February 2009


Di angkot saya bisa membaca.

Di angkot saya bisa bersosialisasi (baca duduk bersebelahan atau berhadapan dengan perempuan cantik :D ).

Di angkot saya bisa tidur. Bahkan salah satu kebutuhan tidur saya yang tidak terpenuhi di malam hari selalu saya tebus dengan tidur di angkot.

Menggunakan angkot saya tidak perlu takut hujan.

Menggunakan angkot saya tidak seperti membawa-bawa benda berharga yang saya simpan di tempat yang tidak bisa saya awasi.

Setelah putus asa membaca buku kecil mengenai Richard Rorty kemarin, saya berpindah ke buku kecil yang membahas Heidegger. Alhamdulillah, inilah buku yang enak untuk dibaca. Penulisnya Donny Gahral Adian, seorang dengan gelas master di bidang filsafat dari Universitas Indonesia.

Literatur filsafat berbahasa Indonesia tidaklah banyak. Akibatnya, banyak orang yang menekuni filsafat membaca buku-buku filsafat berbahasa asing. Saat mereka membaca buku-buku berbahasa asing ini, konsep-konsep yang terbentuk dalam pikiran mereka terbahasakan lewat bahasa asing ini. Dan ini terbawa saat mereka menuliskan pemahaman mereka.

Saat menulis, kadang kata-kata yang sebenarnya ada padanan dalam Bahasa Indonesia tidak mereka terjemahkan. Akibatnya, pembaca terbawa pada kata-kata bahasa asing yang kadang-kadang maknanya menggantung di awang-awang bagi pembaca yang asing terhadap bahasa yang digunakan ini. Hal ini kadang diperparah dengan susunan kalimat yang mengacu pada bentukan kalimat asing. Jadinya, bahasa dalam tulisan tersebut menjadi ganjil dan sulit dimengerti. Hal ini terutama terjadi saat penulis hanya mengutip konsep yang ia pahami dari bacaan asing yang ia baca. Beda dengan penulis yang baik dan yang mengerti apa yang ia tuliskan. Ditambah dengan kesadaran untuk menempatkan dirinya sebagai pembaca. Penulis seperti ini selalu berangkat dari konsep-konsep di dalam pikirannya yang sudah terbentuk dalam Bahasa Indonesia. Kadang penulis seperti ini menguraikan sebuah konsep secara sederhana. Akibatnya, pembaca menjadi terang akan maksud yang ditulis dan dia mendapatkan pencerahan.

Buku tentang Martin Heidegger ini adalah dari jenis yang terakhir ini. Kerumitan yang ada sudah bisa saya rasakan sebagai keterbatasan tingkat pemahaman saya dan bukan karena kerumitan bahasa yang digunakan.

Membaca buku seperti ini, ditambah jika topik yang diangkat menarik, akan membuat pembaca tak berhenti untuk membaca. Buku setebal 112 halaman ini akhirnya saya habiskan hanya dalam satu hari saja. Dan itu saya baca ketika berada di angkot saat pergi kerja dan pulang kerja. Luar biasa bukan akibat yang ditimbulkan oleh sebuah buku yang enak dibaca? Daya baca seseorang menjadi meningkat dan bukunya menjadi sangat bermanfaat.

Ini adalah salah satu cita-cita saya tentang kemampuan menulis. Sampai sekarang, saya harus akui saya masih harus banyak belajar.

Dulu, ketika masih menggebu-gebu membaca filsafat, kadang saat membaca buku, meskipun tidak mengerti, masih terus saja dibaca. Sekarang, rasanya tidak ada manfaatnya membaca buku yang sama sekali tidak mencerahkan. Meskipun kadang saya berpikir bahwa suatu buku sama sekali tidak memberikan apa-apa karena memang otak saya tidak sampai bisa memahami kata-kata yang ditulis dalam buku itu dan bukannya karena memang buku itu sendiri adalah buku yang payah, ditulis oleh penulis kelas teri, yang tidak tahu subjek yang ditulisnya, atau seorang pemula yang ingin terlihat pintar dengan bahasa njelimet.

Setelah kemarin membaca buku kecil tentang Ahmad Khan yang cukup enak dibaca, saya lanjut dengan buku kecil seri tokoh filsafat lainnya dari Teraju, Mizan. Kali ini saya mengambil buku yang berjudul “Richard Rorty, Pendiri Pragmatisme Kontemporer” dari rak buku saya.

Nah, karena pengarangnya sama-sama orang Indonesia, yaitu Adi Armin, saya berharap tulisan di dalamnya dapat lebih mudah dicerna. Tapi ternyata saya harus kecewa. Mari lihat beberapa paragraf yang saya baca.

Pemahaman epistemologi behaviorisme terletak pada legitimasi pembenaran (justification) yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata. Proses pemahaman pengetahuan berarti proses pemahaman praktik-praktik sosial, sebagai wadah pembenaran keyakinan. Konsekuensi logisnya adalah investigasi filsafat tradisional kodrat pengetahuan bergeser menjadi bahan studi beberapa bentuk pemikiran lapangan yang memprioritaskan aksi dan interaks, khususnya bagi pemikiran yang menganggap pembenaran (justification) berasal dari matriks disiplin yang dinilai dapat membangun suatu kebudayaan. Studi awal ini tidak mempergunakan metode filsafat khusus, melainkan mempergunakan metode lazim bersifat empiris-hermeneutik, antropologis dan neohistoris. Metode tersebut mengeksplisitkan unsur rasionalitas dan otoritas epistemik serta tidak mengedepankan argumen-argumen transendental. Sebaliknya, menjaga hubungan solid bersifat etnografik dan aktivitas produksi pengetahuan.

Nah, entah apakah hanya saya yang sama sekali tidak mengerti paragraf di atas ataukah Anda juga. Mari kita telaah kalimat per kalimat.

Pemahaman epistemologi behaviorisme terletak pada legitimasi pembenaran (justification) yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.

Untuk mengerti kalimat ini mungkin kita harus tahu dulu arti dari epistemologi behaviorisme. Tapi mungkin itu tidak penting. Mari kita analisis dari segi bahasa saja dan menganggap bahwa epistemologi behaviorisme adalah suatu cabang ilmu tertentu. Dengan demikian, epistemologi behaviorisme dapat kita ganti dengan ilmu lain, contohnya filsafat tok. Kalimat tersebut menjadi “Pemahaman filsafat terletak pada legitimasi …”.

Legitimasi berarti sesuai dengan standar atau hukum. Dengan demikian frasa legitimasi pembenaran berarti suatu pembenaran yang dapat dibenarkan (karena sesuai dengan ketentuan standar atau hukum). Berarti, tindakan pembenaran yang tidak salah kaprah.

Dibaca lengkap maka kalimat pertama di atas menjadi:

“Pemahaman filsafat terletak pada legitimasi pembenaran yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.”

Pemahaman filsafat terletak pada …

Yang dapat paham tentu orang. Orang yang dapat mengerti dan bukan benda mati atau abstrak seperti filsafat. Pemahaman filsafat mungkin berarti kajian filsafat, atau sebuah kesimpulan dalam filsafat.

Kesimpulan-kesimpulan dalam filsafat terletak pada legitimasi pembenaran yang harus dinilai sebagai fenomena sosial semata.

Mungkin dapat diartikan bahwa filsafat, kebenaran-kebenarannya, hanya merupakan suatu tindakan pembenaran (yang legitimate) yang harus dinilai (dilihat) sebagai suatu fenomena sosial.

Agar tidak kehilangan arti yang lebih dalam, mari kita ganti lagi filsafat dengan epistemologi behaviorisme.

Jika diraba-raba, dengan melakukan perabaan terhadap arti dari epistemologi behaviorisme, mungkin maksud kalimat di atas adalah bahwa suatu kajian mengenai pengetahuan yang didasarkan kepada tingkah laku (manusia?), akan memiliki kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan dari tindakan pembenaran (yang legitimate) yang hanyalah berupa sebuah fenomena sosial belaka.

Mengerti? Saya tidak tuh … :D

Segini aja dulu ah, males ngelanjutinnya juga. Oh ya, jika Anda merasa bingung, ini belum apa-apa dibandingkan dengan teks di buku-buku terjemahan karya Derrida atau ulasan mengenai Derrida yang ditulis oleh orang Indonesia.

Iseng saja, saya kutipkan satu kalimat dari “Hampiran Hamparan Gramatologi Derrida” karya Nuruddin Asyhadie, terbitan LKiS.

Jika yang bergerak tanpa henti memberikan dirinya sendiri tanpa permulaan absolut, maka harus dibiasakan untuk memahami dua ide yang kontradiktif secara bersama-sama, walaupun ia sepenuhnya dihabiskan dengan membaca setiap teks dalam model-model tertentu, dan hanya memfokuskan diri pada tulisan-tulisan itu sendiri tanpa mengindahkan pengantar-pengantar atau komentar yang sering kali membebani kebebasan dalam membaca.

Fyuh, suatu kalimat yang panjang dan rumit sehingga setelah membaca berkali-kali pun saya tidak bisa memahaminya. Anda mungkin berpendapat bahwa saya mungkin telah melepaskan kalimat ini dari rangkaiannya. Tapi, Anda harus mencoba membaca sendiri bukunya, mungkin saja Anda sepakat bahwa kalimat panjang ini adalah kalimat yang rumit dan tidak mudah untuk dimengerti.

Baru saja selesai membaca buku “Ahmad Khan, Bapak Tafsir Modernis” karangan Taufik Adnan Amal, terbitan Teraju, Mizan. Cukup menarik dan beberapa pemikiran di sana cocok dengan yang saya sepakati. Namun memang pemikiran ini cukup kontroversial seperti yang dianut oleh Jaringan Islam Liberal di Indonesia.

Khan menegaskan pentingnya akal dalam menafsirkan Qur’an. Di sini, Khan bahkan sampai kepada metode “ekstrim” dengan menafikan hadits meskipun Khan sendiri menolak untuk dianggap sebagai seorang yang ingkar terhadap hadits. Menurut telaahnya, sangat sulit untuk membuktikan bahwa hadits-hadits yang ada sekarang adalah shahih. Dengan metode ketat, Khan menyebutkan bahwa hanya terdapat 5 hadits saja yang bisa dikatakan shahih.

Oleh karena itu, Khan kembali pada Al-Qur’an. Namun, kembali pada Qur’an mengharuskan Khan untuk membaca kita suci ini dengan menggunakan akal. Kajian filologis yang dilakukannya menunjukkan bahwa sangat riskan untuk mendasarkan tafsir Qur’an berdasarkan makna bahasa yang diwarisi dari jaman nabi. Tak ada seorang pun yang menjamin bahwa pemaknaan yang ada sekarang adalah pemaknaan yang cocok dengan pemaknaan pada saat nabi hidup. Hal ini dikarenakan sifat alamiah dari bahasa yang terus berubah.

Oleh karena itu, Khan menegaskan bahwa untuk menafsirkan Qur’an, kita harus mencari penjelasan di dalam Qur’an sendiri dan dari alam semesta, dari hukum-hukum alam. Khan banyak mengajukan argumen rasional yang terkadang memang besifat spekulatif. Khan mengingkari keberadaan mu’jizat dan menafsirkannya dengan spekulasi normatif.

Prinsip dasar Khan dalam menafsirkan Qur’an adalah conformity to nature. Antara alam semesta dan Qur’an, dua-duanya tak mungkin saling bertentangan. Oleh karena itu, jika ada wakyu yang bertentangan dari hukum alam objektif yang telah mapan, Khan mengatakan bahwa pemaknaan atas wahyu tersebut adalah salah. Bukan wahyu itu sendiri.

Adakah bedanya manusia dan batu? Pertanyaan yang mungkin bodoh untuk ditanyakan. Tapi, pernahkah Anda berpikir bahwa mungkin saja jawaban yang biasa dilontarkan sebenarnya bukanlah jawaban yang tepat. Sesuatu yang jelas itu mungkin saja mengandung kesalahan yang dilupakan atau tak disadari.

Bedanya banyak, salah satunya adalah antara hidup dan mati. Tapi apakah hidup?

Beda lainnya adalah keberadaan akal dan tidak. Tapi, apakah akal?

Saya yakin, dua pertanyaan terakhir tidak terlalu mudah untuk dijawab jika kita mau berpikir sedikit lebih teliti. Lalu, jika jawaban dua pertanyaan itu tadi tidak begitu mudah dijawab, bukankah dengan demikian pertanyaan awal tadi juga menjadi tidak mudah untuk dijawab?

Saya mungkin telah berpikir terlalu rumit. Saya mungkin telah mengada-ada. Tapi akhir-akhir ini, saya merasa tak berbeda dengan sebuah batu.

Yang menarik, kesadaran itu sungguh-sungguh membuat saya bahagia. Bukan bahagia karena memiliki banyak hal. Tapi bahagia karena merasa tak menginginkan apa-apa.

Sedang berada di tengah-tengah rapat. Kata-kata seperti “daftar list” dan “lebih prefer” bermunculan. Saya yakin bukan untuk bergaya, mereka hanya tak sadar saja. Sayangnya, saya baru sadar bahwa kata-kata seperti ini menular!! Karena tidak hanya satu orang yang berkata-kata seperti itu ternyata, ck..ck..ck..

Tadi main-main ke www.kernel.org dan menemukan di archive mereka linux versi 0.01. Jumlah filenya sedikit sekali. Hanya ada 88 file dengan keseluruhan ukuran hanya 230KB!

Jika saya tidak salah menduga, inilah linux yang pertama kali dilempar oleh Linus ke dunia maya dan menjadi awal dari sistem operasi yang bergambar penguin ini (Tux).

Untuk orang yang ingin belajar sistem operasi, ini tentu harta yang luar biasa. Di mana lagi seseorang dapat belajar sesuatu yang kompleks seperti sebuah sistem operasi dari awal, selain di linux tentu saja.

Viva Open Source!!

Tampaknya tanggung sekali. Setelah menulis tulisan sebelum ini, saya mungkin juga harus menanyakan salah satu pertanyaan yang sudah lama mengeram di benak saya. Banyak sekali orang yang pernah mengajukan jawaban terhadap pertanyaan ini. Tapi tak ada yang memuaskan saya sama sekali. Ini pertanyaan yang mirip dengan yang ditanyakan oleh tokoh utama dalam novelnya Sommerset Maugham berjudul “The Razor’s Edge”.

Jika Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa masih ada penderitaan di muka bumi ini?

Hari ini saya shalat jum’at di Salman. Di tengah-tengah khutbah, khotib berbicara tentang kebebasan yang diberikan oleh Islam dalam memilih agama. Islam tak pernah memaksa orang untuk memeluk Islam. Jika Anda yakin silahkan. Jika tidak silahkan.

Saya berpikir bahwa keyakinan bukanlah suatu keputusan. Iman atau tidaknya kita, tidak bergantung kepada suatu keputusan yang perlu diambil. Saya juga tidak yakin bahwa kita bisa memilih apa yang kita yakini. Keyakinan atau iman ada dalam diri kita sebagai sebuah hasil dari kehidupan kita.

Jika sejak lahir kita telah berada dalam lingkungan Islam, maka kita diindoktrinasi dengan segala nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, keyakinan terhadap Islam sebenarnya telah dibenamkan dalam diri kita sejak kecil. Jika pun ada kasus ketika setelah dewasa, seseorang menjadi tidak yakin, itu pun bukan sebuah proses yang sesaat. Kita tidak memilih suatu keyakinan.

Contoh sederhananya seperti ini. Jika datang kepada Anda seorang yang baru Anda kenal dan berkata bahwa dia telah kehilangan dompet, dan tak punya ongkos pulang, apakah Anda akan percaya?

Anda mungkin bisa memutuskan saat itu untuk memberi uang atau tidak. Tapi, keyakinan Anda bahwa orang itu adalah seorang yang jujur atau tidak sama sekali bukan diputuskan pada saat itu.

Anda memiliki pertimbangan-pertimbangan. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah nilai-nilai yang Anda YAKINI. Nilai-nilai ini ada dalam diri Anda akibat sebuah proses yang panjang, yang melibatkan cara Anda dididik sewaktu kecil, lingkungan tempat Anda besar, pendidikan yang Anda tempuh dan lain sebagainya. Seluruh nilai-nilai yang ada dalam diri Anda, yang membantu Anda untuk membuat keputusan adalah bukan hasil yang diperoleh sesaat.

Nah, jika demikian adanya, iman seseorang juga tidak diperoleh dari hasil sesaat. Lebih jauh, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi nilai-nilai yang Anda miliki, maka iman juga bukan merupakan suatu hasil keputusan yang bebas. Jika Anda berada dalam kebebasan memilih iman, maka Anda bisa saja beriman hari ini pada agama Islam dan besok berimana pada agama Kristen. Tapi kenyataannya tidak demikian bukan? Anda tidak bisa berpindah iman seperti Anda membalikkan telapak tangan.

Jadi, iman bukanlah suatu hal yang diputuskan. Sama dengan cinta. Anda tidak memutuskan untuk mencintai seseorang. Anda ‘ditimpa’ oleh rasa cinta terhadap seseorang. Anda tidak bisa berkata “ah, saya jatuh cinta hari ini kepada si A, tapi besok nggak dulu cinta deh.” Tidak bisa begitu. Frasa jatuh cinta menandakan bahwa mencintai seseorang adalah sebuah hal yang terjadi pada Anda dan bukan suatu hal yang terjadi oleh Anda. Begitu pula iman. Anda iman kepada Islam adalah sesuatu hal yang terjadi pada Anda dan bukan sesuatu yang terjadi oleh Anda.

Namun, di mana peran akal? Dengan menggunakan akal, tampak apa yang saya katakan baru saja tidak benar. Dengan akal, Anda merasa bahwa mengimani sesuatu adalah benar-benar pilihan. Dengan akal, Anda dapat menentukan mana yang patut dipercayai dan mana yang tidak. Anda bisa melakukan analisis. Hasil analisis tersbutlah yeng membuat Anda menjadi subjek yang aktif dalam memilih suatu iman.

Tapi benarkah demikian? Bukankah akal hanya menggunakan nilai-nilai yang ada untuk mengambil suatu kesimpulan logis. Akal selalu bekerja dengan asumsi sebagai premis dasarnya. Asumsi-asumsi ini adalah nilai-nilai yang telah ada dalam diri Anda. Anda tidak bebas untuk memilih nilai-nilai ini karena sebab yang telah saya kemukakan sebelumnya. Kebebasan yang dimiliki akal adalah proses deduksi dari nilai-nilai itu.

Proses deduksi inilah yang sepenuhnya Anda kuasai. Namun ini tidak berarti bahwa Anda menjadi bebas memilih iman. Karena tanpa adanya nilai-nilai sebagai asumsi tadi, Anda tetap tidak akan mengambil kesimpulan bahwa suatu keyakinan adalah paling baik di antara keyakinan-keyakinan lainnya.

Dengan demikian, jalan yang harus yang ditempuh dalam menemukan suatu keyakinan yang benar adalah melepaskan diri dari nilai-nilai yang telah jadi dalam diri Anda. Anda harus mempertanyakan segala nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh lingkungan Anda dari sejak Anda kecil.

Jika Anda ingin menggunakan akal, maka pertama sekali, Anda harus mempertanyakan asumsi-asumsi yang Anda miliki. Cara kerja akal tetap, tidak berubah. Hanya asumsi-asumsi yang berubah.

Untuk itu, Anda harus menjadi seorang filosof terlebih dahulu. Seorang filosof adalah orang yang sering mempertanyakan nilai-nilai yang biasanya sudah dianggap benar dalam masyarakat.

Jika Anda telah mencapai nilai-nilai yang benar, maka Anda dapat memutuskan keyakinan mana yang benar berdasarkan nilai-nilai yang Anda miliki tadi. Tapi di sini, Anda bukan berhenti pada suatu keadaan iman. Di sini, Anda beropini.

Nah, akhirnya saya ingin mengatakan bahwa iman akan selalu bersifat taklid. Taklid berarti sebuah iman, bukan merupakan sesuatu yang didapatkan dari sebuah proses berpikir logis. Iman adalah sebuah proses hati. Sebuah rasa. Sebuah keadaan di mana pertanyaan mengapa tak ada jawabannya. Kita beriman berarti kita percaya. Titik. Tidak ada pertanyaan mengapa percaya? Karena jika kita masih bisa menjawab pertanyaan itu, kita bukan mengungkapkan iman kita, tapi mengungkapkan opini kita.

Di sinilah jelas bahwa iman dan akal adalah dua hal yang terpisah. Immanuel Kant telah menyebutkan ini.

Jadi jika Ada yang mengatakan bahwa fitrah seorang manusia adalah percaya kepada Tuhan, dan seorang Atheis pun sebenarnya adalah seorang yang percaya kepada Tuhan, saya berpendapat bahwa ada kebenaran sekaligus keterburu-buruan di sana.

Pertama, benar karena setahu saya, seorang atheis adalah bukan seorang yang memiliki iman akan ketiadaan Tuhan, tapi seorang atheis adalah seorang yang beropini bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika sang Atheis itu sejak kecil dididik dalam lingkungan Theis, maka bukan tidak mungkin dalam hati terdalamnya, tersembunyi kepercayaan terhadap Tuhan. Mungkin bentuknya adalah sebuah dendam atau kemarahan terhadap Tuhan.

Kedua, terburu-buru karena tidak semua manusia dididik dalam lingkungan Theis. Dengan menggunakan hipotesis yang telah saya uraikan di sini dan dengan hipotesa tambahan bahwa yang namanya fitrah adalah nilai-nilai umum yang dianut masyarakat yang diajarkan kepada seseorang sejak kecil, maka tak ada fitrah bahwa semua manusia pada dasarnya percaya kepada Tuhan. Hanya karena Theis lebih banyak dari Atheis bukan berarti bahwa fitrah manusia memang percaya akan adanya Tuhan.

Jika benar semua yang saya katakan di atas [dan saya sama sekali tidak berpretensi bahwa argumen-argumen yang saya kemukakan di sini tidak ada yang konyol], maka suatu pertanyaan yang menarik bagi saya adalah:

Jika iman bukan pilihan, jika iman adalah sesuatu yang ditimpakan kepada ktia, mengapa Tuhan menyediakan neraka dan surga? Ini sama saja dengan membuat sebuah karakter jahat dan menghukum karakter itu karena jahat, padahal dia sama sekali tidak memiliki kebebasan untuk berada dalam kebaikan.

Pertanyaan ini telah berusia lama dalam benak saya. Dalam contohnya yang lain adalah sebuah keheranan mengapa saya yang melihat secara logis bahwa hantu tidak ada masih merasakan bulu kuduk merinding setelah menonton film hantu.

Maghrib tadi saya shalat di Mesjid Agung Bandung. Pernah denger keluhan orang yang bilang “sekarang mah kencing aja mesti bayar”? Nah, saya jadi berpikir sama. Sekarang, buat shalat aja mesti bayar. Luar biasa.

Memang yang saya maksud bayar bukan untuk masuk ke dalam mesjid. Yang saya maksud bayar adalah untuk penitipan sendal dan toilet. Saya sebut bayar karena ternyata memang wajib bayar. Sewaktu saya menitipkan sendal bahkan si penjaganya sudah minta uang duluan. Sewaktu saya habis kencing dan saya coba lewat tanpa memberi uang, penjaganya menagih.

Besarnya tentu relatif tak seberapa, masing-masing hanya seribu. Tapi kok serasa ada unsur komersial di sana. Kotak tempat menyimpan uangnya saja bertuliskan infak. Bukankah infak seharusnya bersifat sukarela.

Sekarang bagaimana jika saya tidak punya uang sepeserpun. Apa saya lantas tidak bisa shalat di Mesjid Agung?

Oh ya bisa mas .. asal jangan kencing dulu .. asal jangan menitipkan sendal. Masa sih kayak gitu?

Next Page »