July 2008


Tuhan, jejerkan kami dengan orang-orang yang kau laknat
karena negeri ini telah menipu orang-orang tuanya
dan mengebiri pemuda-pemudanya
uang diselipkan di celana dalam
dibisik-bisikkan di belakang telinga
orang-orang berseragam tersenyum-senyum kecil dengan mata hijau
lidah mereka menjulur bak ular haus harta

tuhan, jangan jejerkan kami dengan orang-orang yang kau laknat
karena bagaimanapun kami tak akan sanggup memikulnya
maka berkahilah tangis kami yang terzalimi
dan maafkanlah mereka yang lupa
kami merindukan angin segar surgamu di sini
jadikan mata kami sejuk dan hati kami rindang
dan berilah kami damai yang sederhana

karena saya kadung bicara soal birokrasi, saya ingin sedikit melucu sekarang. setelah bapak meninggal, untuk megurus deposito serta tabungan bapak di bank, kami harus memiliki surat waris dari keluarahan. tahukah anda berapa membuat surat seperti ini?

saya tak pernah menduga bahwa uang yang harus dikeluarkan adalah Rp 480.000!!!!

Nah, karena saya bilang saya akan melucu. Jadi silahkan tertawa saudara-saudara.

hari ini saya mengantar ibu untuk mengurus masalah pensiun janda ke taspen. ini adalah kali kedua kami ke sana. hari pertama bukan saya yang mengantar, tapi kakak. sebelum itu saya pernah juga datang ke taspen untuk mengambil formulir yang harus ibu isi.

dari ketiga kali kunjungan itu, taspen selalu dipenuhi orang. jika hendak mendapatkan pelayanan di loket 2, maka anda harus menunggu sangat lama karena banyak orang. hari ini saya datang pukul 11 dan baru dilayani pukul 14.30. bayangkan, 3,5 jam! dan itu pun pesyaratan yang ibu bawa belum sempurna sehingga harus kembali lagi nanti. Masya Allah.

Di taspen orang tua mengurus uang pensiun mereka. saya yakin tak ada jumlahnya yang berpuluh-puluh juta. bapak saya hanya mendapat pensiun 1,5 juta dan ibu akan mendapatkan pensiun janda sekitar mungkin 900 ribu saja. tapi, untuk mendapatkan uang yang tak seberapa itu, birokrasi yang panjang dan melelahkan harus dilewati.

saya tidak ingin mendiskreditkan taspen. saya hanya ingin mengkritik sistem yang terlalu kaku. mengapaa di jaman yang serba cepat sekarang ini, kita harus membuang-buang waktu 3 jam hanya untuk mendapatkan hasil nol? mengapa orang lebih percaya kepada selembar kertas daripada kepada sosok orangtua sepuh yang saya yakin semua orang yang memiliki ibu percaya tak mungkin orang tua sepuh memiliki niat untuk menipu atau berbohong.

ayolah saudara-saudara, mengapa membuat indonesia ini semakin menyedihkan. apakah anda tega melihat ibu anda dibolak-balik hanya karena selembar kertas yang “diragukan”? (surat nikah ibu saya dan almarhum bapak mereka ragukan karena tulisan tangan di sana ditimpa oleh pulpen. surat nikah itu sudah berumur empat puluh tahun. lapuk dan angkanya pun tercantum salah-salah).

SHM

Lt. 1739 m2
Bangunan balai pertemuan 8 x 15 m2
11 Saung lesehan 2 x 2 m2
+ bangunan lain

parkir luas sekali
tanah ngantong

lebar jalan masuk 8m
Lokasi strategis: di depan SMP Al-Azhar Cibubur
Lokasi: Jl. Jambore Raya (lapangan tembak) Cibubur

Harga: 3.750.000/m2

Hubungi: 0815 887 1069

alternatif untuk memunculkan task manager adalah dengan menekan SHIFT+CTRL-ESC alih-alih menekan CTRL-ALT-DEL.

untuk raname banyak file sekaligus di windows explorer, select semua file (ctrl-a), lalu tekan F2. ganti dengan nama file diikuti oleh suatu angka dalam tanda kurung dan dot ekstensinya. tekan ENTER. maka seluruh file sekarang akan bernama namafile (i).ext. dengan i dari i, i+1, i+2,…

jika ingin nama file dimulai dari angka tertentu, masukkan angka itu sebagai i.

Jarang sekali dia bepergian. Jadi, dia tidaktahu harus ke mana. dia duduk lama sekali di tempat tunggu terminal itu. seperti biasa, dia tak merasa nyaman. seluruh badannya mulai terasa lemas. dia ingin merebahkannya. tidur dan tidak mengingat apa pun. tapi itu memalukan. dia harus menjadi orang yang berani. karena itulah yang telah menjadi keputusannya.

Seorang laki-laki tiba-tiba duduk di samingnya.

“pergi ke mana?”

“tidak tahu, pak,” katanya.

laki-laki itu tak menampakkan wajah heran. dia menyulut sebatang rokok dan mengepulkan asap pertamanya.

“bapak mau pergi ke mana?” tanya dia mencoba untuk meneruskan obrolan yang baru dibuka. dia merasa membutuhkan teman.

“saya pulang ke rumah.”

“di mana?” tanyanya.

bapak itu menyebutkan sebuah nama kota. dia mengangguk-angguk. dia belum pernah ke kota itu.

“pernah ke sana?”

“belum, pak,” jawabnya.

“mau ikut?”

dia berpikir sejenak mencoba untuk mengukur ajakan seseorang yang baru dikenalnya itu. dia bisa saja dirampok di tengah jalan. tapi, dia telah menjadi gila. dan tak ada gunanya untuk takut akan apa pun. bahkan kematian. dia ingin lupa bahwa dia telah memilki kehidupan. dia sering berpikir untuk mengubah hidupnya, pergi ke suatu kota yang tak banyak orang tahu dan memiliki identitas yang baru. dan mungkin itu mimpi yang akan menjadi kenyataan sebentar lagi. apa pun itu, dia tak mengharapkan apa pun. dia tahu suatu kebijaksanaan untuk tidak khawatir tentang masa depan. ia ingin hidup hari demi hari. detik demi detik. dan dia pun menjawab:

“boleh”.

Hampir saja dia pergi ketika di menit terakhir akhirnya Lisa datang juga. Wajahnya kuyup oleh hujan. Terlihat sekali bahwa dia berusaha untuk datang cepat-cepat. Tapi, telat dua jam? Lebih baik tidak datang sama sekali. Tapi dia berpikir juga, mengapa kemampuannya untuk memaafkan telah hilang. Tidak seperti dulu ketika seberapa marah pun dia, seberapa kecewa pun dia, pintu maaf itu selalu terbuka lebar. Tapi, kini, hatinya seperti tertutup sama sekali. Ia merasa telah berubah menjadi suami yang kejam.

“Kamu marah?” tanya Lisa sambil terengah-engah.

dia diam saja. sangat khas dirinya bahwa jika dia marah, dia tidak akan menumpahkannya dalam bentuk teriakan barbar, apalagi di tempat ramai seperti ini. dia memiliki teknik yang menurut dia lebih menyakitkan. dan teknik itu muncul sekarang dalam bentuk yang menyarankan dia untuk hanya pergi, tak menggubris pertanyaan yang beru terlontar. tapi, dia belum mau melangkah. diam saja mematung sambil menatap wajah yang dulu pernah ia kagumi.

“Ok, kamu marah. Aku sudah minta maaf dan semua ini bukan kehendakku. Kita masih bisa duduk dan bicara, kan?”

Sungguh dia merasa aneh bahwa hidup bersama selama lima tahun tak membuat Lisa tahu apa yang dinginkannya. Mudah sekali sebenarnya untuk membuat dia tak marah. Lisa hanya cukup untuk meminta maaf. Bukan, bukan meminta maaf, tapi memohong maaf. Menunjukkana wajah menyesal dan menampakkan niat yang tulus bahwa dia mengakui kesalahannya. Tapi, itu tak pernah muncuk dari Lisa. Seorang perempuan tangguh yang tak akan takluk di hadapan laki-laki mana pun. termasuk suaminya sendiri.

Dia melangkah. tangan lisa menangkap lengannya.

“Kau seperti anak kecil, ” katanya. “Kau ingin bicara, ayo kita bicara. aku memang terlambat, tapi bukan salahku.”

dia merasa sakit. hatinya telah berulang kali disakiti, tapi dia tak pernah merasa sesakit sekarang. dia akhirnya menghentakkan tangannya dari genggaman tangan Lisa dan pergi. Dia tahu beberapa saat kemudian dia akan menyesal dan mungkin sekali ia akan mengirimkan pesan maaf ke telepon genggam Lisa. Tapi, ia tahu, semakin hari ada jurang yang semakin lebar menganga antara dirinya dan Lisa. Seribu maaf tak akan menjembatani semua yang telah menjauhkan mereka. Dia pergi tak peduli hujan mengguyur tubuhnya.

Lisa hanya berdiri dan menahan tangis. Ya, Lisa pun menangis. Dia tahu itu. Tapi kali ini, dia merasa itu adalah tangis yang sia-sia. Hatinya tak selunak dulu lagi.

dia mematikan telepon genggamnya. sudah lama dia ingin menjauh dari dunia. setiap kali dia hendak melakukannya, dia seperti dikejar oleh rasa bersalah. banyak sekali yang ia pikirkan. banyak sekali yang harus ia pertimbangkan. tapi, kini dia seakan tak memiliki pilihan. kepalanya terasa hampir pecah dan ia tak ingin hidupnya terasa konyol. ia harus mematikan handphonenya dan menjauh dari dunia. hanya untuk sementara. hanya untuk mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa panas oleh beban.

dulu ia mampu berpikir jernih dalam menghadapi setiap masalah. kini, serangan bertubi-tubi telah melumpuhkan kemampuan nalarnya. begitu satu harus ia selesaikan, yang lain menunggu. masalah seperti tak kunjung selesai. ia merasa tak nyaman dan lelah. satu hari, satu hari saja cukup. ia akan pergi ke luar kota dan menghilang. ia tak peduli jika atasannya menegur besok hari. atau jika teman-temannya marah karena janji yang batal. agar tetap menjadi manusia yang waras, ia harus bertindak gila sesekali. dan hari ini adalah hari yang tanpa sebab telah menjadi hari yang tepat. hari ini ia akan menjadi gila.

sebenarnya saya ingin membuat sebuah cerita bersambung di blog ini. tapi saya tidak yakin dengan kemampuan saya sendiri. cara menulis saya di blog ini bersifat spontan. jadi, kalo saya membuat cerita bersambung, saya tak akan membuat struktur dari cerita itu. nah, tanpa struktur, sebuah cerita panjang akan ngaco ke sana ke mari. saya tidak yakin akan mampu mengingat karakter tokoh-tokohnya, detil lingkungan dan kejadian. jadi, pasti hasilnya sebuah cerita yang tidak masuk akal.

tapi, apakah ada yang peduli?

tentu saja ada bos, yang peduli adalah saya sendiri. karena ternyata kemalasan menghantui begitu seramnya sehingga saya tak bisa memulai penulisan cerita bersambung ini.

Next Page »