Pernah lihat mission impossible? Baik yang serial maupun yang versi bioskop. Sebenarnya sih yang serial tv lebih bagus. Ketidakmungkinan misinya tampak lebih nyata dibandingkan dengan yang versi bioskopnya. Versi bioskop terlalu mengandalkan kecanggihan teknologi. Sementara yang versi tv, selain kecanggihan teknologi, juga disertai dengan kerja sama tim yang memang luar biasa yang membuat suatu misi memang benar-benar tampak tidak mungkin.
Nah, saya tidak hendak berbicara tentang film Mission Impossible. Saya sedang ingin mengatakan bahwa teman-teman sekampus saya (dan juga saya) telah melihat bahwa untuk mengejar wisuda bulan April ini, adalah suatu hal yang tak mungkin.
Untuk mengerjakan tesis, kurang lebih waktu efektif yang dimiliki adalah sekitar satu semester, atau kurang dari 6 bulan. Bagi saya, ini adalah sebuah rentang waktu yang luar biasa pendek untuk tesis. Selain harus membuat suatu produk, kita juga harus menurunkan suatu aspek teoretis dari produk tersebut yang layak untuk dijadikan tesis ilmiah.
Bayangkan, saya yang baru mengenal dunia komputer hanya ketika masuk program master ini tentu kelabakan. Selama pengerjaan tesis, bukan saja saya buta akan topik Computer Vision, untuk penguasaan bahasa pemrograman C++ saja saya masih pemula.
Jadi, adalah hal yang sangat luar biasa jika saya dapat sidang sebelum 20 Februari ini dan dengan nilai yang memuaskan. meskipun saya pesimis karena ini adalah sebuah mission impossible, saya harus tetap berusaha. Namun, ada satu ganjalan yang mengeram di hati saya, mengapa ya, program ini seperti memaksakan diri.
Banyak teman saya sekarang yang bahkan lebih buruk pengetahuannya tentang pemrograman dari saya. Dan untuk membayangkan bahwa kita adalah mahasiswa magister, ITB pula. Bukankah ini adalah sebuah pertanda ketidakmatangan penyelenggaraan program?