Hampir saja dia pergi ketika di menit terakhir akhirnya Lisa datang juga. Wajahnya kuyup oleh hujan. Terlihat sekali bahwa dia berusaha untuk datang cepat-cepat. Tapi, telat dua jam? Lebih baik tidak datang sama sekali. Tapi dia berpikir juga, mengapa kemampuannya untuk memaafkan telah hilang. Tidak seperti dulu ketika seberapa marah pun dia, seberapa kecewa pun dia, pintu maaf itu selalu terbuka lebar. Tapi, kini, hatinya seperti tertutup sama sekali. Ia merasa telah berubah menjadi suami yang kejam.
“Kamu marah?” tanya Lisa sambil terengah-engah.
dia diam saja. sangat khas dirinya bahwa jika dia marah, dia tidak akan menumpahkannya dalam bentuk teriakan barbar, apalagi di tempat ramai seperti ini. dia memiliki teknik yang menurut dia lebih menyakitkan. dan teknik itu muncul sekarang dalam bentuk yang menyarankan dia untuk hanya pergi, tak menggubris pertanyaan yang beru terlontar. tapi, dia belum mau melangkah. diam saja mematung sambil menatap wajah yang dulu pernah ia kagumi.
“Ok, kamu marah. Aku sudah minta maaf dan semua ini bukan kehendakku. Kita masih bisa duduk dan bicara, kan?”
Sungguh dia merasa aneh bahwa hidup bersama selama lima tahun tak membuat Lisa tahu apa yang dinginkannya. Mudah sekali sebenarnya untuk membuat dia tak marah. Lisa hanya cukup untuk meminta maaf. Bukan, bukan meminta maaf, tapi memohong maaf. Menunjukkana wajah menyesal dan menampakkan niat yang tulus bahwa dia mengakui kesalahannya. Tapi, itu tak pernah muncuk dari Lisa. Seorang perempuan tangguh yang tak akan takluk di hadapan laki-laki mana pun. termasuk suaminya sendiri.
Dia melangkah. tangan lisa menangkap lengannya.
“Kau seperti anak kecil, ” katanya. “Kau ingin bicara, ayo kita bicara. aku memang terlambat, tapi bukan salahku.”
dia merasa sakit. hatinya telah berulang kali disakiti, tapi dia tak pernah merasa sesakit sekarang. dia akhirnya menghentakkan tangannya dari genggaman tangan Lisa dan pergi. Dia tahu beberapa saat kemudian dia akan menyesal dan mungkin sekali ia akan mengirimkan pesan maaf ke telepon genggam Lisa. Tapi, ia tahu, semakin hari ada jurang yang semakin lebar menganga antara dirinya dan Lisa. Seribu maaf tak akan menjembatani semua yang telah menjauhkan mereka. Dia pergi tak peduli hujan mengguyur tubuhnya.
Lisa hanya berdiri dan menahan tangis. Ya, Lisa pun menangis. Dia tahu itu. Tapi kali ini, dia merasa itu adalah tangis yang sia-sia. Hatinya tak selunak dulu lagi.