Saya ingat film kungfu di RCTI. David Carradine bermonolog sambil memandang seekor laba-laba. Untuk satu mahluk hidup, ada satu dunia buat dirinya. Saat ini saya ingin mengganti dunia itu dengan sebuah gudang, atau instalasi kabel listrik di langit-langit. Untuk satu orang, ada satu instalasi kabel buat dirinya.
Berhadapan dengan siapa saja adalah sebuah proses timbal balik. Kita menari alih-alih berkelahi. Menari berarti sebuah kognisi. Kita memahami, kita dipahami, kita berubah, kita mengubah. Ada umpan balik ada respon. Kita berkolaborasi.
Tapi, bayangkan jika yang berkolaborasi adalah alien vs predator, atau kuntilanak vs pocong, dua instalasi kabel yang sama-sama semrawut. Satu keukeuh masuk lewat sini, yang lain bilang, kalau itu adalah jalan tempat keluar.
Di kepala setiap orang ada banyak yang bertengger. Siapa bilang kita adalah mahluk rasional. Setiap keputusan sepele yang kita ambil dalam hidup sehari-hari sering diambil lewat pengaruh emosi. Pada kenyataannya, proses berpikir adalah proses yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Jadi, emosi dan rasio itu tidak terbedakan.
Nah, jika dua manusia dengan pengaruh emosinya masing-masing saling bertemu, dengan pengalaman yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan riwayat yang berbeda, apa jadinya?
Saya ingin berkata bahwa bukan itu maksud saya. Tapi tentu saja saya hanyalah seorang yang secara strata akademis berada di bawah lawan bicara saya. Ada banyak asumsi yang dijelaskan tanpa saya memiliki kesempatan untuk mempertanyakan, atau bahkan untuk mengatakan bahwa tidak boleh asumsi seperti itu diambil.
Tapi karena mahluk hidup adalah suatu mahluk yang adaptif, saya membayangkan semrawutnya instalasi kabel yang mulai bergeser-geser untuk berusaha mengikuti semrawutnya instalasi kabel orang yang saya ajak bicara.
Sungguh sayang jika begitu kan? Pikiran adalah area di mana kebebasan menemukan perwujudannya yang paling penuh. Jangan tundukkan pada apa pun juga!!
Saya pun pergi sambil tertawa dalam hati.