April 2009


Golput boleh jadi adalah masalah politik. Tapi, golput bisa jadi juga adalah masalah statistik. Tapi saya tidak ingin dianggap mendukung golput. Beberapa argumen yang saya sampaikan di sini akan jadi mentah bila tulisan ini dianggap sebagai propaganda mendukung golput. Pemilu legislatif sudah lewat, kan? Setidaknya orang masih belum panas untuk pemilu presiden nanti.

Saya tidak mengatakan saya anti politik. Saya hanya tidak tertarik. Tapi ketidaktertarikan saya tidak terlalu penting. Jadi, kemarin saya datang juga ke TPS dan memilih. Partai yang saya pilih? Partai yang suka-suka saja. Tidak terlalu penting. Mengapa?

Anda memiliki satu suara bukan?Adakah kemungkinan satu suara mengubah hasil pemilu? Jawabannya ada. Berapa besar? Tidak terlalu besar.

Dari dulu saya berpikir bahwa jika saya tidak memilih, itu karena saya menganggap saya tidak memiliki arti apa-apa dalam pemilu ini. Wong saya cuman punya satu suara. Kalo saya punya 300 ribu suara, nah saya baru akan ikut pemilu.

Tapi orang yang saya bicara akan bilang selalu bahwa suara saya yang tidak dipakai itu sayang. Nanti bakal kurang satu suara. Nah, argumen yang melankolis dan bukan logis, jadi tak perlu ditanggapi.

Ada juga yang bilang seperti ini, “iya, itu sampean sendiri, coba kalo ada seribu, sejuta orang yang berpikir seperti sampean, toh hasilnya signifikan juga kan!”.

Nah lho, kalo pun seribu, sejuta orang berpikir seperti saya, toh itu bukan salah saya. Yang seribu itu akan milih atau nggak toh bukan saya yang nentukan, Jadi, tetap saja saya tak ada andil. Saya cuman wong cilik toh. Jumlahnya satu. Cuman satu. Ketiup angin juga terbang hilang.

Nah, jadi, ada beberapa kali pemilu saya golput karena memang merasa suara saya tak ada artinya. Sebenarnya ada jawaban yang lebih menantang: memilih itu adalah menggunakan hak, menunjukkan bahwa kita peduli, dan bahwa kita ikut berpartisipasi dalam suatu penyelenggaraan pesta demokrasi. Kalo begini jadinya, ini masalah intern ke dalam diri kita masing-masing. Toh saya akan tetap keukeuh, hasilnya tak berarti.

Ah, kau, ingat dong kata Paulo Coelho: “Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bekerja sama mewujudkannya.”

Hmmm, itu masih di luar ilmu saya mas. Yang jelas, ini bukan propaganda golput dan sebagai catatan, saya memilih pada pemilihan legislatif kemaren.

Tapi memang kadang-kadang saya merasa ada yang sembunyi-sembunyi di balik apa yang terlihat…

Aku tak bisa mengingat nama tempat, pun jalur jalan. Ketika ada orang yang bertanya arah, aku akan mati kutu dan menjawab tak tahu. Bahkan jika pun itu adalah jalurjalur kota kelahiranku.

Aku tak mengingat pula nama orang. Tapi tak separah sang tua pikun. Kadang raut wajah menjentikkan suku kata atau suara. Dan nama mengalir di jantung lidahku. Terucap, seperti tergelincir dari lantai landai yang basah.

Di antara dua kutub Bumi, tak banyak tanah yang aku jejaki. Di antara dua waktu, jarakku tak banyak beranjak. Sepatuku tak tua dan jaket ku tak lusuh. Aku tak membawa gembolan di pundakku.

Tapi aku ingat kata-kata Wordsworth tentang Newton,

And from my pillow, looking forth by light
Of moon or favouring stars, I could behold
The antechapel where the statue stood
Of Newton with his prism and silent face,
The marble index of a mind for ever
Voyaging through strange seas of Thought, alone.

Bukankah batas langit adalah pikiran dan batas bumi adalah tubuh yang mati?

Maka aku ingin bertanya kepada orang-orang yang selalu berkata dengan lantang, seberapa jauh kau tlah arungi lautan kesunyian itu?