Story of Internet


Tujuan henda melakukan update dengan “sudo apt-get update” di Damn Small Linux, tapi ternyata selalu mendapat pesan bad request. Ternyata koneksi internet via shell tidak melakukan prompt username dan password untuk proxy server. Setelah Googling akhirnya dapet juga caranya:

export http_proxy=http://username:password@proxy-url:port

What’s fascinating about the world is that you almost always, if you are persistent enough, get alternatives for nearly everything. Here are alternatives for our beloved friend Google:

Bing: http://www.bing.com/

Cuil: http://www.cuil.com/

Or maybe:

Freebase: http://www.freebase.com/

Sebenarnya tidak harus selalu mengikuti teknologi terbaru, apalagi dengan membelinya /*jika urusannya gadget, seperti Blackberry*/. Tapi ke mana saja selama ini, jika HTML ternyata telah sampai ke versi 5. Sebuah link bagus yang mendemonstrasikan HTML 5:

http://9elements.com/io/projects/html5/canvas/

Dan sebuah tutorial mengenai <canvas> dari Mozilla:

https://developer.mozilla.org/en/Canvas_tutorial

Ternyata internet lebih dahsyat daripada handphone. Handphone memangkas ruang sementara internet memangkas ruang dan waktu. Lewat facebook saya menemukan kembali teman-teman lama. Tapi, apakah ini nyata?

Dulu dan sekarang ternyata beda. Medium yang dulu dipakai berinteraksi kini tergantikan. Apa yang sebenarnya kita rindukan? Sosok seseorang, perbincangan dengannya ataukah suatu momen kebersamaan?