Aku tak bisa mengingat nama tempat, pun jalur jalan. Ketika ada orang yang bertanya arah, aku akan mati kutu dan menjawab tak tahu. Bahkan jika pun itu adalah jalurjalur kota kelahiranku.
Aku tak mengingat pula nama orang. Tapi tak separah sang tua pikun. Kadang raut wajah menjentikkan suku kata atau suara. Dan nama mengalir di jantung lidahku. Terucap, seperti tergelincir dari lantai landai yang basah.
Di antara dua kutub Bumi, tak banyak tanah yang aku jejaki. Di antara dua waktu, jarakku tak banyak beranjak. Sepatuku tak tua dan jaket ku tak lusuh. Aku tak membawa gembolan di pundakku.
Tapi aku ingat kata-kata Wordsworth tentang Newton,
And from my pillow, looking forth by light
Of moon or favouring stars, I could behold
The antechapel where the statue stood
Of Newton with his prism and silent face,
The marble index of a mind for ever
Voyaging through strange seas of Thought, alone.
Bukankah batas langit adalah pikiran dan batas bumi adalah tubuh yang mati?
Maka aku ingin bertanya kepada orang-orang yang selalu berkata dengan lantang, seberapa jauh kau tlah arungi lautan kesunyian itu?