June 2009


Setiap butir darah dalam pembuluh nadiku berdetik. Waktu menjadi kesadaran yang mencengram kerah bajuku. Kesadaran seperti menyempit dan ruang yang lapang penuh dengan kegelapan.

Ada ketuk sepatu di lantai. Jantungku berdebur lebih dari ombak terbentur karang. Aku tak merasakan angin. Dan kini, seluruh pori di tubuhku mendingin berembun-embun.

Adakah kau akan datang kepadaku pada hari yang telah kita janjikan, tanyamu suatu hari. Aku tak percaya bahwa kita mampu untuk berlari dari apa yang telah ditakdirkan. Tapi kita tak usah menangis. Kita tak ingin jadi orang yang cengeng. Kau mengajarkanku untuk menantang nasib: dengan menafikannya.

Ketuk sepatu itu semakin mendekat. Aku seperti ingin loncat dan berteriak. Kemarahan yang muncul menelan ketakutanku. Mengapa kau tak tinggal saja sendiri dalam gelap. Aku bukan penghuni kegelapan.

Saya menjawab pertanyaan Bernie lewat sepucuk surat dengan penuh dendam, sebab ia dan Ayah telah membuyarkan rencana saya untuk mendapatkan pendidikan tinggi seni rupa: “Kakak tersayang: Ibaratnya memberi tahu engkau tentang burung-burung dan kumbang-kumbang,” demikian saya mulai. “Ada banya orang berbakat yang dirangsang secara positif oleh sejumlah, tidak semua, aturan manusia tentang warna dan bentuk di atas permukaan datar yang pada hakikatnya tak berfaedah.

“Engkau sendiri suka kepada musik tertentu, aransemen bunyi-bunyian, yang pada hakikatnya juga tak berfaedah. Jika saya menyepak sebuah ember agar menggelundung di tangga gudang bawah tanah, dan kemudian mengatakan kepadamu bahwa suara gaduh yang telah saya buat itu secara falsafah sama dengan The Magic Flute, tindakan ini tidak akan menjadi awal dari perdebatan yang berlarut-larut dan sengit. Jawaban yang sungguh-sungguh memuaskan dan sempurna darimu kiranya adalah, ‘Saya menyukai apa yang dibuat oleh Mozart, dan saya membenci apa yang dibuat oleh ember itu.’

“Memperbincangkan suatu karya seni merupakan suatu kegiatan sosial. Entah engkau menikmatinya atau tidak. Dan sesudah itu engkau tak perlu bertanya mengapa. Engkau tak perlu mengatakan apa pun.

“Engkau adalah seorang eksperimentalis yang patut dihormati, Kakak tersayang. Bila engkau sungguh-sungguh ingin mengetahui apakah lukisan-lukisanmu itu, seperti pertanyaanmu, ’seni atau bukan’, engkau harus memamerkannya di suatu tempat umum entah di mana, dan melihat apakah orang-orang yang tak kau kenal suka memandangnya. Begitulah cara pertandingan dimainkan. Beritahukan kepadaku apa yang terjadi.”

Saya melanjutkan: “Jarang orang menyukai lukisan atau barang cetakan, atau apa saja, tanpa mengetahui sedikit pun tentang senimannya. Sekali lagi, situasinya besifat sosial, bukan ilmiah. Setiap karya seni adalah separo percakapan antara dua manusia, dan amat mambantu bila mengetahui siapakah yang sedang berbicara denganmu. Apakah ia dikenal sebagai orang yang serius, saleh, menderita, bernafsu duniawi, suka memberontak, tulus, gemar berseloroh?

“Lukisan-lukisan terkenal lantaran sifat kemanusiannya, bukan lantaran sifat ke-lukisan-nya.”