Story of Religion


Baru saja selesai membaca buku “Ahmad Khan, Bapak Tafsir Modernis” karangan Taufik Adnan Amal, terbitan Teraju, Mizan. Cukup menarik dan beberapa pemikiran di sana cocok dengan yang saya sepakati. Namun memang pemikiran ini cukup kontroversial seperti yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal di Indonesia.

Khan menegaskan pentingnya akal dalam menafsirkan Qur’an. Di sini, Khan bahkan sampai kepada metode “ekstrim” dengan menafikan hadits meskipun Khan sendiri menolak untuk dianggap sebagai seorang yang ingkar terhadap hadits. Menurut telaahnya, sangat sulit untuk membuktikan bahwa hadits-hadits yang ada sekarang adalah shahih. Dengan metode ketat, Khan menyebutkan bahwa hanya terdapat 5 hadits saja yang bisa dikatakan shahih.

Oleh karena itu, Khan kembali pada Al-Qur’an. Namun, kembali pada Qur’an mengharuskan Khan untuk membaca kita suci ini dengan menggunakan akal. Kajian filologis yang dilakukannya menunjukkan bahwa sangat riskan untuk mendasarkan tafsir Qur’an berdasarkan makna bahasa yang diwarisi dari jaman nabi. Tak ada seorang pun yang menjamin bahwa pemaknaan yang ada sekarang adalah pemaknaan yang cocok dengan pemaknaan pada saat nabi hidup. Hal ini dikarenakan sifat alamiah dari bahasa yang terus berubah.

Oleh karena itu, Khan menegaskan bahwa untuk menafsirkan Qur’an, kita harus mencari penjelasan di dalam Qur’an sendiri dan dari alam semesta, dari hukum-hukum alam. Khan banyak mengajukan argumen rasional yang terkadang memang besifat spekulatif. Khan mengingkari keberadaan mu’jizat dan menafsirkannya dengan spekulasi normatif.

Prinsip dasar Khan dalam menafsirkan Qur’an adalah conformity to nature. Antara alam semesta dan Qur’an, dua-duanya tak mungkin saling bertentangan. Oleh karena itu, jika ada wakyu yang bertentangan dari hukum alam objektif yang telah mapan, Khan mengatakan bahwa pemaknaan atas wahyu tersebut adalah salah. Bukan wahyu itu sendiri.

Tampaknya tanggung sekali. Setelah menulis tulisan sebelum ini, saya mungkin juga harus menanyakan salah satu pertanyaan yang sudah lama mengeram di benak saya. Banyak sekali orang yang pernah mengajukan jawaban terhadap pertanyaan ini. Tapi tak ada yang memuaskan saya sama sekali. Ini pertanyaan yang mirip dengan yang ditanyakan oleh tokoh utama dalam novelnya Sommerset Maugham berjudul “The Razor’s Edge”.

Jika Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa masih ada penderitaan di muka bumi ini?

Hari ini saya shalat jum’at di Salman. Di tengah-tengah khutbah, khotib berbicara tentang kebebasan yang diberikan oleh Islam dalam memilih agama. Islam tak pernah memaksa orang untuk memeluk Islam. Jika Anda yakin silahkan. Jika tidak silahkan.

Saya berpikir bahwa keyakinan bukanlah suatu keputusan. Iman atau tidaknya kita, tidak bergantung kepada suatu keputusan yang perlu diambil. Saya juga tidak yakin bahwa kita bisa memilih apa yang kita yakini. Keyakinan atau iman ada dalam diri kita sebagai sebuah hasil dari kehidupan kita.

Jika sejak lahir kita telah berada dalam lingkungan Islam, maka kita diindoktrinasi dengan segala nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, keyakinan terhadap Islam sebenarnya telah dibenamkan dalam diri kita sejak kecil. Jika pun ada kasus ketika setelah dewasa, seseorang menjadi tidak yakin, itu pun bukan sebuah proses yang sesaat. Kita tidak memilih suatu keyakinan.

Contoh sederhananya seperti ini. Jika datang kepada Anda seorang yang baru Anda kenal dan berkata bahwa dia telah kehilangan dompet, dan tak punya ongkos pulang, apakah Anda akan percaya?

Anda mungkin bisa memutuskan saat itu untuk memberi uang atau tidak. Tapi, keyakinan Anda bahwa orang itu adalah seorang yang jujur atau tidak sama sekali bukan diputuskan pada saat itu.

Anda memiliki pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah nilai-nilai yang Anda YAKINI. Nilai-nilai ini ada dalam diri Anda akibat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan cara Anda dididik sewaktu kecil, lingkungan tempat Anda besar, pendidikan yang Anda tempuh dan lain sebagainya. Seluruh nilai-nilai yang ada dalam diri Anda, yang membantu Anda untuk membuat keputusan adalah bukan hasil yang diperoleh sesaat.

Nah, jika demikian adanya, iman seseorang juga tidak diperoleh dari hasil sesaat. Lebih jauh, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi nilai-nilai yang Anda miliki, maka iman juga bukan merupakan suatu hasil keputusan yang bebas. Jika Anda berada dalam kebebasan memilih iman, maka Anda bisa saja beriman hari ini pada agama Islam dan besok berimana pada agama Kristen. Tapi kenyataannya tidak demikian bukan? Anda tidak bisa berpindah iman seperti Anda membalikkan telapak tangan.

Jadi, iman bukanlah suatu hal yang diputuskan. Sama dengan cinta. Anda tidak memutuskan untuk mencintai seseorang. Anda ‘ditimpa’ oleh rasa cinta terhadap seseorang. Anda tidak bisa berkata “ah, saya jatuh cinta hari ini kepada si A, tapi besok nggak dulu cinta deh.” Tidak bisa begitu. Frasa jatuh cinta menandakan bahwa mencintai seseorang adalah sebuah hal yang terjadi pada Anda dan bukan suatu hal yang terjadi oleh Anda. Begitu pula iman. Anda iman kepada Islam adalah sesuatu hal yang terjadi pada Anda dan bukan sesuatu yang terjadi oleh Anda.

Namun, di mana peran akal? Dengan menggunakan akal, tampak apa yang saya katakan baru saja tidak benar. Dengan akal, Anda merasa bahwa mengimani sesuatu adalah benar-benar pilihan. Dengan akal, Anda dapat menentukan mana yang patut dipercayai dan mana yang tidak. Anda bisa melakukan analisis. Hasil analisis tersbutlah yeng membuat Anda menjadi subjek yang aktif dalam memilih suatu iman.

Tapi benarkah demikian? Bukankah akal hanya menggunakan nilai-nilai yang ada untuk mengambil suatu kesimpulan logis. Akal selalu bekerja dengan asumsi sebagai premis dasarnya. Asumsi-asumsi ini adalah nilai-nilai yang telah ada dalam diri Anda. Anda tidak bebas untuk memilih nilai-nilai ini karena sebab yang telah saya kemukakan sebelumnya. Kebebasan yang dimiliki akal adalah proses deduksi dari nilai-nilai itu.

Proses deduksi inilah yang sepenuhnya Anda kuasai. Namun ini tidak berarti bahwa Anda menjadi bebas memilih iman. Karena tanpa adanya nilai-nilai sebagai asumsi tadi, Anda tetap tidak akan mengambil kesimpulan bahwa suatu keyakinan adalah paling baik di antara keyakinan-keyakinan lainnya.

Dengan demikian, jalan yang harus yang ditempuh dalam menemukan suatu keyakinan yang benar adalah melepaskan diri dari nilai-nilai yang telah jadi dalam diri Anda. Anda harus mempertanyakan segala nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh lingkungan Anda dari sejak Anda kecil.

Jika Anda ingin menggunakan akal, maka pertama sekali, Anda harus mempertanyakan asumsi-asumsi yang Anda miliki. Cara kerja akal tetap, tidak berubah. Hanya asumsi-asumsi yang berubah.

Untuk itu, Anda harus menjadi seorang filosof terlebih dahulu. Seorang filosof adalah orang yang sering mempertanyakan nilai-nilai yang biasanya sudah dianggap benar dalam masyarakat.

Jika Anda telah mencapai nilai-nilai yang benar, maka Anda dapat memutuskan keyakinan mana yang benar berdasarkan nilai-nilai yang Anda miliki tadi. Tapi di sini, Anda bukan berhenti pada suatu keadaan iman. Di sini, Anda beropini.

Nah, akhirnya saya ingin mengatakan bahwa iman akan selalu bersifat taklid. Taklid berarti sebuah iman, bukan merupakan sesuatu yang didapatkan dari sebuah proses berpikir logis. Iman adalah sebuah proses hati. Sebuah rasa. Sebuah keadaan di mana pertanyaan mengapa tak ada jawabannya. Kita beriman berarti kita percaya. Titik. Tidak ada pertanyaan mengapa percaya? Karena jika kita masih bisa menjawab pertanyaan itu, kita bukan mengungkapkan iman kita, tapi mengungkapkan opini kita.

Di sinilah jelas bahwa iman dan akal adalah dua hal yang terpisah. Immanuel Kant telah menyebutkan ini.

Jadi jika Ada yang mengatakan bahwa fitrah seorang manusia adalah percaya kepada Tuhan, dan seorang Atheis pun sebenarnya adalah seorang yang percaya kepada Tuhan, saya berpendapat bahwa ada kebenaran sekaligus keterburu-buruan di sana.

Pertama, benar karena setahu saya, seorang atheis adalah bukan seorang yang memiliki iman akan ketiadaan Tuhan, tapi seorang atheis adalah seorang yang beropini bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika sang Atheis itu sejak kecil dididik dalam lingkungan Theis, maka bukan tidak mungkin dalam hati terdalamnya, tersembunyi kepercayaan terhadap Tuhan. Mungkin bentuknya adalah sebuah dendam atau kemarahan terhadap Tuhan.

Kedua, terburu-buru karena tidak semua manusia dididik dalam lingkungan Theis. Dengan menggunakan hipotesis yang telah saya uraikan di sini dan dengan hipotesa tambahan bahwa yang namanya fitrah adalah nilai-nilai umum yang dianut masyarakat yang diajarkan kepada seseorang sejak kecil, maka tak ada fitrah bahwa semua manusia pada dasarnya percaya kepada Tuhan. Hanya karena Theis lebih banyak dari Atheis bukan berarti bahwa fitrah manusia memang percaya akan adanya Tuhan.

Jika benar semua yang saya katakan di atas [dan saya sama sekali tidak berpretensi bahwa argumen-argumen yang saya kemukakan di sini tidak ada yang konyol], maka suatu pertanyaan yang menarik bagi saya adalah:

Jika iman bukan pilihan, jika iman adalah sesuatu yang ditimpakan kepada ktia, mengapa Tuhan menyediakan neraka dan surga? Ini sama saja dengan membuat sebuah karakter jahat dan menghukum karakter itu karena jahat, padahal dia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berada dalam kebaikan.

Pertanyaan ini telah berusia lama dalam benak saya. Dalam contohnya yang lain adalah sebuah keheranan mengapa saya yang melihat secara logis bahwa hantu tidak ada masih merasakan bulu kuduk merinding setelah menonton film hantu.

Kakak saya berkata bahwa keimanan dapat membuat seseorang kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Saya setuju. Masalahnya, apakah kakak saya mengatakan itu dengan bias terhadap satu agama tertentu? Karena bukan saja agama menuntut iman, bahkan atheisme pun menuntut iman.

Jika tidak, apakah omongan yang dilontarkan kakak saya itu berlaku juga buat seorang atheis?

Rasanya akhir-akhir ini sangat sulit untuk sholat dengan khusyu. Saya tidak tahu mengapa, padahal dulu sering merasakan kenikmatan jika shalat dengan tenang dan konsentrasi, terutama jika dilakukan ketika malam hari saat semua orang telah tidur dan rumah sepi.

Saya berpikir bahwa sholat itu seperti yoga atau meditasi. Artinya, gerakan-gerakan sholat tidak beda dengan yoga dan kekhusyukan sholat tidak beda dengan meditasi. Namun, dibandingkan dengan yoga, sholat tentu lebih mudah.

Saya tak pernah ikut yoga, tapi dulu pernah membiarkan diri saya diam dalam posisi yang “tidak enak” selama beberapa waktu. Di sana, ada perjuangan batin untuk mencapai target bertahan selama beberapa waktu. Jika target itu tercapai, dan saya tidak menyerah karena posisi yang tidak nyaman itu, saya akan merasa suatu perasaan lepas yang nikmat. Begitu pula dengan sholat. Setelah khusyu dalam sholat(maksud saya konsentrasi, karena saya mungkin salah dengan menyamakan khusyu dengan konsentrasi), terasa ada kenikmatan. Saat mata kembali terbuka dan kesadaran kembali ke “dunia”, badan terasa lepas dan segar.

Mengapa ya semua itu sekarang sangat suiit dilakukan? Apakah pikiran saya sedang diburu-buru sesuatu sekarang sehingga kadang saya sholat pun harus terburu-buru. Bahkan bacaan sholat pun seperti hanya gerakan mulut saja. Tanpa menerawang masuk ke dalam artinya.

Rasanya, saya harus mulai belajar berkonsentrasi, menenangkan diri, dan membiarkan apa pun masalah yang ada dalam pikiran berada di luar diri saya untuk sementara waktu. Saya harus bisa untuk fokus ke dalam apa yang tengah saya kerjakan. Jika itu bisa saya lakukan, mungkin saya akan bisa khusyu lagi dalam sholat dan kembali mendapatkan kenikmatan itu.

Semoga.

Well, sebenarnya agak ragu untuk menulis soal isu sensitif seperti ini. Tapi, tak apa.

Kakak saya mengajak bicara soal agama. Saya yang dulu agak-agak kiri (apa pun artinya ini), agak sedikit enggan sebenarnya. Tapi, kemudian saya terpancing.

Sebenarnya saya sudah tidak memikirkan apa yang saya pikirkan bertahun lalu. Saya sudah mengerjakan apa yang dulu saya tidak kerjakan. Saya sudah mengundang iman yang dulu saya tolak mentah-mentah. Tapi, di hadapan kakak saya, saya tergali untuk menyebutkan pikiran-pikiran saya dulu. Tentu saja saya sudah tak memikirkan hal itu lama. Dan saya harus akui, apa yang saya bicarakan kadang jadi tidakberisi.

Anyway, saya barusan mampir ke website JIL dan saya juga mencari di google tentang tanggapan kritis terhadap JIL. Saya baca dua-duanya. Saya baru tahu bahwa JIL ternyata sekeras itu. Saya membaca tulisan Ulil yang dimuat di KOMPAS yang berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Well, dengan tulisan seperti ini, saya yakin akan banyak orang yang merasa terkaget-kaget. Saya baru sadar bahwa JIL sudah mengumandangkan pikiran seperti ini secara luas.

Saya tidak akan mengatakan saya membela siapa. Ilmu saya belum cukup untuk mengatakan itu. Kadang saya ingin ada orang bijak yang muncul dan melerai apa pun perdebatan keras yang ada di bumi ini. Jika Ulil mengatakan bahwa Rasul tidak harus diikuti dan kakak saya bilang bahwa jadi sederhana saja: ikuti semua yang dicontohkan Rasul, saya pikir, setiap orang yang mendengar keduanya tanpa ilmu akan menjadi bingung. Orang biasa tak mungkin ikut berpikir. Mereka hanya akan ikut. Mereka mungkin bisa memiliki pendapat. Tapi, saya ragu mereka akan memiliki pendapat hasil pemikiran kritis mereka sendiri.

Jadi, intinya, pertanyaan besar bagi saya sekarang adalah: mengapa? Mengapa kebenaran tak menunjukkan dirinya dengan terang di muka setiap orang. Setiap pribadi tampak memiliki kebenarannya masing-masing. Atau apakah saya hanya berilusi ketika mengatakan kebenaran dengan K besar?

Dulu saya memang merindukan Kebenaran. Sekarang saya hanya ingin diam, mundur ke suatu tempat yang hening sendiri dan bertafakur, bermeditasi, merenung. Semoga Tuhan mengheningkan dunia ini dari keributan yang tiada ujung. Amin.

Empat kasunyataan mulia dalam agama Buddha: 1. Dukha, 2. Dukha itu diakibatkan oleh adanya keinginan, 3. Ada jalan keluar dari dukha dan 4. Jalan keluar itu adalah 8 jalan utama.

Dalam buku The Naked Buddha disebutkan bahwa Buddha, yang nama aslinya Siddharta Gautama, sama sekali tidak mengajarkan agama. Beliau hanya mengajarkan pencerahan yang didapatnya saat memiliki keresahan karena mempertanyakan alasan adanya penderitaan.

Dulu saya pernah mendengar kemungkinan bahwa Siddharta juga adalah nabi karena dalam agama Islam, nabi itu bisa banyak, hanya rasul yang jumlahnya 25.

Saya pernah tertarik dengan ajaran Buddha. Kadang ada persinggungan antara ajarannya dengan filsafat darlam Fisika Teori. Memang ada juga bagian dari Buddha yang tidak saya suka.

Apakah setiap agama itu sama? Dulu saya menjawab ya. Tapi, sekarang saya merasa jawaban itu terlalu naif. Ada banyak aspek yang berbeda antara satu agama dan agama lain. Tentu saja ada juga kesamaannya jika dicari-cari.

Masalah keyakinan memang sulit untuk dibicarakan. Karena kadang keyakinan itu memiliki logikanya sendiri. Membandingkan satu keyakinan dengan keyakinan lain adalah seperti menanyakan siapa yang paling hebat di antara juara catur dan juara bridge.

lafadz Allah di atas Al Azhar Cibubur

Foto ini diambil oleh ibu dari teman ponakan saya di sekolah Al Azhar Cibubur Jakarta. Saya cek di metadatanya tanggal capture dan last modified nya sama. Saya tidak paham betul mengenai metadata suatu foto digital. Jadi, saya serahkan kepada ahlinya. Mengenai foto ini, ada beberapa kemungkinan [in random order]:
1. Foto ini hasil rekayasa
2. Ini adalah kebetulan belaka
3. Ini menunjukkan kebesaran Allah
Tentu saja terserah Anda memilih yang mana.

This picture was taken by a mother of my niece’s friend in Al Azhar School, Jakarta, Indonesia. I have checked the meta data and found the capture date and the last modified date is the same. I don’t really grab this digtal data things. So. i let you decide:
1. This picture is a fake
2. Is just a coincidence
3. This really shows greatness of Allah

For you who do not know, the clouds in this picture has formed itself into words of “Allah” in the arabic letters.