Waktu meretas di antara dua jemariku.
Langit terkepung gumpal kabut.
Ada yang mencoba mencari bentuk.
Memahat kebul dengan pisau ingatan.
Kau di sana, dan dia di sampingnya.
Orang ketiga yang tersenyum dan orang keempat yang memeluk.
Pigura yang tak pernah abadi.
Berapa laut yang akan membasuk tinta kenangan.
Membersihkannya hingga noda terakhir.
Bukan aku ingin melarikan diri.
Hanya saja sebingkai foto, entah mengapa, dapat meracuniku.
Dan aku tak ingin mati hari ini.
March 2009
March 7, 2009
March 6, 2009

One thing astounding me is how Javier Bardem looks. So different from his last apperance in No Country for Old Man. Different character different impression. And as his performance was great in No Country, here too. He played as a Spanish Bohemian who was attracted to two american tourists yet can’t escape his life from the ex-wife.
Vicky Christina Barcelona wants to talk about love as usual. It tells about Vicky who is engaged to someone nice, neat, rich, bright-futured, and of course artificial. They share nothing in common about art (i guess). And Barcelone came with it’s art, painting and sculpture. About the life of Bohemian. Vicky rejected it, unlike Christina who bore some certain wilderness in her heart. Vicky knew that what she got back in America was the most reasonable life she wants. Yet, the moments with Javier (what was his name?), dragged her out from the that life, from that solid circle.
The rest of the movie pictures the restlessness of Vicky. She was more and more absorbed to the dream of different life which seemed impossible to live before. Now, his boyfriend seems shallow. The experience was great with Javier (I wish i remember his name). Yet, Vicky is not Christina. She can’t jump right out to Javier and live all that she had behind.
In the end …
I can’t tell the end. All i can say is that the end is not that impressive. There’s something unnatural in the end. Anyway, VCB is just another drama. Talking about relationship. If the critic says film ” Closer” is the love story for the adults, i think VCB is just another love story for teens.
7.5
March 6, 2009
Ternyata internet lebih dahsyat daripada handphone
Posted by twelve13 under Story of InternetLeave a Comment
Ternyata internet lebih dahsyat daripada handphone. Handphone memangkas ruang sementara internet memangkas ruang dan waktu. Lewat facebook saya menemukan kembali teman-teman lama. Tapi, apakah ini nyata?
Dulu dan sekarang ternyata beda. Medium yang dulu dipakai berinteraksi kini tergantikan. Apa yang sebenarnya kita rindukan? Sosok seseorang, perbincangan dengannya ataukah suatu momen kebersamaan?
March 5, 2009
mungkin malam telah lelah usap pelupuk mataku
Posted by twelve13 under Story of WordsLeave a Comment
mungkin malam telah lelah usap pelupuk mataku
sementara hujan di luar pergi lebih dulu
mengapa aku membenci mimpi? ujarmu
mungkin karena dulu ditinggalkannya aku setiap pagi
dengan pahit melumat hati
March 4, 2009
Lihatlah diriku
mengukir di batu-batu
kau ingat ketika aku belajar menggariskan pahat?
garis yang tak pernah bisa menyatu membuatmu termenung
di sini seharusnya kau letakkan jantungmu
aku hanya mengangguk sambil menyelam dalam
matamu penuh dengan warna biru
dan jantungku merekam setiap pendar cahaya yang dipantulkannya
kini kupahat semua di batu-batu
mencoba melawan alpa yang menggerogoti akalku
sekarang atau nanti sama saja
sebab saat ini dan dulu
tak ada beda
March 4, 2009
Tentang Batman yang Membuka kedoknya
Posted by twelve13 under Story of Half-thoughtsLeave a Comment
Memperbaiki diri bisa mulai dari mana saja. Bahkan dari cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya.
Saya tengah membayangkan Batman membuka kedoknya. Meskipun saya tidak tahu mengapa Bruce harus menggunakan kedok. Jika ada cara yang lebih baik, mengapa tidak? Meski sulit, kadang memang dengan bertahap, daya itu terkumpul pula. Seperti menabung receh di celengan. Tanpa sadar, jumlahnya sudah berkilo-kilo.
Nah, membuka kedok sama dengan membuka diri. Mengatakan kepada dunia bahwa inilah saya. Yang tersembunyi jadi tampak. Baik itu yang baik dan terutama yang jahat.
Jika kita percayabahwa intensitas sebuah relasi timbul karena tingkat kedalaman perkenalan, maka baik buruk maupun baik, harus diungkapkan. Kita bisa berenang-renang di muka laut berterumbu biru, tapi tanpa menyelam, indahnya hanya akan tinggal katanya.
Jadi, biarkan saja jadi apa pun. Di jaman ketika ide pemikiran merayakan keberagaman ini. Ketika postmodernisme mengatakan bahwa metanarasi telah jatuh. Ketika anak-anak muda kehilangan ideologi yang dapat membakar semangat. Maka, menjadi aneh bukan lagi sebuah keluarbiasaan.
March 3, 2009
Tentang mengantuk di pagi dan sore hari
Posted by twelve13 under Story of Days, Story of Half-thoughtsLeave a Comment
Mungkin ada yang lebih lihai memotret apa yang saya perhatikan sore ini. Di angkot sehabis kerja, semua penumpang, 7 orang, yang ada di bangku depan saya, hampir semua jika tidak tidur maka mukanya terlihat kusut. Saya pun sebenarnya mengantuk. Namun, ada saat ketika saya tersenyum dalam hati memperhatikan ke-7 orang tersebut.
Bukan apa-apa, saya jadi ingat Marx ketika berbicara tentang alienasi. Pekerjaan seharusnya membuat seseorang berbahagia karena pekerjaan membuat dirinya menjadi aktual. Pekerjaan adalah identitas dirinya. Dia adalah pekerjaannya.
Namun di jaman kapitalistis sekarang ini, pekerjaan adalah sesuatu yang wajib jika kita masih ingin hidup layak (untuk sembarang orang kata layak bahkan dapat dihilangkan).
Saya membayangkan sebuah massa dengan volume besar digiring oleh kekuatan kapitalisme dari rumah, dari tempat tidur yang hangat ke tempat kerja. Mereka semua mengantuk dalam perjalanan. Setelah menjual habis seluruh pagi dan siangnya kepada para pemilik modal, mereka akhirnya pulang dengan kantuk yang kembali menagih hutang.
Di Jakarta hal ini dapat diperparah dengan kemacetan. Mereka harus membuatng-buang waktu yang berharga di jalan. Berdesakan dan berkeringant. Untuk hidup. Untuk makan.
Tidak ada tragedi dalam hal ini. Saya tidak ingin melukiskan suatu tragedi kemanusiaan. Saya hanya ingin memotret. Toh saya tahu, apakah sebelum kapitalisme muncul, orang-orang berangkat pagi atau tidak? Orang-orang mengantuk apa tidak saat pulang dan pergi.
Saya juga tidak bilang bahwa mereka semua adalah manusia-manusia yang tidak berbahagia. Bahkan ada sebenarnya yang pergi ke kantor dengan semangat. Baik karena ia mencintai pekerjaannya atau karena sebab lain. Namun, tetap saja, kita bisa melihat bahwa kebanyakan orang hanyalah sebuah sekrup dalam arus besar budaya kapitalisme.
March 2, 2009
Saya tidak tahu ada apa dengan sebuah relasi pertemanan yang saya pernah alami. Sewaktu SMP saya dekat dengan seorang. Bisa dikatakan ia sahabat saya. Tapi, rasanya sekarang saya tidak terlalu peduli di mana ia berada dan saya yakin ia pun tak begitu peduli. Kita saling tak punya cara untuk menghubungi masing-masing.
Di SMA, saya juga punya sahabat. Kita memang tidak selalu bersama-sama, tapi kita memiliki banyak kesamaan. Setelah lulus kuliah dan sekarang bekerja, setelah sekian puluh tahun, kok rasanya rasa persahabatan itu hilang. Kita masih berteman, tapi mungkin dia bukan lagi teman nomor satu sehingga prioritasnya dalam hidup saya berada di bawah. Begitu juga saya bagi dia mungkin.
Dari SMA, saya mulai berpikir bahwa relasi pertemanan adalah sebuah kuasi-relasi. Saya tidak yakin bahwa relasi semacam itu bakal langgeng karena teman itu pergi dan pulang. Ketika pergi, akan ada teman baru dan fokus kita berpindah. Ini bukan suatu sifat jahat. Ini sangat alamiah.
Relasi yang sebenarnya adalah hubungan cinta. Tidak harus selalu antara lawan jenis, antara anak dan orangtua, antara adik dan kakak juga. Antarteman?
Nah, ini dia inti dari tulisan ini. Rupanya, entah mengapa, relasi pertemanan yang saya jalani selalu minim secara emosional. Ikatan emosional adalah ikatan purba yang dapat menyatukan satu komunitas sehidup semati. Pada jaman modern ikatan ini dapat dilihat pada solidaritas antaranggota geng. Tentu saja saya tidak mengatakan ini positif.
Nah, sisi emosional dari hubungan pertemanan saya lah yang membuat pertemanan saya tidak bertahan lama. Pertanyaan besarnya sekarang adalah mengapa?
Jika dirunut terus ke belakang, mungkin ada hubungan dengan cara saya dibesarkan dan bagaiman relasi antaranggota keluarga saya. Tapi itu terlalu jauh dan saya tidak ingin menceritakan tentang keluarga saya. Lagi pula, siapa yang mau baca?