install ulang lagi Slackware-nya. Kali ini, yakin buat install lilo di partisi root Slackware.

Selesai dan tadaaa, grub tidak hilang tapi tentu saja tidak ada entri buat boot Slackware. Masuk ke ubuntu dan edit menu.lst di /boot/grub/. Tambahkan entri buat booting ke partisi Slackware dan akhirnya dengan manis, slackware pun muncul!!

Kesimpulan: kalo mau install slackware di komputer yang udah pake Grub di Master Boot Record-nya, pilih install lilo-nya di partisi root Slackware.

Tujuan henda melakukan update dengan “sudo apt-get update” di Damn Small Linux, tapi ternyata selalu mendapat pesan bad request. Ternyata koneksi internet via shell tidak melakukan prompt username dan password untuk proxy server. Setelah Googling akhirnya dapet juga caranya:

export http_proxy=http://username:password@proxy-url:port

Di Ubuntu 9.04, tak ada file /etc/inittab. Setelah googling, ternyata file ini diganti oleh sekumpulan file di /etc/event.d, yang disebut upstart. Yang lucu, katanya hal ini sudah dilakukan sejak Ubuntu 6.04, padahal saya hendak melakukan cek isi file inittab karena membaca suatu buku Linux yang saya anggap masih baru. Ternyata perkembangan Linux begitu cepat sehingga buku pegangannya pun kadang cepat menjadi ketinggalan jaman. [Setelah di-cek ternyata buku yang saya baca keluaran tahun 2006]

alias digunakan untuk membuat padanan suatu perintah. Namun, padanan yang kita buat akan hilang jika session kita di terminal berakhir. Untuk membuatnya permanen, kita bisa meng-edit file .bashrc yang ada di /home/[username]/.

Ada baiknya juga jika kita membuat file tersendiri yang membuat seluruh perintah padanan yang kita buat. File itu dapat diberi nama .bash_aliases dan diletakkan di direktori /home/[username]/ juga. Sebelumnya, hilangkan dulu comment dari baris-baris berikut di dalam file .bashrc

if [ -f ~/.bash_aliases ]; then
. ~/.bash_aliases
fi

Perubahan baru terasa setelah kita exit dan masuk lagi ke terminal [ada yang tahu gimana cara restart tanpa meninggalkan terminal?]

Tadi main-main ke www.kernel.org dan menemukan di archive mereka linux versi 0.01. Jumlah filenya sedikit sekali. Hanya ada 88 file dengan keseluruhan ukuran hanya 230KB!

Jika saya tidak salah menduga, inilah linux yang pertama kali dilempar oleh Linus ke dunia maya dan menjadi awal dari sistem operasi yang bergambar penguin ini (Tux).

Untuk orang yang ingin belajar sistem operasi, ini tentu harta yang luar biasa. Di mana lagi seseorang dapat belajar sesuatu yang kompleks seperti sebuah sistem operasi dari awal, selain di linux tentu saja.

Viva Open Source!!