4 batang Djarum Super = Rp2.800
Total:201 batang; Rp129.300
October 31, 2008
4 batang Djarum Super = Rp2.800
Total:201 batang; Rp129.300
October 31, 2008
4 batang Djarum Super = Rp2.800
Total:201 batang; Rp129.300
October 31, 2008
Lihat posting tepat di bawah posting ini? Tadinya tulisan tidak serius ini akan diteruskan di sana. Tapi, lebih baik bikin judul baru saja. Agar lebih fokus dan bisa berganti gaya penulisan.
Adanya sikap pro dan kontra dalam isu UU Pornografi diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang terhadap suatu masalah. Jika ditanyakan kepada kedua kubu, apakah mereka setuju sebuah film biru ditonton anak-anak atau dijual di jalanan, saya yakin mereka sepakat untuk menolaknya. Paling jauh, orang dari kubu CON akan meminta penanya untuk mendefinisikan yang dimaksud dengan film biru. Untuk pertanyaan itu, konflik dapat dihilangkan dengan membawa satu contoh film dan menunjukkan kepada orang tersebut. Maka, pembahasan jadi akan berpindah pada masalah film yang dibawa itu adalah film biru atau bukan. Tapi tentu saja kita yakin, dalam tahap ini kedua kubu (jika memang memiliki niat yang tidak bias), akan mudah untuk sepakat dibading untuk berbeda pendapat.
Dari sana, maka kita lihat bahwa sebenarnya kedua kubu memiliki kesamaan. Mereka sama-sama menolak suatu bentuk kebejatan moral. mereka sama-sama menolak eksploitasi anak. Mereka sama-sama menolak suatu bentuk asusila terjadi di masyarakat. Mereka sama-sama memiliki niat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Lalu, di mana letak percik api penimbul bara?
Jika dibaca, frasa “mengesankan ketelanjangan” memang sedikit lucu. Jika dipikirkan, kata-kata “menimbulkan hasrat seksual” memang agak menggelikan. Bukan dari segi maksud yang ingin disampaikan oleh kata-kata itu. Tapi dari segi kelayakan kata-kata tersebut berada di wilayah hukum. Masalahnya bukan substansi, masalahnya ada di bahasa.
Nah, di sinilah saya melihat emosi dari kedua kubu. Pihak PRO ngotot menyangka pihak CON ingin melestarikan pornografi di masyarakat. Pihak CON menyangka bahwa pihak PRO telah menghasilkan UU yang sangat membahayakan karena meletakkan hukum di bawah platform yang bergoyang.
Kedua kelompok cenderung untuk membesar-besarkan perbedaan yang kecil dan mengecilkan kesamaan yang besar. Pihak PRO seharusnya dapat belajar untuk mengerti sifat dari hukum dan pihak CON seharusnya mengusulkan untuk mengubah redaksi dari UU dan bukannya malah menuntut untuk tidak disahkannya UU itu.
Pada akhirnya, kedua kelompok ini menunjukkan kondisi di Indonesia. Apa yang terpotret? Bahwa terdapat banyak sekali pihak yang memiliki ideologi berbeda di sini. Pihak-pihak tersebut, dalam skala “kecil”, tengah melangsungkan suatu psywar. Jika sekarang gesekan yang terjadi sudah menunjukkan bahwa mereka tidak dapat menyelesaikannya dengan kepala dingin, bukan tidak mungkin konflik yang lebih besar nanti akan terjadi. Tapi mudah-mudahan saya salah. Wong ya saya bilang juga di atas tulisan ini tidak serius kok.
October 31, 2008
Sebuah media ternyata tidak pernah bisa netral. Seperti juga manusia, sebuah media pasti memiliki sikap terhadap isu tertentu. Tidak bisa kita mengharapkan sebuah media hanya menampilkan fakta apa adanya. Bagaimanapun cara menuliskannya, sebuah fakta harus “dipotret” dari sudut tertentu. Dan sudut ini sangat mungkin dibidik dari arah yang subjektif.
Koran Tempo hari ini menunjukkannya. Sikap TEMPO GROUP memang sudah jelas. Mereka menentang pengesahan RUU Pornografi. Dan ini ditunjukkan dengan headline hari ini.
Koran Tempo menuliskan pasal-pasal yang menjadi sengketa di dalam UU Pornografi. Kutipan pasal-pasal ini juga disertai dengan alasan mengapa pasal-pasal ini “bermasalah”. Dalam snapshot beritanya, dipilih berita penolakan dari beberapa daerah. Dari semua komponen berita itu, jelas Koran Tempo ingin menunjukkan bahwa pengesahan UU Pornografi adalah sebuah kesalahan.
Mari bandingkan dengan Pikiran Rakyat (PR). Berita pengsahan UU Pornografi di PR tidak mendapat tempat utama. Dari uraian yang dituliskan, PR lebih cenderung untuk bersikap “diam”. Beritanya tampak datar namun tetap saja bahwa sudut yang diambil mengesankan bahwa PR bersikap mendukung pengesahan UU Pornografi. Dengan “diam”nya, PR memilih untuk tidak menunjukkan adanya gejolak dalam isu ini. Dan ini bisa saja merupakan indikasi dari pilihan sikap PR tersebut.
October 31, 2008
Saya baru sadar sekarang bahwa tidak setiap detik dalam hidup, kita memiliki suatu keinginan. Pagi ini, saya tidak ingat menginginkan sesuatu .. Itu suatu tanda syukur akan kecukupan atau tanda abai akan nikmat ya?
October 30, 2008
Ini daerahku. Aku bebas untuk menggariskan apa saja. Panjang pendek. Tebal tipis. Anda akan datang ke sini dan bilang jangan? Maaf, saya pasti tertawa. Bukan karena saya berani melawan Anda. Tapi karena saya kira itu adalah sebuah lelucon. Anda tahu salah satu bahan yang membuat sesuatu menjadi lucu? Absurditas. Ya, absurditas.
Jika Anda bertanya kepada seorang pengemis “apa yang diinginkannya” lalu dia menjawab “mac book air”, Anda pasti tertawa: karena absurd.
October 30, 2008
Saatnya tidur itu bukan digunakan untuk bekerja. Dan saatnya bekerja itu bukan digunakan untuk tidur. Waktuku terbalik-balik. Waktuku terbalik-balik.
October 30, 2008
Dan dari rimbunnya dedaunan dia melayang kian kemari. Hampir saja hinggap di hidungku yang pesek. Gadis kecil itu berlari-lari sambil tertawa. Roknya melayang tersibak angin. Dedaunan belum lagi akan gugur hari ini meski warnanya telah memerah semu. Tiba-tiba ada seseorang mendentingkan bel sepeda. Alice menoleh.
“Mau ke mana?”
Yang ditanya hanya tersenyum.
“Boleh meminjam layang-layangmu nanti sore. Tampaknya hari akan cerah.”
Masih dengan senyum dan kini tampak anggukan. Alice terkekeh.
“Kau masih saja seperti itu.”
Keduanya berpisah cepat karena laju sepeda tak mengijinkan mereka saling menatap lama. Tapi, sisa senyum di wajah mereka membuat warna pelangi di lanskap itu.
– Terakhir kali kulukis ini, dalam dadaku masih bergemuruh rindu yang tak bisa kutahan. Hanya beberapa waktu lagi saja saat itu sebelum aku menemuinya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Dan aku marah.
“Alice, kau jadi bermain layang-layangnya?”
“Tentu saja mama,” alice berteriak sambil berlari menuju lapang.
Beberapa anak laki-laki telah menerbangkan layang-layang mereka tinggi. Boyd ada di sana. Sore kemarin, Alice berhasil mengalahkannya dan kini dia tampak ingin sekali membalas kekalahan itu.
“Jangan terlalu bernafsu anak ingusan,” teriak Alice menggoda. “Apakah kau telah berlatih terlebih dulu sebelum membalaskan dendam mu?”
Boyd hanya tersenyum kecut. Ia memperhatikan sejenak layang-layang yang mulai diterbangkan Alice dan ia tampak tak sabar menunggu layang-layang itu meninggi.
Alice tersenyum senang. Nampaknya ia berhasil menggoda Boyd. Ayahnya bilang, salah satu cara untuk mengalahkan orang lain adalah dengan menjatuhkan mentalnya. Alice bangga dengan dirinya sendiri.
–Kebanggaan itu tak berarti harus menjadi sebuah kesombongan. Lihatlah, kau tak akan pernah menemukan satu yang buruk pun di wajahnya meskipun dia telah mengatakannya. Kau pun pasti yakin bahwa dia tak mungkin menjadi seorang gadis kecil yang sombong. Wajahnya terlalu manis: pipinya merah dan matanya jenaka. Rambutnya yang diikat dua menggambarkan keluguannya. Ya, dia lugu karena dia masih anak-anak. Tapi, justru karena dia masih anak-anaklah dia begitu menggemaskan. Dan aku merindukannya. Anda saja …
Alice berteriak-teriak kegirangan. Beberapa kali ia melakukan tarik-ulur untuk menggesek benang layangan Boyd. Layang-layangnya menukik tajam lalu tiba-tiba seperti putus di udara. Boyd sempat tertipu sekali tapi kemudian teriakan kemenangannya diam secepat dia sadar bahwa Alice telah menipunya. Dan Alice balik terbahak dengan kerasnya. Alice tak akan mengejek. Dia hanya ingin memanas-manasi saja.
“Ayo Boyd, jangan kalah di tengah jalan.” teriak Alice.
Boyd tak menanggapinya.
“Kenapa Boyd, kau tak percaya lagi dengan nafsumu tadi?”
“Kau diam saja Alice, aku akan menang kali ini.” Balas Boyd.
Alice tersenyum geli. Dia memulai lagi serangan berikutnya. Dan Boyd pun bersiap.
___________________________ bersambung
October 29, 2008
4 batang Djarum Super = Rp2.800
Total: 197 batang; Rp126.500
October 29, 2008
Ada yang tahu cara membuat GUI untuk aplikasi video player (dibangun dengan pustaka OpenCV) dengan menggunakan FLTK?
Masalahnya adalah saya tidak tahu persis bagaimana FL::run () bekerja. Dalam pembuatan video player menggunakan pustaka OpenCV, kita harus terus menerus mengambil frame dalam sebuah perulangan (loop) tak berhingga (ya minimal sampai tak ada perulangan lagi).
Nah, sekarang Toolkit untuk GUI biasanya juga memiliki sistem sendiri untuk melakukan perulangan tak berhingga. Perulangan ini biasanya dilakukan agar aplikasi dapat memberikan respon setiap kali terjadi masukan yang akan mempengaruhi window. Dengan adanya perulangan tak berhingga, window dapat digambar terus menerus mengikuti masukan dari pengguna.
Sekarang, logikanya perulangan tak berhingga harusnya ada satu. Saya tak tahu, apakah model thread seperti dalam Java ada di C++. Jika ada, sebenarnya saya bisa memiliki dua perulangan tak berhingga. Tapi, saya tidak tahu bagaimana membuat thread dengan menggunakan C++.
Ada yang bisa bantu ga?