derrida tidak setuju ketika bahasa lisan memiliki kedudukan lebih tinggi dari bahasa tulisan. masalahnya, jika bahasa merupakan tanda yang tercipta secara arbitrer, maka baik tulisan maupun lisan sama-sama kedudukannya sebagai tanda. tak ada yang lebih dekat ke realitas. lebih jauh, apakah sebenarnya realitas itu ada dalam teks, karena jika sifat tanda adalah arbitrer, tanda hanya akan selalu merujuk kepada tanda lain dan bukan pada realitas.
lalu saya berpikir tentang cara seorang bayi belajar berbahasa. tampaknya mereka mengenal bahasa dari ritme yang paling sederhana. jika diajarkan ibu, mereka menyebut “bu”. jika diajarkan ayah, mereka menyebut “ah”. hanya satu suku kata!
pernah berpikir tentang musik yang easy-listening? rata-rata ketukannya jatuh di hitungan ke 4. atau birama-nya 4/4. seperti bayi yang lebih mudah mengenali ketukan terakhir dari kata yang diajarkan kepadanya.
fonem ternyata memegang peranan penting dalam bahasa. tapi fonem tidak memiliki arti. mungkin derrida benar. lalu saya berpikir, mungkinkah semua pertanyaan filosofis, yang mengganggu, yang menggedor kesadaran kita, yang pernah terbit dalam benak kita, mungkinkah semua pertanyaan itu sebenarnya tak memiliki arti? hanya sebuah permainan dalam bahasa. [wittgenstein]