Pagi ini, ketika bangun tidur, Nita menemukan sebuah topi. Warnanya biru. Nita menggosok-gosok matanya setengah tak percaya. Topi siapa ini? tanya Nita dalam hati. Nita kemudian mengambil topi itu dan mengenakannya. Pas sekali. Ia lalu berdiri di depan cermin. Cantik! Lucu! Pikirnya.
Sudah lama Nita menginginkan topi berwana biru. Ia pernah melihat topi itu di suatu toko. Waktu itu, ia sedang berjalan-jalan dengan Wati, teman sekelasnya. Namun, karena tidak membawa uang, ia tidak membeli topi itu. “Nanti saja besok Aku kembali lagi ke sini,” kata Nita. Sayang sekali, besok harinya topi itu sudah terjual. Padahal, Nita sangat suka topi itu.
“Ibu! Ini topi siapa?” tanya Nita.
“Eh, anak Ibu sudah bangun. Topi? Mana Ibu tahu. Memangnya kamu dapat dari mana?” tanya Ibu.
“Ada di tempat tidur Nita. Waktu Nita bangun, Nita langsung lihat topi ini. Ibu yang simpan di situ, ya?” tanya Nita.
“Bukan. Mungkin kakakmu. Coba tanya,” kata Ibu.
“Ah, nggak mungkin,” ujar Nita.
“Lho, kenapa?”
“Gak mungkin,” jawab Nita. “Masa pelit begitu mau kasih topi segala.”
“Eh, siapa yang pelit,” kata Ibu. “Kakakmu nggak pelit, ah.”
“Yaa, Ibu nggak tau sih. Kemarin aja, Nita minta coklat gak dikasih,” adu Nita.
“Ah, kamu. Udah, tanya sana sama kakakmu. Mungkin memang topi itu dikasih kakakmu ganti coklat itu,” kata Ibu.
“Nggak, ah,” sahut Nita. Ia langsung berbalik pergi kembali ke kamarnya. Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.