Saya tidak tahu ada apa dengan sebuah relasi pertemanan yang saya pernah alami. Sewaktu SMP saya dekat dengan seorang. Bisa dikatakan ia sahabat saya. Tapi, rasanya sekarang saya tidak terlalu peduli di mana ia berada dan saya yakin ia pun tak begitu peduli. Kita saling tak punya cara untuk menghubungi masing-masing.
Di SMA, saya juga punya sahabat. Kita memang tidak selalu bersama-sama, tapi kita memiliki banyak kesamaan. Setelah lulus kuliah dan sekarang bekerja, setelah sekian puluh tahun, kok rasanya rasa persahabatan itu hilang. Kita masih berteman, tapi mungkin dia bukan lagi teman nomor satu sehingga prioritasnya dalam hidup saya berada di bawah. Begitu juga saya bagi dia mungkin.
Dari SMA, saya mulai berpikir bahwa relasi pertemanan adalah sebuah kuasi-relasi. Saya tidak yakin bahwa relasi semacam itu bakal langgeng karena teman itu pergi dan pulang. Ketika pergi, akan ada teman baru dan fokus kita berpindah. Ini bukan suatu sifat jahat. Ini sangat alamiah.
Relasi yang sebenarnya adalah hubungan cinta. Tidak harus selalu antara lawan jenis, antara anak dan orangtua, antara adik dan kakak juga. Antarteman?
Nah, ini dia inti dari tulisan ini. Rupanya, entah mengapa, relasi pertemanan yang saya jalani selalu minim secara emosional. Ikatan emosional adalah ikatan purba yang dapat menyatukan satu komunitas sehidup semati. Pada jaman modern ikatan ini dapat dilihat pada solidaritas antaranggota geng. Tentu saja saya tidak mengatakan ini positif.
Nah, sisi emosional dari hubungan pertemanan saya lah yang membuat pertemanan saya tidak bertahan lama. Pertanyaan besarnya sekarang adalah mengapa?
Jika dirunut terus ke belakang, mungkin ada hubungan dengan cara saya dibesarkan dan bagaiman relasi antaranggota keluarga saya. Tapi itu terlalu jauh dan saya tidak ingin menceritakan tentang keluarga saya. Lagi pula, siapa yang mau baca?