Story of Sports


saya ingat dulu bertanya kepada diri sendir apakah mental yang kita gunakan saat berolahraga mencerminkan mental kita di dunia sehari-hari. saya juga ingat dulu saya harus melewati standar lari 6 keliling lapangan sepakbola dalam waktu sekian menit untuk mendapatkan nilai bagus. saya berlatih dengan berlari pagi. suatu kali, setelah memasang target tertentu, saya merasa kelelahan yang sangat di tengah jalan. saya terus mendorong diri saya untuk menyiksa diri agar dapat mencapai tujuan. tapi semakin lama tampak bahwa saya semakin payah. akhirnya saya berhenti dan mengambil napas panjang. saat itulah kekecewaan besar datang pada diri saya. saya telah kalah.

saya tidak tahu apakah pernyataan teman saya benar bahwa ada perbedaan antara mental yang digunakan saat berolaraga dan dalam kehidupan sehari-hari. yang saya tahu, ketika berjuang dan berhenti karena tak tahan menahan rasa tak nyaman telah membuat saya mengetahui nikmatnya keluar dari rasa tak nyaman itu. jadi, ketika saya berada di suatu keadaan tak nyaman, saya akan selalu cenderung untuk keluar meskipun tujuan yang saya ingin raih belum tercapai. itu artinya saya kalah.

hari ini saya menguji mental saya lagi dalam sebuah pertandingan olahraga. ternyata, saya belum memiliki mental juara. saya masih bisa gugup dan sembrono ketika lawan berada di atas angin. saya pikir, saya harus bisa dewasa dan melihat semuanya dengan ringan. lawan saya tampak lebih memiliki perasaan ringan tanpa beban. meskipun akhirnya saya menang, saya merasa bahwa kali ini saya menang karena keberuntungan berada di pihak saya. tak lengkap rasanya menjadi juara tanpa memiliki mental seorang juara.

Timnas Italia tidak lagi ditangani oleh Roberto Donadoni di masa mendatang mulai hari ini setelah keluar keputusan pemecatan dari FIGC, demikian informasi yang disebarkan [BBC]

Jika menang adalah sebuah keberhasilan dan kalah adalah sebuah kegagalan, betapa menakutkan olahraga jadinya. Kecuali tentu saja jika tanpa embel-embel profesional.