Story of Movies


vcb1

One thing astounding me is how Javier Bardem looks. So different from his last apperance in No Country for Old Man. Different character different impression. And as his performance was great in No Country, here too. He played as a Spanish Bohemian who was attracted to two american tourists yet can’t escape his life from the ex-wife.

Vicky Christina Barcelona wants to talk about love as usual. It tells about Vicky who is engaged to someone nice, neat, rich, bright-futured, and of course artificial. They share nothing in common about art (i guess). And Barcelone came with it’s art, painting and sculpture. About the life of Bohemian. Vicky rejected it, unlike Christina who bore some certain wilderness in her heart. Vicky knew that what she got back in America was the most reasonable life she wants. Yet, the moments with Javier (what was his name?), dragged her out from the that life, from that solid circle.

The rest of the movie pictures the restlessness of Vicky. She was more and more absorbed to the dream of different life which seemed impossible to live before. Now, his boyfriend seems shallow. The experience was great with Javier (I wish i remember his name). Yet, Vicky is not Christina. She can’t jump right out to Javier and live all that she had behind.

In  the end …

I can’t tell the end. All i can say is that the end is not that impressive. There’s something unnatural in the end. Anyway, VCB is just another drama. Talking about relationship. If the critic says  film ” Closer” is the love story for the adults, i think VCB is just another love story for teens.

7.5

xBenar yang ditulis salah seorang peresensi di koran PR, bahwa kasus dalam film ini tidak terlalu layak untuk digolongkan sebagai The X-File.

Terlepas dari itu, yang menarik untuk ditulis adalah masalah kepercayaan. Saya memilki cara untuk mengetahui apakah seseorang mempercayai kita atau tidak. Caranya adalah sebagai berikut.

Suruhlah orang tersebut untuk berdiri. Ikat tangannya ke belakang dan ikat pula kakinya di mata kaki. Setelah ikatan kencang, berdirilah Anda di belakang dia. Lalu katakan kepadanya untuk menjatuhkan diri ke belakang dan jangan khawatir karena Anda akan menangkap badannya.

Nah, jika Anda tahu bagaimana menakutkannya jatuh ke belakang tanpa tangan dan kaki kita bereaksi untuk bertahan, rasanya satu-satunya pilihan adalah tidak melakukannya atau mempercayai bahwa orang yang ada di belakang kita pasti akan menangkap badan kita.

Jika dia memilih pilihan pertama, dia tidak mempercayai kita dan sebaliknya jika dia memilih yang kedua.

Anyway, Scully yang rasional dan Mulder yang bisa menerima sedikit misteri di alam ini. Saya sedikit banyak masih berada di awang-awang mengenai masalah ini. Saya selalu berpikir bahwa kepercayaan itu, rasa percaya itu, bukan ditentukan oleh kita sendiri. Maka tepat kata “I want to believe”. Karena want menunjukkan sesuatu yang bisa tidak kita dapatkan dan dengan demikian mendapatkannya bukan sepenuhnya kuasa kita.

Pernahkah Anda berpikir bahwa seseorang mungkin saja secara rasional tidak mempercayai adanya hantu. Namun setiap kali dia berjalan di depan kuburan, tangannya gemetar dan tubuhnya berkeringat.

qsAda yang berbeda dari film James Bond kali ini. Saya tidak bilang saya penggemar yang layak untuk mengukur. Tapi, dari sekian film Bond yang pernah saya tonton, seingat saya, baru di Quantum of Solace ini Bond tidak meniduri Bond’s girl-nya.

Selain itu, meskipun sudah disebutkan oleh banyak pengamat, saya tertarik dengan karakter Bond yang lebih “manusiawi” di sini: maksudnya sisi perasaan “cinta”-nya terhadap Vesper.

Namun, dari segi cerita, ada beberapa yang agak kurang pas. Saat adegan Bond mencoba merebut Camille dari boat Jendral Medrano, Bond mendapatkan Camille dengan mudahnya. Padahal di boat Medrano ada beberapa pengawal bersenjata.

Adegan perang udara terlalu tipikal. Bond menang terlalu mudah.

Setelah jatuh, juga tidak diperlihatkan cara Bond dan Camille bisa bertahan dan menemukan danau yang dibendung Greene. Padahal mereka di tengah padang pasir.

Greene sebagai penjahat kurang seram dan kaliber dan jenis dari kejahatannya terlalu dibuat-buat sehingga tidak memberikan kesan wah dibandingkan film-film sebelumnya.

Overall, James Bond memang sebuah hiburan. Kritik apa pun tak akan mempan karena sebenarnya film ini cukup menghibur.

7.5/10

Dari semenjak terlihat posternya di koran, saya sudah gak srek dengan film ini, terutama dari kata-kata ini: “Love is like a butterfly, it can stay or it can die”. Gak ada gitu kata-kata lain? Yang bisa mati atau tinggal itu kan bukan hanya kupu-kupu, semua makhluk hidup bisa begitu. Jadi, gak ada nilainya mengatakan “love is like a butterfly.” Ini cuman contoh bagaiman sebuah kata-kata ingin ditampilkan secara puitis tapi orang yang bikinnya gak bisa bikin puisi.

Nah, sekarang saya punya kesempatan menontonnya. Dari adegan pertama semuanya tampak kacau, dibuat-buat dan dipaksakan. Adegan desi, tia dan fano bertabrakan dan seterusnya tampak sekali sangat dipaksakan. Setting yang gak jelas. Suasana yang dibuat-buat muram bikin  cape. Lagu yang terus dijejalkan seakan mengandalkan kekuatannya untuk menambah suasana muram. Dialog yang ga cerdas dan ga jelas. Permasalahan yang ga jelas, dangkal dipanjang-panjangkan. Coba, dari awal hingg pertengahan, soalnya itu-itu aja, tipikal dan ga ada pengembangannya. Terus di tengah tia lagi memiliki masalah yang sama: ibunya sekarang main sama cowo muda. Waduh, capeee deeeehhhh. Saya akhirnya berhenti menonton di tengah-tengah film.

4/10

Apa sebenarnya batasan seorang teman itu. Apakah seorang musuh yang tiba-tiba menyelamatkan nyawa kita kemudia serta merta telah menjadi teman kita?

Dulu saya berpikir bahwa saya tidak membutuhkan banyak teman. Sebaliknya, teman sekelas saya menyebutkan bahwa dia harus mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Di lain kesempatan, satu teman saya yang lain mengatakan bahwa teman itu tak perlu banyak yang penting kualitas.

Saya menemukan kata kenalan lebih tepat diperuntukkan bagi orang-orang yang saya temui setiap hari baik di kantor maupun di kampus. Memang, tak perlu dipertanyakan kesediaan mereka untuk menengok jika kita sakit, misalnya. Tapi, seorang teman bagi saya adalah lebih dari itu. Saya yakin, bahwa bagaimana pun tidak semua yang kita sebut teman akan rela mengorbankan dirinya untuk saya. Atau jangan terlalu ekstrim seperti itu lah. Katakanlah masalah uang, jika saya membutuhkan uang yang tidak sedikit, apakah setiap orang yang saya sebut teman, yang mampu membantu, akan mengulurkan sejumlah uang yang saya butuhkan? Saya ragu. Oleh karena itulah secara esensial saya bilang mereka hanyalah kenalan. Setahu saya, seorang kenalan lebih dekat dalam berbagi kesenangan dibandingkan dalam berbagi kesusahan.

Pandangan saya mengenai teman tampak memang negatif. Bukan berarti saya tidak percaya dengan kemungkinan sifat baik manusia. Masalahnya mungkin ada pada saya sendiri.

Tapi, saya juga sebenarnya mengakui kondisi lain bagi seorang teman, yaitu ketika mereka berubah menjadi sahabat. Nah, ketika saya bilang saya tidak membutuhkan banyak teman, saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa saya sangat ingin memiliki banyak sahabat.

Seorang sahabat dapat mengerti kita apa adanya. Seorang sahabat adalah orang-orang tempat kita menceritakan segala kesulitan kita. Seorang sahabat adalah orang yang kita pikirkan ketika kita membayangkan kesenangan dan kebahagiaan. Ketika saya tertawa, saya ingin berbagi tawa dengan sahabat saya. Dan saya memilikinya.

Seseorang dapat menjadi sahabat kita setelah melalui proses. Setelah kita saling mengenal dan merasa cocok, setelah kita merasa memiliki kesamaan, barulah kita bisa mengatakan bahwa kita menemukan seorang sahabat.

Seorang sahabat tidak berarti harus selalu setuju dengan pendapat kita. Dengan seorang sahabat tidak berarti kita selalu baik-baik saja. Dengan sahabat kadang kita bertengkar. Tapi dengan seorang sahabat, kita selalu ingin berbaikan lagi.

Jika Anda memiliki seorang sahabat dan Anda tak pernah bertengkar dengan sahabat Anda, mungkin sebenarnya dia bukan sahabat Anda. Dan seperti kata Manfred, kita dan sahabat kita akan “look out for each other.”

Itulah yang saya pahami mengenai sahabat.

9/10

Sapardi [kalo tidak salah] pernah bilang bahwa Pramoedya bagus ketika menulis cerpen. Karyanya yang paling bagus adalah Cerita dari Blora. Ketika Pram menulis novel, staminanya  tidak konsisten.

Nah, No Country for Old Men adalah salah satu film yang memiliki stamina yang konsisten. Cukup jarang film yang mampu membuat saya terus berada di level ingin tahu sepanjang waktu. Kadang, ada film yang mampu memberikan penasaran di beberapa bagiannya, tapi tiba-tiba menjadi tenang di bagian lain. Tapi tidak film ini.

Sepanjang film, saya benar-benar tak bisa lepas dari setiap adegannya. Sinematografi nya pun bagus. Tipe pencapaian yang menemukan ketepatan dalam penyampaian. Begitu tepat sehingga sederhana dan mudah dimengerti. Orang akan dengan mudah mengangguk untuk sesuatu yang tidak dikatakan secara gamblang. Ini membuat kita senang, bukan?

Satu keunikan dalam film ini adalah minimnya music score. Di awal, tak ada musik. Tommy Lee Jones langsung membuka dengan monolog yang menarik perhatian sembari kamera menerawang keluasan padang pasir. Di akhir film, seperti mati listrik. Tanpa ada aba-aba musik, film berhenti dan langsung dengan seribu kediaman, credit title muncul. Tak banyak sepertinya yang Joel dan Ethan Coen ingin sampaikan lewat musik.

Akting pemainnya? Jangan tanyakan. Saya sendiri simpati baik kepada si jahat maupun si baik. Akting mereka sempurna meski hanya Javier Bardem yang diganjar Oscar.

Overall, No country for Old Men adalah film yang patut ditonton. Film bagus tidak menjanjikan apa-apa kepada Anda. Namun setelah menontonnya, Anda akan dibuat penasaran untuk mengetahui siapa saja yang ada di balik pembuatan film itu.

9/10

I remember wrote something like “our life is not a movie”. Well, what would you say if it is. Ladies and Gentlemen, presenting: The Truman Show.

I like the idea. What’s the world surrounding us? What if it is a fake one. What if we are being watched all the time. What if people being sad and happy to our sadness and happiness?

I remember Matrix. It was talking also about fake and genuineness. Would like to take the pill that would bring you the truth? Even if the truth is painful? Or otherwise, you choose to stay where you are and live what you have lived.

I know some people have the answer already. But some others not. And i am with them. The big question is haunting me. Sometimes and scary.

The Truman Show: 8/10

Jujur, saya menyukai film ini. Saya menikmati menonton film ini. Komedinya membuat saya tertawa dan dramanya tidak membuat saya muak karena dilebih-lebihkan. Dari sekian banyak film Indonesia, otomatis romantis dapat saya masukkan ke dalam kategori film yang baik. Saya tentu saja tiadk memiliki kompetensi untuk menilai sebuah film secara teknis. Saya bukan orang film dan tidak mengetahui banyak mengenai ilmu perfilman. Tapi, sebagai penikmat film, saya tahu menentukan secara subjektif, mana yang bagus dan jelek.

Meskipun ada beberapa kelemahan, tapi saya ingin di sini menyebutkan alasan mengapa saya memilih film ini sebagai film yang bagus.

Pertama karena film ini bisa memotret kehidupan Indonesia. Tidak seperti film yang latah ingin meniru kehidupan barat, otomatis romantis mengangkat sosok Bambang yang lugu misalnya. Ada juga potret majalah perempuan metropolitan yang memang selalu mengangkat hal-hal penting seperti seks secara remeh-temeh. Penuh dengan tips yang jika dibaca edisi tiap bulannya, selalu membuat saya tertawa (Saya tidak membacanya, saya hanya membaca tulisan di halaman mukanya saja).

Kedua, adegan dalam film ini tidak ada yang sia-sia atau dibuat-buat. Dialognya pun tepat dan tidak mubazir. Tidak klise dan berjalan secara natural, senatural akting pemain-pemainnya. Tentu saja ini bukan sebuah masterpiece, tapi cukup melegakan bahwa ada film Indonesia yang bisa memiliki warna lokal seperti ini.

Ketiga, komedi dalam film ini benar-benar segar. Tidak memanfaatkan seks meskipun masih menyinggung-nyinggun soal fisik, tapi itu benar-benar tidak menjadi andalan. Tukul memang sudah memiliki trademark-nya sendiri dan ketika ketiga perempuan yang cantik-cantik itu menyebut rupa laki-laki pasangan mereka seperti binatang, itu memang mungkin bahan omongan yang mungkin terjadi dalam dunia nyata.

Nah, untuk sedikit memberikan keseimbangan, kekurangan dalam film ini adalah ada sedikit logika yang lepas. Aurel tak mungkin lepas dari pandangan mereka karena sebenarnya ia selalu diperlihatkan bersama pengasuhnya. Trisno manajemen juga agak terlalu dipaksakan. Dan saya tidak terlalu suka perubahan alasan Nadia akan keengganannya untuk tidak menikah. Pertama ia menyebut alasannya adalah karena laki-laki itu sebagian besar bejat. Tapi kemudian itu berubah. Alasannya sekarang adalah karena sebuah kutukan.

Saya ingat beberapa film lain yang juga saya nikmati. Salah satunya adalah Quickie Express. Leila S. Chudiori di Majalah Tempo tidak terlalu memberikan kritik yang positip terhadap film ini. Tapi, saya melihat inu juga film yang “baik”. Baik dalam artian secara sinematografi, terlepas dari isi film itu sendiri.

Oh ya, satu lagi. Saya lihat Marsha Timothy mendapat peran yang cocok di sini. Dibandingkan ketika ia memerankan Vega di From Bandung with Love. Tentu saja itu tidak membuat Marsha Timothy aktris yang layak mendapat piala citra, karakternya terlalu ia kenali. Ini hanyalah masalah casting yang tepat saja.

8/10

Idenya sebenernya bagus. Seorang Ve yang ingin riset tentang perselingkuhan, menemukan satu nara sumber yang tepat, tapi lalu ia sendiri terlibat dalam tarik ulur perselingkuhan. Jika diolah sedemikian rupa, ditajamkan di beberapa sisi, saya yakin, ceritanya bakal bagus.

Tapi, ya itulah, film ini jatuh pada tipikal film remaja Indonesia. Karakter Vega terlalu dimanis-maniskan. Skenario terlalu banyak yang tidak jelas, tidak mendalam dan klise. Anda mungkin akan seperti membaca kumpulan snapshot dari film lain di momen-momen tertentu dalam film ini.

Ada satu momen yang saya suka, meskipun tampaknya memang agak dilebihkan, tapi roh nya kena banget. Jika dipakai untuk adegan yang tepat, momen ini akan jadi sangat dahsyat.

Dion menelepon Ve waktu Ve siaran. Ini adegan di akhir-akhir cerita. Saat Dion bilang “Bye”, scene berpindah ke Ve dari angle yang berbeda. Seingat saya, efek seperti ini ada di film-film horor. Perpindahan yang tiba-tiba ini berhasil membuat suatu efek kaget (seperti yang terjadi pada film horror). Namun di sini, efek kaget ini dirasakan oleh Ve karena ia diputuskan oleh Dion. Dan kekagetan Ve bisa dipindahkan ke penonton dengan perpindahan mendadak scene seperti itu.

5/10

Saya pernah berpikir, mungkin suatu saat ada seorang jenius yang lahir di bumi ini dan mampu menyelesaikan situasi simalakama. Tapi saya mungkin terlalu menghayal.

Ketika Diana dan Moureen dihadapkan pada kematian, saya pikir saya bisa mengira apa yang terjadi. Well, filmnya sendiri yang mengarahkan saya ke sana. Moureen said “shoot me” dan Diana tidak mau mati.

Gambar-gambar binatang atau bunga yang dizoom tampaknya mewakili betapa berharganya hidup. Diana yang selamat, meskipun tak pernah bisa lari dari trauma, melihat hidup dari sisi yang lain setelah kejadian itu. Semuanya tampak sangat berharga. Anna yang talented dan Emma yang tak ingin ia sia-siakan. Ia melihat hidupnya sebelum kejadian itu sebagai sebuah kegagalan.

Tapi kemudian akhirnya tidak seperti itu. Diana lah yang ditembak. Nah lho, jadi ini sebenarnya ceritanya bagaimana?

Mungkin begini, The Life Before Her Eyes ingin menunjukkan bagaimana sebuah kehidupan yang mungkin terjadi. Ada saat ketika Diana bingung, ketika dia bilang “don’t kill me”, dia lantas sadar bahwa itu sama saja dengan mengatakan Moureen-lah yang harus mati. Di sini plot berhenti. Diana membayangkan bagaimana kemudian hidupnya jika Moureen mati karena dia ingin hidup.

Nah, inilah hidup yang diperankan oleh Thurman.

Plot kembali lagi setelah peringatan kejadian nahas itu. Saat itulah Diana sadar bahwa tak ada gunanya menjalani hidup yang ia bayangkan (yang diperankan Thurman tadi). Maka dia pun bilang, “shoot me”.

Well foxs, sorry to spoil the film. But, you’ll enjoy the picture anyway and Evan of course.

7.5/10

Next Page »