Story of Days


Saya ingat dosen saya berbicara: bilang saja dulu bisa, lalu kerjakan. Saya juga ingat suatu kutipan dari seorang terkenal yang kurang lebih berkata yang sama. Saya selalu tidak berani melakasanakan kata-kata itu. Kecuali tentu saja ketika terpaksa.

Sebenarnya, ketika terpaksa, cerita jadi berbeda. Tidak banyak peran kita dalam membuat keputusan. Saya kenal seseorang yang banyak dalam rentangan hidupnya dia begitu lembam sehingga hampir setiap belokan yang dia ambil terjadi karena memang jalan sudah menikung ke kiri atau ke kanan. Tak ada pilihan untuk tetap lurus.

Nah, dalam keterpaksaan bisa jadi bagus. Artinya, keterpaksaan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dan kembali ke atas kapal untuk mengarungi laut yang penuh ombak. Kita bisa pulang lebih tangguh atau mati.

Suatu ketakutan bisa diakibatkan oleh hal yang sangat konyol. Karena antisipasi yang terlalu negatif atau karena ilusi yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Suatu ketakutan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang kita butuhkan. Tentu saja selama ketakutan itu wajar. Artinya, takut tersambar petir karena berada di lapangan luas saat guntur menggelegar adalah suatu hal yang baik. Tapi takut hantu di siang hari setelah menonton tiren adalah suatu kebodohan yang sebenarnya tidak seratus persen salah kita.

Jadi, ketakutan itu ada baiknya juga. Nah, ketakutan karena tidak bisa melaksanakan kata-kata dosen saya itulah yang akhir-akhir ini sering mengeram di dada. Ketakutan untuk gagal. Wajarkah itu?

Terus terang saya tidak dalam posisi untuk menjawab petanyaan itu. Seorang yang selalu melihat ke belakang takut tiren di siang hari tidak tahu bahwa ketakutannya tidak wajar. Yang saya bisa bilang adalah bahwa sepanjang waktu, yang saya lakukan untuk mengalahkan rasa takut itu adalah ini: berbincang-bincang dengannya.

Anda pernah merasakan sakit bukan? Baik itu rasa sakit karena ditusuk duri.. ataupun ditusuk “duri”. Nah, jika anda merasakannya sekali lagi, coba anda diam dan mengajak sang sakit berbincang. Anggap saja sang sakit adalah teman Anda yang telah lama tak berkunjung. Nah, jika Anda telah melakukannya, katakan kepada saya, apa yang Anda rasakan..

Mungkin… mungkin ya… mungkin anda bisa mendapatkan suatu pencerahan…

Rasanya kita harus berterima kasih kepada Google. Atau minimal setikdanya saya harus berterima kasih kepada Google. Banyak pekerjaan saya yang dimudahkan oleh Google dan saya tidak membayar apa pun pada Google. Ini adalah model bisnis yang tidak konvensional.

Rasanya saya tidak harus berterima kasih kepada U. Setelah bekerja dengan palu dan otonya, setelah menggeser-geser dan mendorong-dorong, dan setelah pergi pada saat selesai lalu balik lagi dengan tampang serius, dia membuat suatu kalkulasi terhadap jumlah keringat yang dicucurkannya. Tentu saya harus mengerti. Tentu saya harus merasa bahwa permintaan tolong, gotong royong dan sebagainya hanyalah sesuatu yang ada di buku ips kelas 2 SD. Tak perlu mengingat bahwa atap yang menaungi sama, tempat yang memberi kerja sama. Tak ada. Beda kepentingan ceritanya harus disambungkan dengan lembaran kertas yang ada nilainya. Bukan begitu pak ogah?

Bukannya saya tidak ikhlas. Tapi memang susah sih berbicara dengan orang yang standar moralnya ditentukan oleh uang.

Saya ingat film kungfu di RCTI. David Carradine bermonolog sambil memandang seekor laba-laba. Untuk satu mahluk hidup, ada satu dunia buat dirinya. Saat ini saya ingin mengganti dunia itu dengan sebuah gudang, atau instalasi kabel listrik di langit-langit. Untuk satu orang, ada satu instalasi kabel buat dirinya.

Berhadapan dengan siapa saja adalah sebuah proses timbal balik. Kita menari alih-alih berkelahi. Menari berarti sebuah kognisi. Kita memahami, kita dipahami, kita berubah, kita mengubah. Ada umpan balik ada respon. Kita berkolaborasi.

Tapi, bayangkan jika yang berkolaborasi adalah alien vs predator, atau kuntilanak vs pocong, dua instalasi kabel yang sama-sama semrawut. Satu keukeuh masuk lewat sini, yang lain bilang, kalau itu adalah jalan tempat keluar.

Di kepala setiap orang ada banyak yang bertengger. Siapa bilang kita adalah mahluk rasional. Setiap keputusan sepele yang kita ambil dalam hidup sehari-hari sering diambil lewat pengaruh emosi. Pada kenyataannya, proses berpikir adalah proses yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Jadi, emosi dan rasio itu tidak terbedakan.

Nah, jika dua manusia dengan pengaruh emosinya masing-masing saling bertemu, dengan pengalaman yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan riwayat yang berbeda, apa jadinya?

Saya ingin berkata bahwa bukan itu maksud saya. Tapi tentu saja saya hanyalah seorang yang secara strata akademis berada di bawah lawan bicara saya. Ada banyak asumsi yang dijelaskan tanpa saya memiliki kesempatan untuk mempertanyakan, atau bahkan untuk mengatakan bahwa tidak boleh asumsi seperti itu diambil.

Tapi karena mahluk hidup adalah suatu mahluk yang adaptif, saya membayangkan semrawutnya instalasi kabel yang mulai bergeser-geser untuk berusaha mengikuti semrawutnya instalasi kabel orang yang saya ajak bicara.

Sungguh sayang jika begitu kan? Pikiran adalah area di mana kebebasan menemukan perwujudannya yang paling penuh. Jangan tundukkan pada apa pun juga!!

Saya pun pergi sambil tertawa dalam hati.

Mungkin ada yang lebih lihai memotret apa yang saya perhatikan sore ini. Di angkot sehabis kerja, semua penumpang, 7 orang, yang ada di bangku depan saya, hampir semua jika tidak tidur maka mukanya terlihat kusut. Saya pun sebenarnya mengantuk. Namun, ada saat ketika saya tersenyum dalam hati memperhatikan ke-7 orang tersebut.

Bukan apa-apa, saya jadi ingat Marx ketika berbicara tentang alienasi. Pekerjaan seharusnya membuat seseorang berbahagia karena pekerjaan membuat dirinya menjadi aktual. Pekerjaan adalah identitas dirinya. Dia adalah pekerjaannya.

Namun di jaman kapitalistis sekarang ini, pekerjaan adalah sesuatu yang wajib jika kita masih ingin hidup layak (untuk sembarang orang kata layak bahkan dapat dihilangkan).

Saya membayangkan sebuah massa dengan volume besar digiring oleh kekuatan kapitalisme dari rumah, dari tempat tidur yang hangat ke tempat kerja. Mereka semua mengantuk dalam perjalanan. Setelah menjual habis seluruh pagi dan siangnya kepada para pemilik modal, mereka akhirnya pulang dengan kantuk yang kembali menagih hutang.

Di Jakarta hal ini dapat diperparah dengan kemacetan. Mereka harus membuatng-buang waktu yang berharga di jalan. Berdesakan dan berkeringant. Untuk hidup. Untuk makan.

Tidak ada tragedi dalam hal ini. Saya tidak ingin melukiskan suatu tragedi kemanusiaan. Saya hanya ingin memotret. Toh saya tahu, apakah sebelum kapitalisme muncul, orang-orang berangkat pagi atau tidak? Orang-orang mengantuk apa tidak saat pulang dan pergi.

Saya juga tidak bilang bahwa mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak berbahagia. Bahkan ada sebenarnya yang pergi ke kantor dengan semangat. Baik karena ia mencintai pekerjaannya atau karena sebab lain. Namun, tetap saja, kita bisa melihat bahwa kebanyakan orang hanyalah sebuah sekrup dalam arus besar budaya kapitalisme.

Di angkot saya bisa membaca.

Di angkot saya bisa bersosialisasi (baca duduk bersebelahan atau berhadapan dengan perempuan cantik :D ).

Di angkot saya bisa tidur. Bahkan salah satu kebutuhan tidur saya yang tidak terpenuhi di malam hari selalu saya tebus dengan tidur di angkot.

Menggunakan angkot saya tidak perlu takut hujan.

Menggunakan angkot saya tidak seperti membawa-bawa benda berharga yang saya simpan di tempat yang tidak bisa saya awasi.

Maghrib tadi saya shalat di Mesjid Agung Bandung. Pernah denger keluhan orang yang bilang “sekarang mah kencing aja mesti bayar”? Nah, saya jadi berpikir sama. Sekarang, buat shalat aja mesti bayar. Luar biasa.

Memang yang saya maksud bayar bukan untuk masuk ke dalam mesjid. Yang saya maksud bayar adalah untuk penitipan sendal dan toilet. Saya sebut bayar karena ternyata memang wajib bayar. Sewaktu saya menitipkan sendal bahkan si penjaganya sudah minta uang duluan. Sewaktu saya habis kencing dan saya coba lewat tanpa memberi uang, penjaganya menagih.

Besarnya tentu relatif tak seberapa, masing-masing hanya seribu. Tapi kok serasa ada unsur komersial di sana. Kotak tempat menyimpan uangnya saja bertuliskan infak. Bukankah infak seharusnya bersifat sukarela.

Sekarang bagaimana jika saya tidak punya uang sepeserpun. Apa saya lantas tidak bisa shalat di Mesjid Agung?

Oh ya bisa mas .. asal jangan kencing dulu .. asal jangan menitipkan sendal. Masa sih kayak gitu?

Aku baru sadar, bahwa ketika ngetem, supir angkot adalah orang paling sabar di dunia ini. Dan ini sangat ironis, karena dari kesabarannya ini sangat mungkin menyebabkan sang penumpang kesal. Di mana lagi ada kejadian luar biasa ini: kesabaran yang berbuah kekesalan.

Teman saya yang di Australia berteriak.. panaaaasssssssssss .. katanya, tahun ini Australia mendapatkan gelombang panas tertinggi sepanjang sejarah. Siang ketika kita chatting, suhu udara mencapa 43° C!! Lebih tinggi dari suhu tubuh manusia.

Kakak saya di Inggris mengirimkan video yang menunjukkan lapisan salju tebal. Beberapa bulan yang lalu, saat dia ada di sini, suaminya menelepon dan berkata bahwa udara sangat dingin menggigit di sana. Saya tidak tahu suhunya berapa.

Sekarang di kamar saya, lantai seperti membeku. Dingin menyelesup ke balik baju dan membelai kulit, merindingkan bulu-bulu halus di kulit. Rasanya ingin langsung tidur berselimut tebal.

Di Indonesia, banjir terjadi di mana-mana.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Hati seseorang seperti layaknya jambangan, atau porselen. Rasanya kita pernah mendengar hal seperti itu. Artinya memang kurang lebih tepat, sekali dihancurkan, mungkin tak akan lagi menjadi seperti sebelumnya. Pake lem super, sama saja. Yang pecah tetap pecah.

Nah, yang dapat memecahkan hati adalah lidah. Kali ini peribahasanya berbunyi: lidahmu harimaumu. Jika saya memelihara harimau, pelihara yang jinak saja, jangan yang suka mencakar. Kasian orang yang dicakarnya, berdarah-darah dan sakit.

Semuanya ada akibatnya. Jadi, mungkin kita harus seringkali berhenti sejenak sebelum melangkah. Siapa tahu, langkah kita yang satu, yang hanya itu, membawa kita pada suatu penyesalan. Sesuatu yang tak ada artinya.

Bukan untuk membanggakan diri, bukan pula untuk menjadi takabur, atau apa pun yang kualitas nilainya jelek. Tapi, seingat saya, sudah beberapa lama ini saya tidak merasa bersedih. Susah iya, tapi tidak sedih. Mengapa?

Alam semesta rupanya berbicara. Kata-kata rupanya berbisik-bisik di telinga saya. Banyak yang telah saya renungkan datang lagi seperti kawan lama. Dan yang luar biasa, dulu tak sehangat sekarang.

Kita mengudap penganan manis dan menyeruput kopi plus susu. Tertawa dan berbusa-busa bercerita. Lalu, kita sepakat tentang suatu hal dan tak berdebat. Seperti ada yang diembuskan ke dalam dada, dan itu tegak berdiri di sana.

Mereka akhirnya berbentuk juga. Dan tak ada alasan untuk bersedih.

Dan saya akhirnya menemukan juga jawabannya.

Next Page »