Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Melangkah satu-satu ternyata menyenangkan. Memang aku berhenti. Tapi aku bisa meluaskan pandang. Menikmati setiap titik dalam waktu yang tersedia. Aku tak sombong lagi dengan menginginkan satu lompatan. Aku sadar langkahku tak selebar raksasa. Aku bukan raksasa. Aku tak pernah menjadi raksasa. Bahkan Newton pun bukan. Ia harus berdiri di pundak raksasa alih-alih menjadi raksasa itu sendiri.
Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Hari ini aku selesaikan satu langkah dan tak menjadi kesal saat langkah kedua belum aku rampungkan. Cukup satu sehari. Aku tahu bahwa bukit dibangun sedikit-sedikit. Dan batu dilubangi setetes-setetes. Aku harus menjadi yang sedikit itu, atau setetes itu, tapi terus menerus dan tak mudah lelah.
Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Terima kasih untuk tetap menarikku berpijak di atas tanah dan membangunkanku dari mimpi yang melenakan. Umurku telah hanyut jauh ke hilir, belum satu ranting pun aku tarik untuk kubuat rakit. Tapi, denganmu, aku seperti sadar, bahwa tak ada perahu di ujung sungai. Aku harus menarik dan menali, mengikat dan meluruskan. Agar ketika lautan itu sampai, kita tak tenggelam.
Aku tak lagi ambisius sayang, berikan aku selalu kekuatan untuk gagal atau berhasil. Beri aku pelajaran akan sesuatu yang bernilai kecil. Beri aku pengertian, bahwa satu di genggaman lebih berarti daripada sepuluh di bayangan.
Aku tak lagi ambisius sayang. Besok kita lanjutkan lagi sedikit demi sedikit membangun cita-cita kita.