Seperti sebuah kapal yang akan angkat sauh, terompet tak henti bersangkakala. Bumi yang dipijak akan ditinggalkan. Jauh.. jauh.. Di mataku berkilasan wajah orang-orang. Aku tak mengenalnya meski mereka tersenyum. Telah lama aku menjadi asing di sini. Tak ada yang menyapa atau menepuk pundak. Tak ada yang berbicara dari dada ke dada. Di sini semua dibangun di atas keringat yang palsu. Ongkang kaki yang angkuh kaku. Aku tak suka.
Tapi di antara duri ada wangi. Aku mendengar dan aku melihat. Maka, aku berhenti untuk sejenak menghormati. Meski aku tak mungkin kembali, dan tak jua mau, pena telah ditumpahkan di atas sajadah hidupku. Dan tersurat telah apa yang sudah. Memberi aku jalan di masa depan ke masa lalu.
Wahai, tak ada sedikit pun rasa sesal. Aku akan kembali menantang ombak. Jika aku mati dikabar burung, kuburkan jasadku di dada tanah. Parang dan tombak telah siap, tameng tlah ditempa. Maka seperti sebuah kapal yang akan angkat sauh, terompet di dadaku tak henti bersangkakala.