Pagi itu, Bani terlambat lagi masuk kantor. Alarm di handphone-nya memang berbunyi tepat waktu. Tapi, dia tak bisa menepati niatnya untuk bangun sesuai waktu yang dipasangnya pada alarm tersebut. “Sebentar lagi, ah,” ujarnya dalam hati. Dan sebentar lagi itu ternyata adalah setengah jam. Akhirnya, setiba di kantor ia dipangil untuk menghadap kepala bagiannya.
“Apa kabar?” Tanya Bapak Djoni, kabagnya itu sambil melontarkan senyuman ramah. Kulitnya yang putih bercahaya. Rambut mengkilapnya tersisir rapi dan pipinya bulat. Umurnya lebih muda dari Bani.
“Baik,” jawab Bani enggan. Ia tidak menyukai kabagnya itu.
“Terlambat lagi?”
Bani menjawab ya, tak tersenyum.
“Sudah tiga hari berturut-turut,” kata Pak Djoni. “Bani tahu bahwa perusahaan ini memiliki peraturan.”
“Saya tahu, Pak,” jawab Bani. Ia tidak suka pembicaraan yang bertele-tele.
“Kenapa hari ini?”
“Telat bangun,” jawab Bani acuh.
Pak Djoni mengembuskan napas dari mulutnya. Begitulah cara ia menunjukkan kekecewaan.
“Saya sudah memberi peringatan secara lisan,” lanjut Pak Djoni setelah diam beberapa saat. “Tampaknya Bani tidak menghiraukannya. Terpaksa saya harus membuat surat peringatan resmi.”
Bani tidak memberi tanggapan.
“Baiklah,” kata Pak Djoni, “Silahkan kembali bekerja.”
Hari itu Bani mendapatkan SP II. SP I-nya ia dapatkan enam bulan yang lalu. Saat itu, ia tidak menghiraukan Surat Perintah Lembur dari atasannya. Pekerjaan menumpuk dan Bani mendapatkan tugas untuk menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Suatu hal yang menurutnya mustahil.
Dalam keadaan normal, pekerjaan itu dapat diselesaikan selama 45 hari. Waktu itu, ia mendapat dua pekerjaan sekaligus dan harus diselesaikannya dalam waktu sepersepuluhnya. Ia telah mengemukakan keberatannya, tapi hal itu tidak ditanggapi Pak Djoni. Menurut Pak Djoni, hal seperti itu telah biasa dilakukan di perusahaan itu dan dalam kontrak kerja terdapat pasal bahwa setiap karyawan wajib menuruti tuntutan perusahaan.
“Persetan dengan kontrak kerja,” pikir Bani. “Seseorang bisa mengerjakan pekerjaan yang berat, tapi ia tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang mustahil. Ini eksploitasi namanya.”
Sejak itulah Bani mulai menunjukkan keengganan untuk mengerjakan pekerjaannya secara serius.Beberapa kali Bani mendapat berita bahwa sikapnya selalu menjadi bahan perbincangan dalam rapat manajemen. Ia hanya terenyum. Beberapa kali pula ia disindir oleh pihak manajer. Secara halus ia telah merasa disarankan untuk mengundurkan diri dari perusahaan itu dan Bani merasa itu bukan masalah. Ia memang berencana untuk meninggalkan tempat kerjanya meski terbayang kembali olehnya bahwa ia harus kembali menjadi pengangguran.
Sebelum mendapat pekerjaan ini, Bani telah menganggur selama dua tahun dan itu bukan masa yang mudah untuknya. Ia merasa tertekan dengan kondisinya yang tidak produktif. Ia berusaha untuk menekuni dunia tulis-menulis yang digemarinya. Tapi, ia selalu gagal hingga berpikir bahwa ia tak memiliki bakat di dunia itu.
Lain waktu, Bani mencoba menjadi guru. Ia lulusan jurusan Matematika. Ia cukup pintar dalam bidang ini. Ia juga menyenanginya. Namun, menjadi guru tidak semudah yang dibayangkannya. Ia memang telah mendalami Matematika dalam tingkatan yang cukup tinggi. Justru itulah yang menjadi kendala. Pada saat seseorang telah mencapai tingkatan yang cukup tinggi, pola pikirnya menjadi sedemikian abstrak. Bahkan teori dasar pun ia pahami dalam bahasa yang rumit sehingga ketika ia harus mengajar anak setingkat SMA, ia mendapatkan kesulitan komunikasi. Akhirnya, ia menyerah dan harus kembali menganggur. Dan kini, setelah mendapat pekerjaan tetap selama dua tahun, ia harus kembali menghadapi masa-masa sulit itu.
“Persetan,” ujarnya dalam hati.
(more…)