Story of Books


Setelah putus asa membaca buku kecil mengenai Richard Rorty kemarin, saya berpindah ke buku kecil yang membahas Heidegger. Alhamdulillah, inilah buku yang enak untuk dibaca. Penulisnya Donny Gahral Adian, seorang dengan gelas master di bidang filsafat dari Universitas Indonesia.

Literatur filsafat berbahasa Indonesia tidaklah banyak. Akibatnya, banyak orang yang menekuni filsafat membaca buku-buku filsafat berbahasa asing. Saat mereka membaca buku-buku berbahasa asing ini, konsep-konsep yang terbentuk dalam pikiran mereka terbahasakan lewat bahasa asing ini. Dan ini terbawa saat mereka menuliskan pemahaman mereka.

Saat menulis, kadang kata-kata yang sebenarnya ada padanan dalam Bahasa Indonesia tidak mereka terjemahkan. Akibatnya, pembaca terbawa pada kata-kata bahasa asing yang kadang-kadang maknanya menggantung di awang-awang bagi pembaca yang asing terhadap bahasa yang digunakan ini. Hal ini kadang diperparah dengan susunan kalimat yang mengacu pada bentukan kalimat asing. Jadinya, bahasa dalam tulisan tersebut menjadi ganjil dan sulit dimengerti. Hal ini terutama terjadi saat penulis hanya mengutip konsep yang ia pahami dari bacaan asing yang ia baca. Beda dengan penulis yang baik dan yang mengerti apa yang ia tuliskan. Ditambah dengan kesadaran untuk menempatkan dirinya sebagai pembaca. Penulis seperti ini selalu berangkat dari konsep-konsep di dalam pikirannya yang sudah terbentuk dalam Bahasa Indonesia. Kadang penulis seperti ini menguraikan sebuah konsep secara sederhana. Akibatnya, pembaca menjadi terang akan maksud yang ditulis dan dia mendapatkan pencerahan.

Buku tentang Martin Heidegger ini adalah dari jenis yang terakhir ini. Kerumitan yang ada sudah bisa saya rasakan sebagai keterbatasan tingkat pemahaman saya dan bukan karena kerumitan bahasa yang digunakan.

Membaca buku seperti ini, ditambah jika topik yang diangkat menarik, akan membuat pembaca tak berhenti untuk membaca. Buku setebal 112 halaman ini akhirnya saya habiskan hanya dalam satu hari saja. Dan itu saya baca ketika berada di angkot saat pergi kerja dan pulang kerja. Luar biasa bukan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah buku yang enak dibaca? Daya baca seseorang menjadi meningkat dan bukunya menjadi sangat bermanfaat.

Ini adalah salah satu cita-cita saya tentang kemampuan menulis. Sampai sekarang, saya harus akui saya masih harus banyak belajar.

Dulu, ketika masih menggebu-gebu membaca filsafat, kadang saat membaca buku, meskipun tidak mengerti, masih terus saja dibaca. Sekarang, rasanya tidak ada manfaatnya membaca buku yang sama sekali tidak mencerahkan. Meskipun kadang saya berpikir bahwa suatu buku sama sekali tidak memberikan apa-apa karena memang otak saya tidak sampai bisa memahami kata-kata yang ditulis dalam buku itu dan bukannya karena memang buku itu sendiri adalah buku yang payah, ditulis oleh penulis kelas teri, yang tidak tahu subjek yang ditulisnya, atau seorang pemula yang ingin terlihat pintar dengan bahasa njelimet.

Setelah kemarin membaca buku kecil tentang Ahmad Khan yang cukup enak dibaca, saya lanjut dengan buku kecil seri tokoh filsafat lainnya dari Teraju, Mizan. Kali ini saya mengambil buku yang berjudul “Richard Rorty, Pendiri Pragmatisme Kontemporer” dari rak buku saya.

Nah, karena pengarangnya sama-sama orang Indonesia, yaitu Adi Armin, saya berharap tulisan di dalamnya dapat lebih mudah dicerna. Tapi ternyata saya harus kecewa. Mari lihat beberapa paragraf yang saya baca.

Pemahaman epistemologi behaviorisme terletak pada legitimasi pembenaran (justification) yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata. Proses pemahaman pengetahuan berarti proses pemahaman praktik-praktik sosial, sebagai wadah pembenaran keyakinan. Konsekuensi logisnya adalah investigasi filsafat tradisional kodrat pengetahuan bergeser menjadi bahan studi beberapa bentuk pemikiran lapangan yang memprioritaskan aksi dan interaks, khususnya bagi pemikiran yang menganggap pembenaran (justification) berasal dari matriks disiplin yang dinilai dapat membangun suatu kebudayaan. Studi awal ini tidak mempergunakan metode filsafat khusus, melainkan mempergunakan metode lazim bersifat empiris-hermeneutik, antropologis dan neohistoris. Metode tersebut mengeksplisitkan unsur rasionalitas dan otoritas epistemik serta tidak mengedepankan argumen-argumen transendental. Sebaliknya, menjaga hubungan solid bersifat etnografik dan aktivitas produksi pengetahuan.

Nah, entah apakah hanya saya yang sama sekali tidak mengerti paragraf di atas ataukah Anda juga. Mari kita telaah kalimat per kalimat.

Pemahaman epistemologi behaviorisme terletak pada legitimasi pembenaran (justification) yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.

Untuk mengerti kalimat ini mungkin kita harus tahu dulu arti dari epistemologi behaviorisme. Tapi mungkin itu tidak penting. Mari kita analisis dari segi bahasa saja dan menganggap bahwa epistemologi behaviorisme adalah suatu cabang ilmu tertentu. Dengan demikian, epistemologi behaviorisme dapat kita ganti dengan ilmu lain, contohnya filsafat tok. Kalimat tersebut menjadi “Pemahaman filsafat terletak pada legitimasi …”.

Legitimasi berarti sesuai dengan standar atau hukum. Dengan demikian frasa legitimasi pembenaran berarti suatu pembenaran yang dapat dibenarkan (karena sesuai dengan ketentuan standar atau hukum). Berarti, tindakan pembenaran yang tidak salah kaprah.

Dibaca lengkap maka kalimat pertama di atas menjadi:

“Pemahaman filsafat terletak pada legitimasi pembenaran yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.”

Pemahaman filsafat terletak pada …

Yang dapat paham tentu orang. Orang yang dapat mengerti dan bukan benda mati atau abstrak seperti filsafat. Pemahaman filsafat mungkin berarti kajian filsafat, atau sebuah kesimpulan dalam filsafat.

Kesimpulan-kesimpulan dalam filsafat terletak pada legitimasi pembenaran yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.

Mungkin dapat diartikan bahwa filsafat, kebenaran-kebenarannya, hanya merupakan suatu tindakan pembenaran (yang legitimate) yang harus dinilai (dilihat) sebagai suatu fenomena sosial.

Agar tidak kehilangan arti yang lebih dalam, mari kita ganti lagi filsafat dengan epistemologi behaviorisme.

Jika diraba-raba, dengan melakukan perabaan terhadap arti dari epistemologi behaviorisme, mungkin maksud kalimat di atas adalah bahwa suatu kajian mengenai pengetahuan yang didasarkan kepada tingkah laku (manusia?), akan memiliki kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan dari tindakan pembenaran (yang legitimate) yang hanyalah berupa sebuah fenomena sosial belaka.

Mengerti? Saya tidak tuh … :D

Segini aja dulu ah, males ngelanjutinnya juga. Oh ya, jika Anda merasa bingung, ini belum apa-apa dibandingkan dengan teks di buku-buku terjemahan karya Derrida atau ulasan mengenai Derrida yang ditulis oleh orang Indonesia.

Iseng saja, saya kutipkan satu kalimat dari “Hampiran Hamparan Gramatologi Derrida” karya Nuruddin Asyhadie, terbitan LKiS.

Jika yang bergerak tanpa henti memberikan dirinya sendiri tanpa permulaan absolut, maka harus dibiasakan untuk memahami dua ide yang kontradiktif secara bersama-sama, walaupun ia sepenuhnya dihabiskan dengan membaca setiap teks dalam model-model tertentu, dan hanya memfokuskan diri pada tulisan-tulisan itu sendiri tanpa mengindahkan pengantar-pengantar atau komentar yang sering kali membebani kebebasan dalam membaca.

Fyuh, suatu kalimat yang panjang dan rumit sehingga setelah membaca berkali-kali pun saya tidak bisa memahaminya. Anda mungkin berpendapat bahwa saya mungkin telah melepaskan kalimat ini dari rangkaiannya. Tapi, Anda harus mencoba membaca sendiri bukunya, mungkin saja Anda sepakat bahwa kalimat panjang ini adalah kalimat yang rumit dan tidak mudah untuk dimengerti.

Dalam bukunya, Memoar Seorang Filosof, Bryan Magee menceritakan tentang pertemanannya dengan Bertrand Russell. Suatu kali dia bertanya kepada Russell, siapakah orang terpandai yang pernah Russell temui. Russell menjawab Keynes. Magee kaget karena ia menduga Russell akan menjawab Einstein. Tapi Russell mengemukakan alasannya.

“Setiap kali aku berdebat dengan Keynes, aku merasa sudah mengambil risiko yang sangat besar,” kata Russell. Menurutnya pula, Einstein tidak memiliki kecerdasan murni, berbeda dengan Keynes. Yang dimiliki oleh Einstein adalah semacam bakat kreatif kesenimanan yang besar. Karya Einstein muncul dari kedalaman imajinasi dibanding dari kedalaman intelektual.

Jika kepada Anda ditanyakan pertanyaan yang sama, “Siapakah orang terpandai yang pernah Anda temui, apa jawaban Anda?