
Bahan : Kayu Jati
Panjang : 225 cm
Lebar : 85 cm
Tebal : 12 cm
Harga : 35 juta nego
Hubungi : Ibu Anna, 08157 3 1415 42
December 29, 2008

Bahan : Kayu Jati
Panjang : 225 cm
Lebar : 85 cm
Tebal : 12 cm
Harga : 35 juta nego
Hubungi : Ibu Anna, 08157 3 1415 42
December 25, 2008
Banyak sekali yang harus dipelajari. Perbedaan antara heap dan stack. Bagaimana gaya pemrograman Object-Oriented harus diimplementasikan dalam pemrograman GUI. Apa sebenarnya pemrograman berorientasi objek itu dan lain sebagainya.
Sementara, deadline semakin dekat.
Todo: Masih belum implementasi human skeleton model using OpenGL (Can’t i just import biped from 3dsMax? If i can, will the joint parameters be available to me?)
December 24, 2008
Akhirnya ada waktu luang juga untuk menginstall Linux. Ubuntu 8.04 (Hardy Heron) terpasang di hard disk yang sama dengan Windows XP. Banyak yang mesti didownload untuk melengkapi, seperti Wine, Virtual Box dan nVidia driver walaupun ternyata semuanya telah tesedia di DVD bawaan Info Linux yang pernah dibeli. Habis deh quota Speedy ku
.
Anyway, Linux ternyata not bad. Tidak susah hanya belum terbiasa. Sebelumnya di kantor coba install Ubuntu 7.10 di Virtual Box dan karena memori yang kurang, main uninstall banyak paket yang tidak perlu. Tahunya tiba-tiba desktopnya gak jalan dan akhirnya harus main-main di text-based. Tapi tak apa karena asyiknya Linux di sana.
Salah satu yang mungkin agak merisaukan ketika bekerja di Linux namun tetap harus berhubungan dengan desktop Windows adalah masalah font. Di Linux tak ada Times New Roman, Arial dan font-font lain yang biasa kita jumpai di Windows. Saya gak tau apakah ini adalah sebuah masalah besar. Apakah semua yang kita ketik di OpenOffice dengan font yang tidak ada di Windows akan membuat tulisan kita jadi missing-font? Iya kali ya
Tapi Blender manis sekali dalam fullscreen mode. Mungkin sugesti tapi rasanya lebih mantap pake Blender di Linux daripada di Windows. Mungkin karena setiap kali jalanin Blender di Windows, harus selalu muncul layar console sehingga perasaan Blender bukan aplikasi yang mantap nanceb di Windows. Di Linux, Blender memang merasa seperti di rumah sendiri.
Overall, Linux memang hebat. Two Thumns Up.
December 23, 2008
Here i read from the legal notice page of “The Linux Kernel” by David A. Rusling
“These restrictions are here to protect us as authors, not to restrict you as learners and educators.”
December 22, 2008
Hari ibu selalu lewat tanpa ada apa-apa. Padahal, ibu adalah seseorang yang ada di dalam rongga dadaku. Besar dan tak mungkin terindahkan.
Ibu adalah seorang manusia. Oleh karena itu tidak sempurna. Dulu, aku sering melawan ibu. Kata-kata yang pernah kuucapkan, mungkin sekali telah pernah menyakitinya. Kini, aku bersyukur aku merasa tak akan mampu untuk mengeluarkan semua kekejian itu. Ibu begitu lemah dan betapa kejamnya aku jika hatinya aku sakiti.
Tapi, aku tak biasa berkata-kata manis. Aku tak diajarkan untuk mengatakan sayang kepada ibu. Dulu aku pernah mengatakannya. Itu ketika ibu menangis baik karena ulahku atau karena ulah kakak-kakakku. Tapi kini, tanpa ada kejadian, tanpa ibu menangis, aku tak bisa datang kepada beliau dan mengatakan sayang. Aku hanya bisa menunjukkannya dengan perbuatan.
Kepada seseorang aku pernah mengatakan bahwa jika aku memiliki anak nanti, aku ingin dia bisa mengatakan sayang tanpa ragu. Sayang yang tulus tentu indah sekali didengar dalam bentuk kata-kata. Dan aku ingin anakku tahu bahwa mengatakannya sama berarti dengan melakukannya.
Hanya orang-orang yang telah melakukannyalah yang berhak untuk mengatakannya.
Ibu, kau tak jadi duri dalam hidupku. Aku ingin membahagiakanmu. Tapi jika aku terlihat gugup dalam mewujudkannya, semoga engkau dapat menerima aku sebagai anak yang pemalu. Semua kebaikan yang telah kulakukan untukmu, kalaupun tak pernah cukup membalas semua jasamu, kuharap dapat kau simpan dalam hati sebagai kado dariku.
Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyayangimu. Tapi ijinkan aku untuk tak berkata-kata tentang itu.
Dan keinginan yang lebih besar lagi adalah aku ingin kau bahagia, bagaimanapun bahagia yang kau bayangkan.
Bahagialah ibu, bahagia.
December 22, 2008
Sebentar lagi tahun berganti. Saya ingat dulu ketika mengirimkan sms untuk seseorang di detik-detik pergantian tahun. Bunyi sms-nya seperti ini:
“Apa bedanya sekarang atau nanti, jika hari ini dan kemarin sama saja.”
Terlepas dari konteksnya, saya kadang merenungi lagi kata-kata yang muncul spontan ini. Rasanya memang ada hal-hal yang tetap keukeuh keras kepala untuk tak berubah meski waktu telah menggerus-gerusnya. Jika itu kebaikan, kita harus bersyukur. Setidaknya itu adalah hal minimal yang patut kita miliki dibandingkan sebuah penurunan. Tapi jika itu adalah sebuah keburukan?
Saya tahu seseorang yang memiliki jiwa sederhana. Dia bukan orang yang di kepalanya bertengger dengan gagah prinsip-prinsip berat dan matang. Dia hanya seseorang yang mengaku dirinya tidak pintar, kadang melakukan kesalahan dan kadang ngambek jika dinasihati. Tapi, rupanya tidak sulit untuk mengajarkan kepadanya untuk menjadi lebih baik.
Kesederhanaannya membuat dia tidak gengsi untuk berubah. Dia diam-diam mengakui segala tindakan salahnya dan mau mengubah diri. Dan saya tahu, di setiap pergantian tahun, catatan perubahan baiknya semakin bertambah.
Dia tidak sempurna dan tak akan menjadi sempurna. Tapi, ketika dia tidak lagi melakukan hal-hal yang buruk, dia telah mengundang senyum di bibir saya.
Dan saya mengucap Alhamdulillah.
December 21, 2008
Terang itu relatif. Dipandang dari arah yang tepat, cahaya akan cukup menerangi. Tapi sebaliknya, dilihat dari sudut yang tidak tepat, bayangan dan gelap yang akan terlihat.
Jika kau marah sayang, jika kau kesal, buatlah selalu hatimu seperti sebuah saklar, gantilah sudut pandangmu, gantilah semudah menekan saklar. Bersamaku, mari kita belajar untuk melihat dunia ini dari sudut yang penuh tawa.
Karena bukankah semua ini tak memiliki arti apa-apa.
December 20, 2008
Superman tidak lagi berjaya. Kemarin dia mendapatkan kekuatan supernya menghilang. Dia melangkah lesu di sepanjang jalan, mencoba memikirkan alasannya. Mungkin dia telah mempergunakan kekuatannya itu untuk sesuatu yang salah. Atau mungkin dia telah menjadi arogan. Apa pun itu, dia tampak lesu.
Mungkin dia kini telah tua dan dunia tak lagi percaya kepadanya. Seperti juga manusia lainnya, ketika bertambah tua tubuhnya menjadi lemah. Penyakit menjadi mudah masuk. Dia merasa punggungnya memang mudah nyeri dan sendi-sendinya ngilu.
Akhir-akhir ini dia memang merasa lelah sekali. Setiap kali dia merentangkan tangannya ke depan dan terbang, dia merasa tubuhnya terasa seperti sebuah mesin yang mur-murnya akan copot. Dia tidak kuat terbang lama dan akan selalu segera turun serta memilih berjalan saja. Dia merasa berjalan lebih kurang menyakitkan daripada terbang.
Dan hari ini, dia tidak bisa terbang sama sekali. Dia mencoba mengangkat tubuhnya, tak satu sentipun tubuh itu mengambang di atas lantai. Jubahnya hanya tersibak angin pelan lalu turun dan jatuh tak mengembang. Dia menunjukkan kepala/
Ia mencoba kekuatannya yang lain, sinar laser dari matanya. Ia ambil sebuah logam usang dan mencoba untuk memotongnya. Taka ada sinar laser yang keluar dari matanya. Dia mencoba meningkatkan konsentrasi, tapi nihil. Dia benar-benar telah kehilangan kekuatan supernya.
Akhirnya dia berjalan mendekat ke arah cermin. Ia lihat kerut-kerut di wajahnya. Luar biasa, ternyata seberapa super pun dia, alam tetap mengalahkannya.
Kini ia hanya duduk diam dan tenang. Ia membayangkan masa tua yang tenang. Ia mungkin ingin memiliki cucu. Ia ingin tinggal di desa dengan rimbun pohonan dan kokok ayam. Ia ingin mengubah nama. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan mengerjakan pekerjaan yang ia senangi: berkebun.
Superman akhirnya memutuskan untuk menanggalkan baju biru kebesarannya. Tulisan S di dadanya ia pandang lama. Banyak yang telah ia lakukan, tapi kini semuanya berakhir. Harus berakhir. Ia berharap seseorang akan menggantikannya. Dan ia berharap, semua yang baik akan mengalahkan semua yang jahat.
December 15, 2008
Orang yang terlalu banyak berpikir abstrak, cenderung melupakan komplekstias hidup. Dan pada ujungnya mereka sering menyederhanakan masalah.
Anda setuju?
December 14, 2008
Hari Sabtu kemarin saya seangkot dengan serombongan anak SMA. Tampaknya mereka tengah menjalani masa ujian akhir semester. Beberapa anak tampak memegang buku dan sesekali membacanya. Selangan membaca itu adalah mulut mereka yang komat-kamit tampaknya mencoba menghapalkan yang mereka baca. Saya berhasil melirik ke salah satu buku yang tengah mereka baca: pelajaran Bahasa Indonesia.
Di halaman yang saya baca, tertata dengan rapi teks pelajaran tentang paragraf. Ada definisi yang tulisannya seperti ini: “Paragraf adalah …”. Setelah definisi ada ciri-ciri paragraf yang diuraikan dalam beberapa poin. Salah satu yang saya baca adalah bahwa ciri suatu paragraf adalah memiliki satu pikiran utama.
Membaca itu semua saya tercengang.
Sudah sekian belas tahun jarak saya dari SMA. Tapi ternyata metode belajar anak sekarang tidak berbeda dengan waktu saya dulu. Padahal, setahu saya telah banyak pakar pendidikan yang menyuarakan bahwa belajar dengan cara menghapal adalah suatu kesalahan. Kapan murid-murid sekolah itu akan diajarkan untuk berpikir analitis?
Mungkin saya terlalu cepat menarik kesimpulan. Guru sekarang tentu telah bertambah pintar dan mereka tahu apa yang baru saja saya sebutkan. Tapi, melihat dari cara buku teks yang saya curi-curi baca itu, saya jadi merasa bahwa tak ada kemajuan sama sekali dalam pendidikan kita. Dan ini sangat memprihatinkan.
Saya senang bahwa Ahmad Heryawan akan menolak anggaran daerah yang tidak mengalokasikan dana untuk pendidikan sebesar 20%. Mudah-mudahan ada revolusi dalam cara murid sekolah belajar dan cara guru mengajar.