Apa sebenarnya batasan seorang teman itu. Apakah seorang musuh yang tiba-tiba menyelamatkan nyawa kita kemudia serta merta telah menjadi teman kita?
Dulu saya berpikir bahwa saya tidak membutuhkan banyak teman. Sebaliknya, teman sekelas saya menyebutkan bahwa dia harus mendapatkan teman sebanyak-banyaknya. Di lain kesempatan, satu teman saya yang lain mengatakan bahwa teman itu tak perlu banyak yang penting kualitas.
Saya menemukan kata kenalan lebih tepat diperuntukkan bagi orang-orang yang saya temui setiap hari baik di kantor maupun di kampus. Memang, tak perlu dipertanyakan kesediaan mereka untuk menengok jika kita sakit, misalnya. Tapi, seorang teman bagi saya adalah lebih dari itu. Saya yakin, bahwa bagaimana pun tidak semua yang kita sebut teman akan rela mengorbankan dirinya untuk saya. Atau jangan terlalu ekstrim seperti itu lah. Katakanlah masalah uang, jika saya membutuhkan uang yang tidak sedikit, apakah setiap orang yang saya sebut teman, yang mampu membantu, akan mengulurkan sejumlah uang yang saya butuhkan? Saya ragu. Oleh karena itulah secara esensial saya bilang mereka hanyalah kenalan. Setahu saya, seorang kenalan lebih dekat dalam berbagi kesenangan dibandingkan dalam berbagi kesusahan.
Pandangan saya mengenai teman tampak memang negatif. Bukan berarti saya tidak percaya dengan kemungkinan sifat baik manusia. Masalahnya mungkin ada pada saya sendiri.
Tapi, saya juga sebenarnya mengakui kondisi lain bagi seorang teman, yaitu ketika mereka berubah menjadi sahabat. Nah, ketika saya bilang saya tidak membutuhkan banyak teman, saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa saya sangat ingin memiliki banyak sahabat.
Seorang sahabat dapat mengerti kita apa adanya. Seorang sahabat adalah orang-orang tempat kita menceritakan segala kesulitan kita. Seorang sahabat adalah orang yang kita pikirkan ketika kita membayangkan kesenangan dan kebahagiaan. Ketika saya tertawa, saya ingin berbagi tawa dengan sahabat saya. Dan saya memilikinya.
Seseorang dapat menjadi sahabat kita setelah melalui proses. Setelah kita saling mengenal dan merasa cocok, setelah kita merasa memiliki kesamaan, barulah kita bisa mengatakan bahwa kita menemukan seorang sahabat.
Seorang sahabat tidak berarti harus selalu setuju dengan pendapat kita. Dengan seorang sahabat tidak berarti kita selalu baik-baik saja. Dengan sahabat kadang kita bertengkar. Tapi dengan seorang sahabat, kita selalu ingin berbaikan lagi.
Jika Anda memiliki seorang sahabat dan Anda tak pernah bertengkar dengan sahabat Anda, mungkin sebenarnya dia bukan sahabat Anda. Dan seperti kata Manfred, kita dan sahabat kita akan “look out for each other.”
Itulah yang saya pahami mengenai sahabat.
9/10