sebelum dia keluar dari kamarnya, dia lama sekali berdiri di depan cermin. ada beberapa jerawat yang mengganggu penampilannya, tapi bukan itu yang tengah dipikirkannya. dia mengingat banyak sekali waktu yang telah lewat. dan cermin itu seperti rekaman yang tak mau berhenti.
hampir saja dia berkeluh kesah. tapi diurungkan niat seembus napas yang ingin ditiupkannya. dia sadar, tak ada ruang untuk itu di mana pun. dia tengah berjaga-jaga dari segala sesal. karena satu sesal dapat beruntun menghasilkan sesal yang lain. dia tahu benar itu.
jadi, ditutupkannya mata, agar cermin itu tak menatap balik. ia memutarkan badan, meski dengan segenap ragu. tapi, arah tubuhnya kini berganti. pintu bertirai itu kini di hadapannya. dia tahu persis. maka dibukanya mata.
tapi, dia tak menemukan apa-apa. bukan, dia menemukan banyak hal malah, tapi semuanya dalam lingkupan kabut yang maha putih. dia memicingkan mata.
ada banyak yang ia ingin ketahui dari masa depan. tapi ia tahu kesia-siaan. ia memicingkan mata lebih keras. tapi malah katupnya yang kini terasa sakit. ia menggelengkan kepala. menegur dirinya yang mencoba-coba.
sekarang, ia hanya harus melangkah. pinut kamar itu pasti ada di sana. di balik kabut yang mudah ia lalui. hanya masalah waktu. ia memberanikan diri.
langkah pertamanya terasa berat. jantungnya berdegup keras. detik di dinding membimbingnya. detik di dinding selalu membimbingnya, ia suka ataupun tidak.
ia bertekad tak akan berhenti. oh tidak, ia bertekad hanya akan berhenti sesekali. yang ia tekadkan sebenarnya ia tak akan berhenti untuk menoleh ke belakang. karena ia tahu cermin itu akan kembali menegurnya lagi. mata yang ada di sana selalu terlihat tak ramah.
langkahnya sekarang telah beberapa. tirai yang tadi kabur sekarang terlihat kibarannya. sejangkauan tangan saja, dan dia merentangkan ototnya. nah, ini rasanya menyibak tabir, penuh dengan napas keberanian.
waktu yang dilewati boleh dirangkumkan, ia merasa tiba-tiba. tubuhnya berada di sana dan tubuh-tubuh yang lain ada di sana pula. semuanya tersenyum. benarkah? ia sangsi.
kawan-kawannya datang memeluk dan menyalami. yang benar dekat bahkan mencium pipinya. dia membalas semua sambil mencucurkan air mata.
“ah, kau, semakin cantik saja,”
“bukan aku yang membuatnya, mas”, ujarnya.
“tak apa, aku tetap mengatakan yang benar.”
dia tak meredakan senyum.
“adakah mas memaafkan saya?”
“apa ada yang perlu dimaafkan?”
“mungkin ada”
“kalau begitu itu tak penting karena aku telah melupakannya.”
“seperti menulis di atas pasir kan mas?”
“seperti menulis di atas pasir.”
ah, dia bahagia sekali. andai semua orang juga bahagia.
seseorang pernah bertanya kepada dirinya, jika ia dapat dilahirkan kembali, ingin jadi apa dia? jawabannya terasa jelas sekali saat ini. tapi dia hanya berbisik. ke dalam hatinya pula. tak ada orang yang tahu. dan hatinya tak akan membocorkan rahasia itu.
jika senja itu akhirnya datang juga, ia ingin saat itu adalah sekarang. atau beberapa saat lagi. tepat saat bahagianya sampai di puncak rasa.
jika kematian itu datang, ia ingin itu datang saat ini, atau beberapa saat lagi, saat ketika ia dilahirkan kembali.