September 2008


sebelum dia keluar dari kamarnya, dia lama sekali berdiri di depan cermin. ada beberapa jerawat yang mengganggu penampilannya, tapi bukan itu yang tengah dipikirkannya. dia mengingat banyak sekali waktu yang telah lewat. dan cermin itu seperti rekaman yang tak mau berhenti.

hampir saja dia berkeluh kesah. tapi diurungkan niat seembus napas yang ingin ditiupkannya. dia sadar, tak ada ruang untuk itu di mana pun. dia tengah berjaga-jaga dari segala sesal. karena satu sesal dapat beruntun menghasilkan sesal yang lain. dia tahu benar itu.

jadi, ditutupkannya mata, agar cermin itu tak menatap balik. ia memutarkan badan, meski dengan segenap ragu. tapi, arah tubuhnya kini berganti. pintu bertirai itu kini di hadapannya. dia tahu persis. maka dibukanya mata.

tapi, dia tak menemukan apa-apa. bukan, dia menemukan banyak hal malah, tapi semuanya dalam lingkupan kabut yang maha putih. dia memicingkan mata.

ada banyak yang ia ingin ketahui dari masa depan. tapi ia tahu kesia-siaan. ia memicingkan mata lebih keras. tapi malah katupnya yang kini terasa sakit. ia menggelengkan kepala. menegur dirinya yang mencoba-coba.

sekarang, ia hanya harus melangkah. pinut kamar itu pasti ada di sana. di balik kabut yang mudah ia lalui. hanya masalah waktu. ia memberanikan diri.

langkah pertamanya terasa berat. jantungnya berdegup keras. detik di dinding membimbingnya. detik di dinding selalu membimbingnya, ia suka ataupun tidak.

ia bertekad tak akan berhenti. oh tidak, ia bertekad hanya akan berhenti sesekali. yang ia tekadkan sebenarnya ia tak akan berhenti untuk menoleh ke belakang. karena ia tahu cermin itu akan kembali menegurnya lagi. mata yang ada di sana selalu terlihat tak ramah.

langkahnya sekarang telah beberapa. tirai yang tadi kabur sekarang terlihat kibarannya. sejangkauan tangan saja, dan dia merentangkan ototnya. nah, ini rasanya menyibak tabir, penuh dengan napas keberanian.

waktu yang dilewati boleh dirangkumkan, ia merasa tiba-tiba. tubuhnya berada di sana dan tubuh-tubuh yang lain ada di sana pula. semuanya tersenyum. benarkah? ia sangsi.

kawan-kawannya datang memeluk dan menyalami. yang benar dekat bahkan mencium pipinya. dia membalas semua sambil mencucurkan air mata.

“ah, kau, semakin cantik saja,”

“bukan aku yang membuatnya, mas”, ujarnya.

“tak apa, aku tetap mengatakan yang benar.”

dia tak meredakan senyum.

“adakah mas memaafkan saya?”

“apa ada yang perlu dimaafkan?”

“mungkin ada”

“kalau begitu itu tak penting karena aku telah melupakannya.”

“seperti menulis di atas pasir kan mas?”

“seperti menulis di atas pasir.”

ah, dia bahagia sekali. andai semua orang juga bahagia.

seseorang pernah bertanya kepada dirinya, jika ia dapat dilahirkan kembali, ingin jadi apa dia? jawabannya terasa jelas sekali saat ini. tapi dia hanya berbisik. ke dalam hatinya pula. tak ada orang yang tahu. dan hatinya tak akan membocorkan rahasia itu.

jika senja itu akhirnya datang juga, ia ingin saat itu adalah sekarang. atau beberapa saat lagi. tepat saat bahagianya sampai di puncak rasa.

jika kematian itu datang, ia ingin itu datang saat ini, atau beberapa saat lagi, saat ketika ia dilahirkan kembali.

Algoritmanya seperti apa? Karena secara manual menentukan titik yang akan dilacak membuat titik-titik itu bukan goodFeaturesToTrack. Lalu? Buat suatu Region of Interest untuk segmen-segmen tubuh, lalu lacak goodFeaturesToTrack yang ada  di setiap segmen itu. Taip, return-nya apa? Karena satu segmen bisa saja memiliki features yang tidak terdistribusi secara merata? Jadi?

Bagaimana jika dibuat menjadi lebih mudah? Sediakan environment yang terkondisikan. Artinya, capture gambar di belakang warna biru (blue screen). Lalu, extract background-nya. Satu atau dua kamera? Dua saja, satu itu sangat sulit. Jadikan saja itu nanti sebagai proyek selanjutnya.

Setelah extract background-nya?

Nah ini dia, apa selanjutnya?

Mari belarjar bagaimana manusia mengenali gerakan manusia lain.

Pertama, mata kita selalu bekerja bersama otak. Otak sudah terlatih untuk mengenalu manusia. Jadi, sistemnya harus juga terlatih mengenali manusia. Ada data haarcascade_fullbody.xml, tapi setelah dicoba kok gak reliable. Beda ketika yang digunakan haarcascade_frontalface_alt2.xml. Tracking wajah cukup bagus. Tapi mungkin harus dicoba lagi.

Alternatif?

Dengan background substraction, masalah human identification dapat diselelsaikan. Sekarang masalah motion recognition. Bagaimana menentukan torso dan limbs? Manual? Otomatis? Algoritma apa yang harus dipakai? Feature apa yang harus digunakan? Lalu, masalah features correspondence?

Waduh, makin hari makin nambah ilmu dan makin bingung. Padahal waktu semakin dekat. Padahal keinginan sudah semakin kuat untuk cepat-cepat beres.

Gimana atuh?

Enam (6) batang Djarum Super × Rp 700 = Rp4.200

Total: Rp3.500 + Rp4.200 = Rp7.700

ada banyak bentuk yang dapat kau lihat. warnanya pun bisa datang bermacam-macam. jika kau terbiasa dengan oval, cobalah sekali-kali piramid. jika jingga yang kau suka, mengapa tidak bubuhi merah agar jadi magenta.

dengan berbagai bentuk kita bisa membuat berbagai dunia. jadi, tak perlu begitu suka dengan satu bentuk saja. jika bisa, buat semuanya dari garis-garis yang bisa membelah, putus, menyambung, melengkung dan lurus bengkok. Agar ketika kau menginginkan matahari, kau tidak malah membuat tembok.

seseorang telah lama menghilang. mungkin karena ia tak ingin ditemukan. seseorang yang lain baru saja datang. mungkin karena ia ingin menanyakan sesuatu. seseorang yang lain menderingkan telepon, mungkin karena ia ingin mengucapkan selamat lebaran, mohon maaf lahir dan batin. seseorang yang lain diam tak ada kabar, dan mungkin juga telah pergi dari kota ini. seseorang yang lain pergi malam-malam dan  tak tahu pulang jam berapa. seseorang yang lain baru saja datang dengan membawa kebisingan. seseorang yang lain akan datang segera dengan kebisingan yang lain. seseorang yang lain diam di sudut dan mungkin menangis. seseorang yang lain tengah asik dengan bayinya. seseorang yang lain mungkin baru menemukan cinta. seseorang yang lain entah sedang apa. seseorang yang lain mungkin tengah bermesraan dengan pasanganhidupbarunya. seseorang yang lain entah ada di mana. seseorang yang lain entah tengah memikirkan apa. seseorang yang lain ada jauh di seberang benua. seseorang yang lain mungkin tengah tak peduli dengan dunia. seseorang yang lain, masih sibuk dengan pekerjaannya. seseorang yang lain …

“aku ingin bertanya padamu sesuatu,” lelaki itu tegak berdiri sambil menatap tajam wanita yang ada di depannya. Terlihat sekali bahwa dia tegang. Jika ada satu topangan besi sejangkauan tangannya, dia akan menelakan berat tubuh jangkungnya itu di sana.

Sang wanita yang mengenakan rok coklat yang terkibar sedikit oleh angin seperti juga rambutnya yang panjang tengadah dengan dagunya yang lancip putih. Tapi dia diam.

Laki-laki itu hampir salah tingkah. Dia tahu langkah terbaiknya sekarang adalah tidak menunggu jawaban.

“Kemarin, ketika kau mengatakan bahwa kau hendak pergi dari sini kecuali ada sesuatu yang dapat mencegahmu, bolehkah saya tahu maksudnya?”

Itu kalimat yang sangat panjang dan hampir seperti membutuhkan keabadian untuk diucapkan dalam keadaan tangan yang berkeringat. Dan wanita itu tahu, dia memiliki seluruh kartu truf di tangannya. Tapi ia belum mau membuka kartu itu.

Laki-laki itu mulai kehilangan berat egonya. Langkah yang dia kira tadi terbaik kini seperti menjadi senjata yang menembak tuannya sendiri. Dia mencoba napas terakhirnya.

“Mengapa?”

Ah, itu pertanyaan terbaiknya dia kira.

“mengapa?” tanya wanita itu.

Ia meralatnya segera: itu adalah pertanyaan terburuknya.

“Yaa…tidak apa, apa..” gugup si lelaki.

Dan itu semakin membuatnya seperti kurcaci.

Wanita itu berbalik hendak pergi dan lelaki itu mengenggam tangannya.

“Aku butuh jawabannya,” burunya.

“Mengapa?”

Pertanyaan yang sama yang ditanyakan untuk kedua kalinya. Seperti membuat lelaki itu ditonjok dua kali di tempat yang sama: bagai keledai.

“Karena … karena aku ingin tahu.”

“Oh ya? kenapa kau ingin tahu?”

“Tidak apa-ap … karena itu … maksudnya .. ya kamu kan mau pergi… nah, itu, jadi aku pengen tau …”

“pengen tau apa?”

“pengen tau kalo kemarin itu kamu ngomong gitu maksudnya apa?”

“memangnya kenapa kalo aku ngomong gitu?”

“ya nggak apa-apa, tapi pasti kan itu, pasti ada maksudnya..”

“ya terus, kalo ada maksudnya, terus mau apa?”

“ya maksudnya itu apa?”

“kenapa pengen tau?”

“ya nggak apa-apa … “

dan seterusnya…

__________________________________________

kadang-kadang, berkata-kata itu emang susaaaahnya minta ampun

Setiap manusia pasti memiliki sisi yang tersembunyi. Jika dia public figure, nah ini dia yang dicari-cari mata kamera dan tabloid gosip. Jika dia orang biasa, ya orang di sekelilingnya saja yang mulutnya penuh dengan energi gosip aja yang mungkin tertarik.

Tapi kadang, ada juga saat-saat ketika seseorang menunjukkan sisi lainnya secara tiba-tiba. Dan kita kaget.

Wah, kok dia jadi berubah seperti ini sih. Lho, kok kata-katanya seperti itu. Rasanya, tak mungkin deh dia ngomong kayak gitu. Tapi bener lo jeng, aku denger dengan mata kepalaku sendiri.

“Ah, masa toh?”

“Suer”

Ck…ck..ck [menggelengkan kepala]

“Kesambar apa ya dia kok jadi seperti itu.”

“Iya ya, rasanya kok sulit dipercaya.”

“Eh, tapi ngomong-ngomong … “

Eh, ngomong-ngomong, mengapa ya seseorang yang ada di sana seperti sedang memugar citranya dari manusia yang mulus tak bernoda menjadi manusia yang apa adanya?

Sedalam-dalam samudera, lebih dalam hati manusia.

Lima (5) batang rokok Djarum Super × Rp 700 = Rp3.500

Semua anak kecil pasti nakal. Oleh karena itu, kenakalan mereka adalah suatu hal yang wajar. Yang saya maksud anak kecil adalah anak berumur 3, 4, 5, 6 tahun dan sekitarnya. Bukan kenakalan anak SMP yang sudah mulai mencoba-coba rokok atau sex. Kenakalan umur anak yang sebutkan tadi antara lain berlari-lari yang membuat kita takut mereka jatuh, meloncat-loncat di kursi, teriak-teriak, susah makan, pengen makan permen terus, tidak mau mandi atau sikat gigi, selalu ingin dituruti apa maunya. Duh, jika kita tak pandai-pandai bersabar, bakal stres juga tuh.

Tapi, ada juga saat mereka menjadi baik. Saat-saat itu adalah saat yang menyenangkan. Kita dapat berbicara dengan mereka dan kadang mereka membalas dengan cara yang lucu dan kita tertawa. Kita ingin memeluk mereka dan mereka pun balas memeluk kita. Kita menciumi wajah mereka dan mereka balas menciumi wajah kita.

Menjadi seorang ayah/ibu, paman/bibi bagi seorang anak kecil memang susah-susah mudah. Kita kembali harus belajar dan juga harus ridho. Ada waktu-waktu kita yang bakal tersita untuk mengawasi mereka. Dan kita harus merelakannya dengan ikhlas.

Kita juga harus banyak belajar. Kita harus memberi contoh, menjadi tegas tapi tak kasar, pandai memilih apa yang baik dan boleh untuk mereka serta apa yang buruk dan tak baik untuk mereka.

Bagaimanapun kenakalan mereka, kita pasti akan mengenangnya di kemudian hari dengan haru atau tersenyum. Anak-anak kecil itu suatu hari akan menjadi dewasa dan kita akan memiliki hubungan yang berbeda dengan mereka. Dan saat itulah, kita yang terlibat langsung dengan perkembangan mereka akan merasa takjub. Betapa besar perubahan yang bisa dibuat oleh sang waktu.

Oh ya, setelah dipikir-pikir, kenakalan itu sama sekali bukan salah mereka. Ada saatnya kita harus merenung, dari siapakah mereka mendapatkan kebiasaan buruk atau mengatakan kata-kata yang tidak pantas mereka sebutkan. Kitalah sang penanggung jawab mereka secara penuh. Dan kitalah yang harus disalahkan jika mereka terbiasa dengan kebiasaan buruk.

Rasanya senang sekali bisa menulis apa saja. Saya dulu ingin memiliki blog tentang Fisika. Sekarang pun sebenarnya masih ingin. Tapi, saya bersyukur bahwa saya memiliki “My Small Stories”.

Adakalanya saya terganggu dengan harapan untuk memenuhi orang yang akan membaca blog saya. Padahal, dilihat dari statistik, tak banyak yang numpang lewat ke blog saya. Jadi sebenarnya saya tak perlu peduli.

Ketika saya tidak mood menulis, sebagian alasannya sebenarnya karena saya merasa tidak sedang memiliki apa yang ingin dibagi kepada orang lain. Saya takut jika saya menulis apa pun, bahkan yang tidak jelas sekali pun, kualitas blog saya menjadi rendah dan orang lain tak akan menghargainya.

Tapi, who am i and what is this blog anyway. Saya ingin sekali lepas dari kecenderungan-kecenderungan mengikuti selera orang. Jika saya menulis bagus, itu bukan karena untuk siapa pun. Jika saya menulis jelek, itu juga bukan untuk siapa pun. Menjadikan diri sendiri lepas adalah tujuan dari blog saya ini. Dan karenanya, saya hanya ingin menulis apa saja. Katakanlah blog saya ini tempat saya berlatih menulis. Karena konon, menulis itu butuh latihan.

Jadi, tak apa kan jika saya sekarang menulis tentang cinta dan beberapa saat kemudian menulis tentang komputer. Gak nyambung? Yah, manusia kan paling hebat tuh merajut benang merah. Jika Anda ingin ada benang yang warnanya merah, ya rajut aja. Atau cari di toko benang.

Gitu aja kok repot.

Next Page »