August 2008


Mohon maaf kepada siapa saja yang telah merasa tersinggung oleh tulisan-tulisan saya di blog ini. Saya pikir, meskipun kita tidak saling kenal, bukan tidak mungkin kata-kata yang saya tuliskan telah menyakiti Anda. Saya bisa mengatakan bahwa itu tidak sengaja karena selama menulis di blog ini, saya tak pernah bermaksud untuk menyinggung siapa pun. Saya mungkin agak sedikit kasar di beberapa tulisan dan saya tidak ingin membela diri. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya meminta maaf.

Bulan Ramadhan datang lagi. Bukankah luar biasa bahwa kita masih hidup? Memang benar, kematian selalu terjadi di sekeliling kita, tapi kebanyakan kita selalu merasa bahwa hanya orang lain lah yang mungkin mati. Kadang kita tidak bisa memikirkan bahwa pada suatu hari kita pun akan terbaring tanpa nyawa. Mungkin ditangisi orang yang sayang kepada kita, mungkin juga sendirian. Kita tak tahu.

Apa pun itu, selamat berpuasa kepada yang menunaikannya. Sahur dan buka, tarawih dan takbir. Lapar dan dahaga. Buka bersama. Tak kusangka Kita bertemu lagi.

Jujur, saya menyukai film ini. Saya menikmati menonton film ini. Komedinya membuat saya tertawa dan dramanya tidak membuat saya muak karena dilebih-lebihkan. Dari sekian banyak film Indonesia, otomatis romantis dapat saya masukkan ke dalam kategori film yang baik. Saya tentu saja tiadk memiliki kompetensi untuk menilai sebuah film secara teknis. Saya bukan orang film dan tidak mengetahui banyak mengenai ilmu perfilman. Tapi, sebagai penikmat film, saya tahu menentukan secara subjektif, mana yang bagus dan jelek.

Meskipun ada beberapa kelemahan, tapi saya ingin di sini menyebutkan alasan mengapa saya memilih film ini sebagai film yang bagus.

Pertama karena film ini bisa memotret kehidupan Indonesia. Tidak seperti film yang latah ingin meniru kehidupan barat, otomatis romantis mengangkat sosok Bambang yang lugu misalnya. Ada juga potret majalah perempuan metropolitan yang memang selalu mengangkat hal-hal penting seperti seks secara remeh-temeh. Penuh dengan tips yang jika dibaca edisi tiap bulannya, selalu membuat saya tertawa (Saya tidak membacanya, saya hanya membaca tulisan di halaman mukanya saja).

Kedua, adegan dalam film ini tidak ada yang sia-sia atau dibuat-buat. Dialognya pun tepat dan tidak mubazir. Tidak klise dan berjalan secara natural, senatural akting pemain-pemainnya. Tentu saja ini bukan sebuah masterpiece, tapi cukup melegakan bahwa ada film Indonesia yang bisa memiliki warna lokal seperti ini.

Ketiga, komedi dalam film ini benar-benar segar. Tidak memanfaatkan seks meskipun masih menyinggung-nyinggun soal fisik, tapi itu benar-benar tidak menjadi andalan. Tukul memang sudah memiliki trademark-nya sendiri dan ketika ketiga perempuan yang cantik-cantik itu menyebut rupa laki-laki pasangan mereka seperti binatang, itu memang mungkin bahan omongan yang mungkin terjadi dalam dunia nyata.

Nah, untuk sedikit memberikan keseimbangan, kekurangan dalam film ini adalah ada sedikit logika yang lepas. Aurel tak mungkin lepas dari pandangan mereka karena sebenarnya ia selalu diperlihatkan bersama pengasuhnya. Trisno manajemen juga agak terlalu dipaksakan. Dan saya tidak terlalu suka perubahan alasan Nadia akan keengganannya untuk tidak menikah. Pertama ia menyebut alasannya adalah karena laki-laki itu sebagian besar bejat. Tapi kemudian itu berubah. Alasannya sekarang adalah karena sebuah kutukan.

Saya ingat beberapa film lain yang juga saya nikmati. Salah satunya adalah Quickie Express. Leila S. Chudiori di Majalah Tempo tidak terlalu memberikan kritik yang positip terhadap film ini. Tapi, saya melihat inu juga film yang “baik”. Baik dalam artian secara sinematografi, terlepas dari isi film itu sendiri.

Oh ya, satu lagi. Saya lihat Marsha Timothy mendapat peran yang cocok di sini. Dibandingkan ketika ia memerankan Vega di From Bandung with Love. Tentu saja itu tidak membuat Marsha Timothy aktris yang layak mendapat piala citra, karakternya terlalu ia kenali. Ini hanyalah masalah casting yang tepat saja.

8/10

mencari-cari lagi dan bertemu. kau seperti telah jauh melangkah. beberapa benua dan samudera. bahasa kita pun kini berbeda. aku coba untuk berlari di sampingmu, kau terlalu tangguh. terlalu jauh.

tapi aku kemudian melihat sebuah cermin di air maya. kau, itukah kau. tidak seperti yang kuingat. tidak pula seperti yang kulupa. aku tak apa-apa ternyata. telah lama aku bermimpi dan kini aku bangun. mungkin setiap orang memang memiliki jalan hidupnya masing-masing. dan jalan kita tak akan pernah lagi bersilangan.

dan kau masih seperti yang dulu. saat kuceritakan pada kawan-kawanku tetang seorang panda yang ingin menjadi beruang. ingat kau aku pernah memanggilmu dengan warna kaos dan jenis celana yang kau kenakan? ingat pula kau tentang cerita sofa merah dan bincang-bincang di sela asap kretes ringan? tentu kau lupa. tentu kau hapus. tapi aku masih.

malam itu kau tertawa akan satu ceritaku yang bukan lelucon. tapi aku merasa kau hormati. kau memintaku tinggal, tapi entah mengapa aku merasa harus pergi. kau memintaku datang lagi. tentu saja. tapi tidak hingga beberapa lama kemudian. ketika aku berjinjit mencoba mengintip dari pagar yang tinggi. sebuah pintu yang tak pernah kulihat terkunci.

apa yang lebih menyedihkan dari kawan-kawan yang terpencar. tempat berkumpul yang kini kosong. dan kau tak ada. aku tahu saat itu bahwa kesempatan memang hanya selalu datang sekali saja.

tapi itu dulu. aku kini telah melangkah jauh pula. dalam jalanku sendiri tentunya. aku hanya ingin mengatakan bahwa setelah sekian lama. kau tampak telah menjadi asing bagiku.

dan kita tak lagi berbicara bahasa yang sama.

Idenya sebenernya bagus. Seorang Ve yang ingin riset tentang perselingkuhan, menemukan satu nara sumber yang tepat, tapi lalu ia sendiri terlibat dalam tarik ulur perselingkuhan. Jika diolah sedemikian rupa, ditajamkan di beberapa sisi, saya yakin, ceritanya bakal bagus.

Tapi, ya itulah, film ini jatuh pada tipikal film remaja Indonesia. Karakter Vega terlalu dimanis-maniskan. Skenario terlalu banyak yang tidak jelas, tidak mendalam dan klise. Anda mungkin akan seperti membaca kumpulan snapshot dari film lain di momen-momen tertentu dalam film ini.

Ada satu momen yang saya suka, meskipun tampaknya memang agak dilebihkan, tapi roh nya kena banget. Jika dipakai untuk adegan yang tepat, momen ini akan jadi sangat dahsyat.

Dion menelepon Ve waktu Ve siaran. Ini adegan di akhir-akhir cerita. Saat Dion bilang “Bye”, scene berpindah ke Ve dari angle yang berbeda. Seingat saya, efek seperti ini ada di film-film horor. Perpindahan yang tiba-tiba ini berhasil membuat suatu efek kaget (seperti yang terjadi pada film horror). Namun di sini, efek kaget ini dirasakan oleh Ve karena ia diputuskan oleh Dion. Dan kekagetan Ve bisa dipindahkan ke penonton dengan perpindahan mendadak scene seperti itu.

5/10

Seberapa jauh kita bisa menjadi tidak egoistis. Dalam cinta mungkin. Tapi mungkin juga tidak. Sebenarnya, apa tujuan kita ketika mencintai seseorang? Apakah semuanya selalu melulu soal diri kita? Apakah pertanyaannya selalu seperti ini: apakah saya nyaman bersama dia? Mengapa dia selalu mengeluh ketika bersama saya, tak bisakah dia sedikit lebih ceria dan tidak mengeluh? Mengapa dia tak pernah menelepon saya dan menanyakan kabar saya? Mengapa dia tak pernah mengajak saya bertemu dengan teman-temannya?

Saya tahu, tidak semua pertanyaan itu berasal dari suatu sifat egoistis. Tapi saya pernah berpikir tentang suatu perasaan cinta yang menyiksa. Nah, pada saat itu, yang saya ingat yang ada di pikiran saya hanyalah diri saya sendiri. Pertanyaan besarnya adalah, mengapa saya telah dibuat tidak nyaman? mengapa saya telah dibuat tidak bahagia?

Padahal, pernahkah Anda berpikir bahwa seharusnya ketika kita sungguh-sungguh mencintai, yang menjadi fokus pikiran kita bukanlah diri kita sendiri, tapi orang yang kita cintai itu. Pertanyaannya bukan mengapa dia tak membuat saya bahagia, tapi apakah saya telah membuat dia bahagia?

Jika dipikirkan lebih jauh, tak mungkin ada rasa sakit hati ketika fokus pikiran kita adalah orang yang kita cintai. Katakanlah di sisi yang ekstrim, dia pergi dan mencintai orang lain. Maka, pikiran yang muncul akan menjadi seperti ini: dia tentu lebih bahagia dengan orang itu. Jika demikian, saya pun ikut bahagia.

Cemburu dan rasa sakit hati muncul karena sifat egoistis. Memang susah. Ketika kita mencintai, kita ingin mendapatkan kebahagiaan dari orang yang kita cintai. Dan bukan memberikan kebahagiaan kepada orang yang kita cintai.

Mungkin Anda berpikir tentang suatu jalan tengah, mengapa tidak begini: ketika kita mencintai seseorang, sebenarnya kita ingin diri kita dan orang yang kita cintai itu sama-sama bahagia. Betul, tapi jika dipikirkan lebih jauh, Anda akan selalu meminta jatah kebahagiaan Anda kepada orang yang Anda cintai. Terutama jika keseimbangan itu mulai bergeser menjauh dari Anda.

Pagi itu, Bani terlambat lagi masuk kantor. Alarm di handphone-nya memang berbunyi tepat waktu. Tapi, dia tak bisa menepati niatnya untuk bangun sesuai waktu yang dipasangnya pada alarm tersebut. “Sebentar lagi, ah,” ujarnya dalam hati. Dan sebentar lagi itu ternyata adalah setengah jam. Akhirnya, setiba di kantor ia dipangil untuk menghadap kepala bagiannya.

“Apa kabar?” Tanya Bapak Djoni, kabagnya itu sambil melontarkan senyuman ramah. Kulitnya yang putih bercahaya. Rambut mengkilapnya tersisir rapi dan pipinya bulat. Umurnya lebih muda dari Bani.

“Baik,” jawab Bani enggan. Ia tidak menyukai kabagnya itu.

“Terlambat lagi?”

Bani menjawab ya, tak tersenyum.

“Sudah tiga hari berturut-turut,” kata Pak Djoni. “Bani tahu bahwa perusahaan ini memiliki peraturan.”

“Saya tahu, Pak,” jawab Bani. Ia tidak suka pembicaraan yang bertele-tele.

“Kenapa hari ini?”

“Telat bangun,” jawab Bani acuh.

Pak Djoni mengembuskan napas dari mulutnya. Begitulah cara ia menunjukkan kekecewaan.

“Saya sudah memberi peringatan secara lisan,” lanjut Pak Djoni setelah diam beberapa saat. “Tampaknya Bani tidak menghiraukannya. Terpaksa saya harus membuat surat peringatan resmi.”

Bani tidak memberi tanggapan.

“Baiklah,” kata Pak Djoni, “Silahkan kembali bekerja.”

Hari itu Bani mendapatkan SP II. SP I-nya ia dapatkan enam bulan yang lalu. Saat itu, ia tidak menghiraukan Surat Perintah Lembur dari atasannya. Pekerjaan menumpuk dan Bani mendapatkan tugas untuk menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Suatu hal yang menurutnya mustahil.

Dalam keadaan normal, pekerjaan itu dapat diselesaikan selama 45 hari. Waktu itu, ia mendapat dua pekerjaan sekaligus dan harus diselesaikannya dalam waktu sepersepuluhnya. Ia telah mengemukakan keberatannya, tapi hal itu tidak ditanggapi Pak Djoni. Menurut Pak Djoni, hal seperti itu telah biasa dilakukan di perusahaan itu dan dalam kontrak kerja terdapat pasal bahwa setiap karyawan wajib menuruti tuntutan perusahaan.

“Persetan dengan kontrak kerja,” pikir Bani. “Seseorang bisa mengerjakan pekerjaan yang berat, tapi ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang mustahil. Ini eksploitasi namanya.”

Sejak itulah Bani mulai menunjukkan keengganan untuk mengerjakan pekerjaannya secara serius.Beberapa kali Bani mendapat berita bahwa sikapnya selalu menjadi bahan perbincangan dalam rapat manajemen. Ia hanya terenyum. Beberapa kali pula ia disindir oleh pihak manajer. Secara halus ia telah merasa disarankan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu dan Bani merasa itu bukan masalah. Ia memang berencana untuk meninggalkan tempat kerjanya meski terbayang kembali olehnya bahwa ia harus kembali menjadi pengangguran.

Sebelum mendapat pekerjaan ini, Bani telah menganggur selama dua tahun dan itu bukan masa yang mudah untuknya. Ia merasa tertekan dengan kondisinya yang tidak produktif. Ia berusaha untuk menekuni dunia tulis-menulis yang digemarinya. Tapi, ia selalu gagal hingga berpikir bahwa ia tak memiliki bakat di dunia itu.

Lain waktu, Bani mencoba menjadi guru. Ia lulusan jurusan Matematika. Ia cukup pintar dalam bidang ini. Ia juga menyenanginya. Namun, menjadi guru tidak semudah yang dibayangkannya. Ia memang telah mendalami Matematika dalam tingkatan yang cukup tinggi. Justru itulah yang menjadi kendala. Pada saat seseorang telah mencapai tingkatan yang cukup tinggi, pola pikirnya menjadi sedemikian abstrak. Bahkan teori dasar pun ia pahami dalam bahasa yang rumit sehingga ketika ia harus mengajar anak setingkat SMA, ia mendapatkan kesulitan komunikasi. Akhirnya, ia menyerah dan harus kembali menganggur. Dan kini, setelah mendapat pekerjaan tetap selama dua tahun, ia harus kembali menghadapi masa-masa sulit itu.

“Persetan,” ujarnya dalam hati.

(more…)

Kali ini Speedy agak mengecewakan. Saya hanya mendapat kecepatan download 3 KBps. Apakah ini karena saya mendekati quota saya atau memang jaringannya sedang payah? Sayang sekali karena inilah kali pertama saya harus merasa kecewa dengan Speedy. Sebelum ini, saya merasa baik-baik saja. Saya bahkan sering merekomendasikan Speedy karena pengalaman saya selama 3 bulan terakhir. Selama itu, saya selalu mendapat koneksi yang cepat dan reliable. Tapi sekarang? Saya harap ini bukan preseden buruk untuk ke depan karena saya mulai melirik Telkom Flash dengan peket 125rb tapi unlimited-nya meskipun saya tidak percaya dengan jaringan nirkabel di Indonesia ini.

Hari ini entah kenapa bis dago tidak ada. Sebagai gantinya, ada bis ac. Saya berpikir tentang alangkah baiknya jika semua bis yang ada menjadi sekelas bis ac yang saya naiki ini. Tempat duduknya nyaman. Bahkan untuk berdiri pun nyaman. Selain itu, pintunya tertutup selama perjalanan. Bisnya memang berniat untuk seperti patas yang melaju terus tanpa berhenti kecuali jika ada penumpang yang turun.

Ongkosnya memang lebih mahal 1000. Tapi, saya berani bertaruh, banyak orang yang mau membeli kenyamanan tersebut dengan menambah ongkosnya 1000 rupiah. Tentu saja ada orang-orang yang merasa lebih baik bis yang dulu saja asal harganya tidak naik. Saya mengerti. Tidak semua orang punya uang agak berlebih untuk ongkos. Idealnya sih, saya harap, bahwa sarananya bisa senyaman bis ac tapi harganya tidak naik.

Seharusnya kan, pajak kendaraan itu dipakai untuk mensubsidi kenyamanan publik dalam berkendaraan di kota. Proporsi subsidi itu harusnya lari lebih banyak ke pengguna kendaraan umum. Bukan begitu?

Saya benar-benar mendambakan Bandung yang nyaman saat berkendaraan. Tak ada macet dan tak panas. Angkot tertib dan bisnya nyaman. Bisa gak ya? Seharusnya bisa. Gimana Pak Dada, periode kedua ini apa yang akan Bapak lakukan?

Milan Kundera, saya ingat membaca: bahwa kita adalah selalu menjadi seorang pemula dalam tahapan hidup kita. Kita lahir sebagai bayi. Beranjak menjadi remaja tanpa tahu bagaimana menjadi remaja. Kita masuk kuliah dan tak tahu apa-apa tentang kehidupan anak muda. Lalu kita masuk dunia kerja dan perkawinan, itu pun sama, kita buta soal hidup bersama dengan pasangan kita. Lalu kita bertambah tua tanpa pernah punya pengalaman untuk menjadi tua.

Kita harus terus meraba-raba.

Sekarang-sekarang ini, ada satu pemikiran yang membuat saya takut. Ketakutan ini adalah dari jenis ketakutan seorang pemula yang akan mencoba hal baru. Nah, saya ingat pepatah bahwa jika kita tak mencobanya, kita tak akan pernah tahu bagaimana sebenarnya “rasanya”. Pengalaman saya dalam bidang lain memang mengatakan seperti itu.

Dulu saya takut untuk berbicara di depan orang banyak. Beberapa kali terakhir, saya bisa berbicara di depan orang banyak tanpa merasa gugup sama sekali. Saya takut tapi sebelum mencoba. Saat mencoba, ternyata mungkin saja ketakutan itu tak ada.

Pikiran yang ada dalam benak saya itu memang seharusnya ada di sana. Kata orang, ketakutan adalah bukti kewaspadaan. Itu sikap yang perlu jika tidak berlebihan. Tapi, saya tidak harus mundur karena sebuah ketakutan. Saya harus melawan dan menjadi seorang pemberani. Menjadi orang dewasa adalah tahu menghitung, mengambil keputusan dan siap mengambil resiko.

Bagaimanapun, saya tetap melangkah. Mudah-mudahan ketakutan saya hanya kecemasan seorang pemula.

Oh ya, seseorang yang tidak takut untuk berjalan sendirian lewat sebuah daerah angker tidaklah disebut seorang pemberani. Seorang pemberani adalah seseorang yang takut berjalan sendirian lewat sebuah daerah angker tapi tetap melewatinya.

Keberanian adalah sebuah perlawanan terhadap rasa takut dan bukan ketiadaan rasa takut.

Sewaktu kecil, saya membaca Bobo. Saya ingat satu cerita tentang seorang yang menangkap harimau dan datang ke kota. Orang-orang mengelukannya kecuali seorang pedagang martabak (bukan martabak sebenarnya. Saya lupa, tapi ini tak akan mengubah esensi cerita). Nah, orang-orang kota menganggap si pedagang martabak ini sombong. Tapi kemudian si pedagang martabak ini menyuruh si penangkap harimau untuk mengiris-iris daun seledri dengan cepat dan tipis. Tentu saja si penangkap harimau tidak bisa. Di depan orang-orang kota si penjual martabak ini bilang “tak perlu mengelu-elukan orang terlalu berlebihan. Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing.”

Teman saya dulu pernah berpikir bahwa menjadi cantik itu tidak perlu dibanggakan karena tak ada usaha apa-apa untuk meraihnya. Seseorang bisa lahir dengan wajah cantik. Saya waktu itu setuju. Tapi, nilai setuju saya sekarang agak sedikit meluas. Maksudnya, sekarang saya menerapkan hal ini juga pada kepintaran. Coba Anda renungkan, jika ada seseorang yang terlahir pintar, lalu dia dapat mengerti pelajaran kalkulus hanya dengan sekali baca buku, apakah Anda akan merasa kagum dengan orang itu?

Katakan begini, si orang pintar memiliki skala kepintaran 100. Lalu ada si orang yang biasa-biasa saja memiliki skala kepintaran 10. Jika si pintar harus membaca buku sekali untuk mengerti kalkulus sementara si biasa-biasa saja harus membaca buku 10 kali, dan sekarang keduanya memiliki tingakt pemahaman kalkulus yang sama, siapa yang Anda kira harus Anda acungi jempol?

Kepintaran seperti juga kecantikan adalah anugerah. Jika tidak ada usaha untuk mendapatkan sesuatu, kita mungkin harus berpikir bahwa orang itu tak perlu kita acungi jempol. Karena bagaimanapun, bagi orang tersebut, mendapatkan pemahaman mudah karena kepintarannya.

Bayangkan anak sekolah miskin yang harus bekerja di siang hari, belajar sambil meminjam buku dari teman, ke sekolah berjalan kaki 5 km. Karena usahanya, si anak ini kemudain menjadi rangkin 3. Bukankah anak seperti ini yang mesti kita kagumi?

Balik lagi ke si penjual martabak. Setiap orang pun memiliki keahliannya masing-masing. Dulu teman saya sering bilang bahwa dia mengagumi pilot karena menjadi pilot itu susah. Lalu saya bilang bahwa mengendarai becak pun susah. Tak pada tempatnya memang membandingkan seorang pilot dengan seorang penarik beca. Yang pada tempatnya adalah mengatakan bahwa baik si pilot maupun si tukang becak, memiliki keahliannya masing-masing, yang didapat dari sebuah proses usaha. Kita belum tentu bisa menerbangkan pesawat seperti juga kita belum tentu bisa mengendarai becak.

Dan jangan berpikir bahwa untuk bisa menjadi pilot itu lebih sulit daripada menjadi tukang becak. Tanpa usaha, kedua-duanya akan sama sulitnya.

Next Page »