Setiap butir darah dalam pembuluh nadiku berdetik. Waktu menjadi kesadaran yang mencengram kerah bajuku. Kesadaran seperti menyempit dan ruang yang lapang penuh dengan kegelapan.

Ada ketuk sepatu di lantai. Jantungku berdebur lebih dari ombak terbentur karang. Aku tak merasakan angin. Dan kini, seluruh pori di tubuhku mendingin berembun-embun.

Adakah kau akan datang kepadaku pada hari yang telah kita janjikan, tanyamu suatu hari. Aku tak percaya bahwa kita mampu untuk berlari dari apa yang telah ditakdirkan. Tapi kita tak usah menangis. Kita tak ingin jadi orang yang cengeng. Kau mengajarkanku untuk menantang nasib: dengan menafikannya.

Ketuk sepatu itu semakin mendekat. Aku seperti ingin loncat dan berteriak. Kemarahan yang muncul menelan ketakutanku. Mengapa kau tak tinggal saja sendiri dalam gelap. Aku bukan penghuni kegelapan.