Marcel Proust mengatakan bahwa ia harus mengambil jarak dengan teman-temannya untuk membuat tulsan yang bagus tentang teman-temannya itu. Saya tidak bisa sebebas itu dalam menulis.
Ada sebuah ketelanjangan dalam sebuah etalase. Ada yang sengaja untuk dipertontonkan ke khalayak ramai. Dan bagi saya itu adalah sebuah kengerian. Sebuah ketelanjangan. Sebuah pornografi.
Jika anda menulis, tidakkah anda sadar bahwa anda tengah menyingkapkan aurat anda? Untuk mata yang jeli dan pikiran yang tidak malas, susunan kata-kata adalah sebuah jalan masuk yang canggih ke dalam lubuk hati anda. jadi anda berhati-hatilah.
apakah ini berlaku bagi seorang penulis yang tidak jujur?
tentu saja, lagipula aib apa yang lebih memalukkan dari telanjangnya ketidakjujuran kita di hadapan orang lain?
(tentu saja kalimat terakhir itu adalah sebuah hiperbola. dan anda boleh menilai tingkat kejujuran saya dalam menulis)
Banyak sekali yang sebenarnya bisa ditulis. Tapi, selalu menjadi masalah saya, tak bisa menulis. Yang menari itu jari-jari. Saya hanyalah merangkai. Kata-kata tidak dibentuk, tapi mengalir melalui jari-jari. Saya adalah medium tempat dunia mengekspresikan dirinya. Jadi, jika tulisan ini terlihat seperti melayang-layang, maka ada sesuatu yang tengah dikatakannya. Sesuatu itu tidak harus selalu penting. Setidaknya tidak penting buat Anda. Setiap detil dari sebuah kehidupan tidak pernah menjadi penting bagi semua orang. Dan setiap orang memiliki ketertarikannya sendiri.
Aliran ketidaksadaran dibentuk oleh sejarah. Minimal sejarah anda 24 jam ke belakang. Tapi, sejarah anda merentang tidak hanya dari semenjak anda lahir, tapi dari semenjak alam semesta ini diciptakan. dan yang lebih hebat. tidak hanya ke belakang, tapi juga ke depan. Jadi, alih-alih membayangkan hidup anda seperti halaman demi halaman buku yang dibuka. bayangkan bahwa hidup anda adalah seperti sebuah buku. sesuatu terjadi dan buku yang baru tercipta.
Anda mungkin lebih ingat daripada saya dari mana kalimat ini terkutip: “satu lemparan batu ke sebuah sungai dan alam semesta tidak lagi menjadi sepeti sebelumnya.”
ingat, anda ternyata bisa mengubah alam semesta!!
dana menulis adalah semesta yang sedang mengekspresikan dirinya melalui medium yang kita sebut anda.
Saya ingat dosen saya berbicara: bilang saja dulu bisa, lalu kerjakan. Saya juga ingat suatu kutipan dari seorang terkenal yang kurang lebih berkata yang sama. Saya selalu tidak berani melakasanakan kata-kata itu. Kecuali tentu saja ketika terpaksa.
Sebenarnya, ketika terpaksa, cerita jadi berbeda. Tidak banyak peran kita dalam membuat keputusan. Saya kenal seseorang yang banyak dalam rentangan hidupnya dia begitu lembam sehingga hampir setiap belokan yang dia ambil terjadi karena memang jalan sudah menikung ke kiri atau ke kanan. Tak ada pilihan untuk tetap lurus.
Nah, dalam keterpaksaan bisa jadi bagus. Artinya, keterpaksaan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dan kembali ke atas kapal untuk mengarungi laut yang penuh ombak. Kita bisa pulang lebih tangguh atau mati.
Suatu ketakutan bisa diakibatkan oleh hal yang sangat konyol. Karena antisipasi yang terlalu negatif atau karena ilusi yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Suatu ketakutan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri yang kita butuhkan. Tentu saja selama ketakutan itu wajar. Artinya, takut tersambar petir karena berada di lapangan luas saat guntur menggelegar adalah suatu hal yang baik. Tapi takut hantu di siang hari setelah menonton tiren adalah suatu kebodohan yang sebenarnya tidak seratus persen salah kita.
Jadi, ketakutan itu ada baiknya juga. Nah, ketakutan karena tidak bisa melaksanakan kata-kata dosen saya itulah yang akhir-akhir ini sering mengeram di dada. Ketakutan untuk gagal. Wajarkah itu?
Terus terang saya tidak dalam posisi untuk menjawab petanyaan itu. Seorang yang selalu melihat ke belakang takut tiren di siang hari tidak tahu bahwa ketakutannya tidak wajar. Yang saya bisa bilang adalah bahwa sepanjang waktu, yang saya lakukan untuk mengalahkan rasa takut itu adalah ini: berbincang-bincang dengannya.
Anda pernah merasakan sakit bukan? Baik itu rasa sakit karena ditusuk duri.. ataupun ditusuk “duri”. Nah, jika anda merasakannya sekali lagi, coba anda diam dan mengajak sang sakit berbincang. Anggap saja sang sakit adalah teman Anda yang telah lama tak berkunjung. Nah, jika Anda telah melakukannya, katakan kepada saya, apa yang Anda rasakan..
Mungkin… mungkin ya… mungkin anda bisa mendapatkan suatu pencerahan…
Rasanya kita harus berterima kasih kepada Google. Atau minimal setikdanya saya harus berterima kasih kepada Google. Banyak pekerjaan saya yang dimudahkan oleh Google dan saya tidak membayar apa pun pada Google. Ini adalah model bisnis yang tidak konvensional.
Rasanya saya tidak harus berterima kasih kepada U. Setelah bekerja dengan palu dan otonya, setelah menggeser-geser dan mendorong-dorong, dan setelah pergi pada saat selesai lalu balik lagi dengan tampang serius, dia membuat suatu kalkulasi terhadap jumlah keringat yang dicucurkannya. Tentu saya harus mengerti. Tentu saya harus merasa bahwa permintaan tolong, gotong royong dan sebagainya hanyalah sesuatu yang ada di buku ips kelas 2 SD. Tak perlu mengingat bahwa atap yang menaungi sama, tempat yang memberi kerja sama. Tak ada. Beda kepentingan ceritanya harus disambungkan dengan lembaran kertas yang ada nilainya. Bukan begitu pak ogah?
Bukannya saya tidak ikhlas. Tapi memang susah sih berbicara dengan orang yang standar moralnya ditentukan oleh uang.