Dilihat dari berbagai sudut, hidup bisa jadi berwarna-warni. Tapi kadang juga tidak berwarna. Bukan masalah nano-nano yang manis-asam-asin. Tapi kadang orang menjadi muram hanya karena hitam. Padahal, semua warna adalah sama. Dan jika hitam adalah warna, mengapa harus muram, mengapa harus suram.

Saya bisa berdiri di pinggir jalan dan bertanya, begitu banyak orang, begitu banyak yang disebut individu, yang hidup dan bisa berpikir, merasa sakit, atau jatuh cinta. Ada kegiatan, ada aktivitas.

Di sebuah lingkungan mati, batu misalnya, tak akan ada seonggok batu yang menghitung batu lain lalu menjadi Sartre. Tapi manusia berbeda.

Saya tersenyum. Bagaimana jika sebenarnya dunia ini semuanya berwarna putih. Bagaimana jika sebenarnya tak ada apa-apa di atas kainnya. Bahwa tak ada apa-apa sekaligus hanya ada semuanya. Begitu saja.

Tidak mudah memang. Kita selalu terbiasa berbincang-bincang dengan maksud. Ada basa-basi, tapi ada latar belakang di balik basa-basi. Dunia tidak bisa dilihat sebagai basa-basi. Tidak ada yang menyepakatinya.

Jadi, biasanya kita tidak akan berdiri di pinggir jalan dan melihat begitu banyak individu sambil tersenyum. Di hari yang panas, semuanya akan menjadi keringat saja.

Keringat, setetes bisik-bisik yang tak berarti di tengah teriakan supir angkot yang mencuri keheningan dari sepotong siang yang sangat panas.