Story of Half-thoughts


Menggunakan satu sifat yang umum, saya bisa mengumpulkan semua makhluk hidup dalam satu himpunan. Jika ada yang tersinggung saya minta maaf karena ini berarti saya mengandangkan manusia dan hewan serta tumbuhan dalam satu kerangkeng. Sifat itu adalah hidup, makhluk hidup.

Saya bisa melakukan pemilahan dengan mengeluarkan semua yang ada dalam himpunan yang tidak memiliki cara untuk bereproduksi secara seksual. Dari sana, saya memiliki hewan dan manusia.

Dalam himpunan saya sekarang, teradapat laki-laki dan perempuan. Dan mereka melakukan hubungan seksual untuk tujuan dasar reproduksi: memanjangkan generasi.

Burung bernyanyi untuk menarik lawan jenisnya. Merak memiliki bulu warna-warni. Kodok berakapela.

[belum selesai]

Marcel Proust mengatakan bahwa ia harus mengambil jarak dengan teman-temannya untuk membuat tulsan yang bagus tentang teman-temannya itu. Saya tidak bisa sebebas itu dalam menulis.

Ada sebuah ketelanjangan dalam sebuah etalase. Ada yang sengaja untuk dipertontonkan ke khalayak ramai. Dan bagi saya itu adalah sebuah kengerian. Sebuah ketelanjangan. Sebuah pornografi.

Jika anda menulis, tidakkah anda sadar bahwa anda tengah menyingkapkan aurat anda? Untuk mata yang jeli dan pikiran yang tidak malas, susunan kata-kata adalah sebuah jalan masuk yang canggih ke dalam lubuk hati anda. jadi anda berhati-hatilah.

apakah ini berlaku bagi seorang penulis yang tidak jujur?

tentu saja, lagipula aib apa yang lebih  memalukkan dari telanjangnya ketidakjujuran kita di hadapan orang lain?

(tentu saja kalimat terakhir itu adalah sebuah hiperbola. dan anda boleh menilai tingkat kejujuran saya dalam menulis)

Banyak sekali yang sebenarnya bisa ditulis. Tapi, selalu menjadi masalah saya, tak bisa menulis. Yang menari itu jari-jari. Saya hanyalah merangkai. Kata-kata tidak dibentuk, tapi mengalir melalui jari-jari. Saya adalah medium tempat dunia mengekspresikan dirinya. Jadi, jika tulisan ini terlihat seperti melayang-layang, maka ada sesuatu yang tengah dikatakannya. Sesuatu itu tidak harus selalu penting. Setidaknya tidak penting buat Anda. Setiap detil dari sebuah kehidupan tidak pernah menjadi penting bagi semua orang. Dan setiap orang memiliki ketertarikannya sendiri.

Aliran ketidaksadaran dibentuk oleh sejarah. Minimal sejarah anda 24 jam ke belakang. Tapi, sejarah anda merentang tidak hanya dari semenjak anda lahir, tapi dari semenjak alam semesta ini diciptakan. dan yang lebih hebat. tidak hanya ke belakang, tapi juga ke depan. Jadi, alih-alih membayangkan hidup anda seperti halaman demi halaman buku yang dibuka. bayangkan bahwa hidup anda adalah seperti sebuah buku. sesuatu terjadi dan buku yang baru tercipta.

Anda mungkin lebih ingat daripada saya dari mana kalimat ini terkutip: “satu lemparan batu ke sebuah sungai dan alam semesta tidak lagi menjadi sepeti sebelumnya.”

ingat, anda ternyata bisa mengubah alam semesta!!

dana menulis adalah semesta yang sedang mengekspresikan dirinya melalui medium yang kita sebut anda.

Saya ingat dosen saya berbicara: bilang saja dulu bisa, lalu kerjakan. Saya juga ingat suatu kutipan dari seorang terkenal yang kurang lebih berkata yang sama. Saya selalu tidak berani melakasanakan kata-kata itu. Kecuali tentu saja ketika terpaksa.

Sebenarnya, ketika terpaksa, cerita jadi berbeda. Tidak banyak peran kita dalam membuat keputusan. Saya kenal seseorang yang banyak dalam rentangan hidupnya dia begitu lembam sehingga hampir setiap belokan yang dia ambil terjadi karena memang jalan sudah menikung ke kiri atau ke kanan. Tak ada pilihan untuk tetap lurus.

Nah, dalam keterpaksaan bisa jadi bagus. Artinya, keterpaksaan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dan kembali ke atas kapal untuk mengarungi laut yang penuh ombak. Kita bisa pulang lebih tangguh atau mati.

Suatu ketakutan bisa diakibatkan oleh hal yang sangat konyol. Karena antisipasi yang terlalu negatif atau karena ilusi yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Suatu ketakutan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang kita butuhkan. Tentu saja selama ketakutan itu wajar. Artinya, takut tersambar petir karena berada di lapangan luas saat guntur menggelegar adalah suatu hal yang baik. Tapi takut hantu di siang hari setelah menonton tiren adalah suatu kebodohan yang sebenarnya tidak seratus persen salah kita.

Jadi, ketakutan itu ada baiknya juga. Nah, ketakutan karena tidak bisa melaksanakan kata-kata dosen saya itulah yang akhir-akhir ini sering mengeram di dada. Ketakutan untuk gagal. Wajarkah itu?

Terus terang saya tidak dalam posisi untuk menjawab petanyaan itu. Seorang yang selalu melihat ke belakang takut tiren di siang hari tidak tahu bahwa ketakutannya tidak wajar. Yang saya bisa bilang adalah bahwa sepanjang waktu, yang saya lakukan untuk mengalahkan rasa takut itu adalah ini: berbincang-bincang dengannya.

Anda pernah merasakan sakit bukan? Baik itu rasa sakit karena ditusuk duri.. ataupun ditusuk “duri”. Nah, jika anda merasakannya sekali lagi, coba anda diam dan mengajak sang sakit berbincang. Anggap saja sang sakit adalah teman Anda yang telah lama tak berkunjung. Nah, jika Anda telah melakukannya, katakan kepada saya, apa yang Anda rasakan..

Mungkin… mungkin ya… mungkin anda bisa mendapatkan suatu pencerahan…

Mungkin pena atau pensil akan menjadi artifak antik di masa depan. Huruf-huruf tidak lagi disambung menggunakan kedua alat itu. Otot jari tidak lagi memiliki kemampuan menggenggamnya: ibu jari dan telunjuk tak bisa bekolaborasi menggenggam pipa kecil yang berisi tinta atau karbon itu. Yang akan menggantikannya adalah sebuah tombol-tombol kecil yang disusun berdasarkan urutan QWERTYUIOP…

Kemarin saya disuruh untuk mengarang cerita satu halaman menggunakan pensil. Mengarangnya tidak masalah, tapi yang masalah adalah, baru setengah halaman menulis menggunakan pensil, tangan saya benar-benar capek.Tangan itu, yang kanan, sudah lama tidak dibiasakan untuk menulis lagi. Sekarang, biasanya ibu jari saja yang aktif menekan tuts hp atau sepuluh jari dalam kolaborasi membuat tulisan di komputer.

Yang menjadi ironi adalah, alasan huruf-huruf di papan ketik disusun QWERTYUIOP. Anda tahu mengapa urutannya seperti itu? Itu karena urutan seperti itu akan membuat Anda sulit untuk mengetik. Ya, urutan seperti itu dibuat saat papan ketik masih merupakan antarmuka untuk papan ketik mesin yang suaranya cetak cetok itu. Jika Anda ingat jaman-jaman itu, tungkai pencetak huruf kadang saling mengait jika tangan kita terlalu cepat beruntunan menekan dua huruf. Nah, agar tidak terlalu cepat kita mengetik, dibuatlah susunan yang menghambat cepatnya pengetikkan.

Ironinya terletak di mana? Ironinya terletak di sini: Posisi ibu jari dan telunjuk saat menggenggam pulpen adalah posisi yang natural. Posisi inilah yang membuat kita menjadi makhluk yang setingkat lebih tinggi dibanding hewan lain. Posisi ibu jari dan telunjuk yang dapat saling berhadapan ini membuat kita sebagai mahluk handycraft. Kemampuan ini juga yang mengembangkan potensi dari otak kita (citation needed).

Nah, sekarang, setelah ditemukannya sang canggih komputer, kita dipaksa untuk meninggalkan posisi natural kita dalam menulis dan menggantikannya dengan posisi yang sebenarnya membuat otot tangan kita stress. Pernah dengar Carpal Tunnel Syndrom, ini adalah sebuah gejala terpelintirnya median nerve yang dapat menyebabkan melemahnya otot pada tangan (check wikipedia for sure). Salah satu penyebab dari CTS ini adalah terlalu lama mengetik dengan papan ketik komputer!!

Jadi, ya, itu ironi sebenarnya. Tapi tak usah khawatir. Mungkin saya salah. Masih akan ada pensil dan pena di masa depan. Mungkin bahkan papan ketik yang akan hilang. Di masa depan, interaksi antara komputer dan manusia akan memiliki antarmuka yang lebih human-like, dan bukan computer-like.

Memperbaiki diri bisa mulai dari mana saja. Bahkan dari cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.

Saya tengah membayangkan Batman membuka kedoknya. Meskipun saya tidak  tahu mengapa Bruce harus menggunakan kedok. Jika ada cara yang lebih baik, mengapa tidak? Meski sulit, kadang memang dengan bertahap, daya itu terkumpul pula. Seperti menabung receh di celengan. Tanpa sadar, jumlahnya sudah berkilo-kilo.

Nah, membuka kedok sama dengan membuka diri. Mengatakan kepada dunia bahwa inilah saya. Yang tersembunyi jadi tampak. Baik itu yang baik dan terutama yang jahat.

Jika kita percayabahwa intensitas sebuah relasi timbul karena tingkat kedalaman perkenalan, maka baik buruk maupun baik, harus diungkapkan. Kita bisa berenang-renang di muka laut berterumbu biru, tapi tanpa menyelam, indahnya hanya akan tinggal katanya.

Jadi, biarkan saja jadi apa pun. Di jaman ketika ide pemikiran merayakan keberagaman ini. Ketika postmodernisme mengatakan bahwa metanarasi telah jatuh. Ketika anak-anak muda kehilangan ideologi yang dapat membakar semangat. Maka, menjadi aneh bukan lagi sebuah keluarbiasaan.

Mungkin ada yang lebih lihai memotret apa yang saya perhatikan sore ini. Di angkot sehabis kerja, semua penumpang, 7 orang, yang ada di bangku depan saya, hampir semua jika tidak tidur maka mukanya terlihat kusut. Saya pun sebenarnya mengantuk. Namun, ada saat ketika saya tersenyum dalam hati memperhatikan ke-7 orang tersebut.

Bukan apa-apa, saya jadi ingat Marx ketika berbicara tentang alienasi. Pekerjaan seharusnya membuat seseorang berbahagia karena pekerjaan membuat dirinya menjadi aktual. Pekerjaan adalah identitas dirinya. Dia adalah pekerjaannya.

Namun di jaman kapitalistis sekarang ini, pekerjaan adalah sesuatu yang wajib jika kita masih ingin hidup layak (untuk sembarang orang kata layak bahkan dapat dihilangkan).

Saya membayangkan sebuah massa dengan volume besar digiring oleh kekuatan kapitalisme dari rumah, dari tempat tidur yang hangat ke tempat kerja. Mereka semua mengantuk dalam perjalanan. Setelah menjual habis seluruh pagi dan siangnya kepada para pemilik modal, mereka akhirnya pulang dengan kantuk yang kembali menagih hutang.

Di Jakarta hal ini dapat diperparah dengan kemacetan. Mereka harus membuatng-buang waktu yang berharga di jalan. Berdesakan dan berkeringant. Untuk hidup. Untuk makan.

Tidak ada tragedi dalam hal ini. Saya tidak ingin melukiskan suatu tragedi kemanusiaan. Saya hanya ingin memotret. Toh saya tahu, apakah sebelum kapitalisme muncul, orang-orang berangkat pagi atau tidak? Orang-orang mengantuk apa tidak saat pulang dan pergi.

Saya juga tidak bilang bahwa mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak berbahagia. Bahkan ada sebenarnya yang pergi ke kantor dengan semangat. Baik karena ia mencintai pekerjaannya atau karena sebab lain. Namun, tetap saja, kita bisa melihat bahwa kebanyakan orang hanyalah sebuah sekrup dalam arus besar budaya kapitalisme.

Mungkin saya harus memikirkan ulang mengenai sikap saya perihal politik. Dulu saya pikir politik itu tidak menarik sama sekali. Tidak ada sesuatu pun dari dunia politik yang menantang secara intelektual. Orang-orang hebat tidak berasal dari kalangan politik.

Beberapa waktu yang lalu saya baca mengenai caleg-caleg muda. Ada di antara mereka yang masih kuliah S1. Saya pikir, ini hal yang tak mungkin saya lakukan ketika kuliah dulu. Jangankan waktu kuliah, sekarang saja saya tak yakin saya mampu menjadi caleg.

Dalam tulisan yang saya baca itu, rata-rata mereka mengeluarkan uang minimal 25 juta untuk kampanye. Uang itu ada yang berasal dari kantong pribadi. Ada pula dari sponsor.

Menurut tulisan itu, pemilu 2009 akan memutarkan dana yang besar (saya lupa persisnya). Dengan dana yang besar itu, perekonomian kita akan naik sebesar 1%. Itu jika dana tersebut diputarkan di sektor yang produktif, seperti pembuatan spanduk, brosur, kaos, dan sembako. Sektor yang tidak produktif (atau dikatakan bukan merupakan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi contohnya iklan tv).

Jika target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5% di tahun 2009, maka 1% nya telah dicapai oleh pemilu. Namun demikian, 5% adalah nilai yang kecil karena nilai ini tidak sebanding dengan beban bangsa. Jumlah pencari kerja bertambah 2,5 juta setiap tahunnya. Dengan penghitungan kasar didapatkan bahwa setiap pertumbuhan ekonomi sebesar 1%, maka akan terserap 400 ribu pekerja. Dengan demikian, pertumbuahan 5% hanya akan menyisakan 500 ribu pekerja yang tidak terserap di lapangan pekerjaan. Dengan demikian, angka pengangguran akan meningkat di tahun 2009.

Kata orang, bingung merupakan tanda bagus karena setelah bingung akan muncul pencerahan. Tentu saja jika kita terus berusaha untuk mendapatkan pencerahan itu.

Mengerti sesuatu merupakan ganjaran yang setimpal untuk sebuah usaha belajar. Pernahkan Anda mengingat momen ketika tiba-tiba Anda berucap dalam hati “oh, begini toh.” Tiba-tiba sebuah lampu menyala dan semuanya jadi terang. Ini seperti ketika Anda tak jelas melihat sesuatu, atau ketika Anda menonton tv yang warnanya buram. Sesaat kemudian lampu menyala atau tv itu gambarnya berubah menjadi jelas. Clear. Bening.

Bukankah itu suatu momen yang menyenangkan?

Dan saya ingin sekali mengerti dunia.

Sebentar lagi tahun berganti. Saya ingat dulu ketika mengirimkan sms untuk seseorang di detik-detik pergantian tahun. Bunyi sms-nya seperti ini:

“Apa bedanya sekarang atau nanti, jika hari ini dan kemarin sama saja.”

Terlepas  dari konteksnya, saya kadang merenungi lagi kata-kata yang muncul spontan ini. Rasanya memang ada hal-hal yang tetap keukeuh keras kepala untuk tak berubah meski waktu telah menggerus-gerusnya. Jika itu kebaikan, kita harus bersyukur. Setidaknya itu adalah hal minimal yang patut kita miliki dibandingkan sebuah penurunan. Tapi jika itu adalah sebuah keburukan?

Saya tahu seseorang yang memiliki jiwa sederhana. Dia bukan orang yang di kepalanya bertengger dengan gagah prinsip-prinsip berat dan matang. Dia hanya seseorang yang mengaku dirinya tidak pintar, kadang melakukan kesalahan dan kadang ngambek jika dinasihati. Tapi, rupanya tidak sulit untuk mengajarkan kepadanya untuk menjadi lebih baik.

Kesederhanaannya membuat dia tidak gengsi untuk berubah. Dia diam-diam mengakui segala tindakan salahnya dan mau mengubah diri. Dan saya tahu, di setiap pergantian tahun, catatan perubahan baiknya semakin bertambah.

Dia tidak sempurna dan tak akan menjadi sempurna. Tapi, ketika dia tidak lagi melakukan hal-hal yang buruk, dia telah mengundang senyum di bibir saya.

Dan saya mengucap Alhamdulillah.

Next Page »