He who laughs last didn’t get it
June 2008
June 29, 2008
Helen Giangregorio
Posted by twelve13 under Story of Another Words | Tags: helen, quotation |Leave a Comment
June 29, 2008
winston churchill
Posted by twelve13 under Story of Another Words | Tags: quotation, winston churchill |Leave a Comment
A fanatic is one who can’t change his mind and won’t change the subject
June 29, 2008
And as if you send a postcard from a distance, letting me know the season of your heart, i bloomed certain flower of our secrets, laying on my bed with fear: what if days that passed and days to come, will only make us see each other no more but from the shattered glasses of our memories. shall you forgive my recklessness? shall you understand my inexistence? shall you read my books, shall you wirte my notes? shall you touch my photographs in the dawn of may? shall you drive my car? shall you pay my dues? shall you smile to the tree i have climbed? shall you cut you hair the way i like it? shall you buy another glasses? shall you knit my torn sweater? shall you walk the path? shall you sing the song? shall you see the mountain? shall you see the clouds? shall you? shall you?
because i have lost you now… and the hour comes
June 29, 2008
tentang kambing dan gembala
Posted by twelve13 under Story of Education | Tags: beasiswa, pendidikan |1 Comment
Jika terjadi suatu akad di atas materai, maka seharusnya pihak yang berakad sama kedudukannya di atas hukum. Hal ini disebabkan materai adalah tanda tangan dari hukum dan di mata hukum semua orang adalah sama. Tidak ada satu menjadi tuan dan yang lain menjadi budak. Jelas mengapa kontrak antara tuan rumah dan pembantu di Indonesia tak pernah ditulis di atas surat perjanjian bermaterai. Terlepas dari performa hukum di Indonesia yang masih seperti mobil keor.
Sebuah lembaga memberikan beasiswa kepada orang-orang untuk mengikuti program master di ITB. Dari awal, tak ada ikatan kontrak tertulis sama sekali. Syarat lisan terucap, tapi kontrak ijab terlaksana beberapa waktu kemudian setelah program berjalan. Nah, mahasiswa yang mendapat beasiswa tentu tak terlalu ambil pusing selama mereka mendapatkan uang saku lancar dan biaya kuliah.
Setelah dua semester, tiba-tiba pihak pemberi beasiswa mengeluarkan satu keputusan yang membuat resah penerima beasiswa. Mahasiswa yang IPK-nya kurang dari 3.25, tidak akan lagi mendapat biaya hidup. Maka, kelimpunganlah mereka yang kadung datang dengan anak-istri dari daerah di luar Jawa. Sementara dalam kontrak telat yang telah mereka tanda tangani tercantum, jika mengundurkan diri dari beasiswa ini, mahasiswa harus membayar ganti rugi sebanyak dua kali uang yang telah dikeluarkan oleh pihak pemberi beasiswa. Bagaimana ini? Seperti terjebak di antara mulut harimau dan buaya.
Pertanyaannya adalah, apakah bijak sang pemberi beasiswa mengeluarkan keputusan seperti itu. Katakanlah memang setelah melalui penelaahaan hasil studi mahasiswa, IPK mereka pada jeblok. Hanya sekian persen yang prestasinya dapat diangguk-angguki sambil tersenyum. Sisanya patut digeleng-gelengi kepala. Tapi, bukankah mekanisme kontrol prestasi itu seharusnya ditetapkan dari awal. Jika saja ada kemungkinan untuk tak mendapatkan biaya hidup saat IP kurang dari yang disyaratkan, mungkin beberapa orang akan berpikir dua kali untuk ikut. Ngapain mengambil resiko mati di tanah orang? Nagapain bela-belain kelaparan? Toh mungkin mereka sadar bahwa kemampuan mereka tidak begitu dahsyat. Mereka punya keinginan, tapi sebagai orang yang dewasa, mereka juga memiliki patokan yang realistis.
Jadi, ini bukan masalah legal. Ini masalah kebaikan sebuah keputusan. Ini masalah manfaat dari sebuah keputusan. Jika sebuah niat baik diwujudkan dengan keputusan yang kontra produktif, bukankah itu hanya menunjukkan kekurangmatangan pikiran para pengambil keputusan?
Hari kamis itu, teman-teman angkatan 2007 program magister teknik elektro bidang media dijital dan teknologi game selesai ujian matakuliah jaringan nirkabel dan bergerak. Fotokopi surat keputusan DIKNAS terpampang di papan pengumuman LSKK, STEI ITB. Mereka ribut di sana. Ada yang berbicara serius, ada yang mesam-mesem jengkel. Beberapa mengusulkan untuk demo. Yang lain teriak boikot saja. Sementara yang lain lagi berkata PTUN-kan saja. Syukur masih ada yang dengan kepala dingin berdiskusi untuk mencari solusi. Tapi, intinya, satu keputusan yang keluar dari niat baik itu ternyata telah membuat mereka resah.
Bapak-bapak di DIKNAS, ajak kami bicara karena kami bukan kambing dan bapak-bapak bukan pengembala. Indonesia telah ditikam parah-parah bidang pendidikannya oleh para pejabat yang tidak mengerti bagaimana memutuskan lingkar setan keboborokan negeri ini. Jika pendidikan gratis, buku murah, kualitas tinggi belum dapat diwujudkan. Jika korupsi, main-main uang dalam pengadaan buku masih ada di sana-sini, kapan lagi Indonesia ini akan bangun?
June 28, 2008
sebagai seorang perokok yang biasa-biasa saja, rasanya ada keinginan untuk berhenti. Sekarang ada kemajuan, sudah hampir sebulan ini saya berhasil untuktidak merokok di rumah, terutama di depan komputer, malam-malam. Saya tidak tahu, adakah saya merasa lebih sehat dari sebelumnya.
Yang saya pikirkan sekarang adalah, bahwa kampanye anti merokok akan sangat efektif jika didukung oleh dana yang besar. Jika pemerintah mau turun tangan, bukan tidak mungkin kampanye ini akan berhasil. Tapi tentu saja kita tidak bisa berharap pemerintah menendang ladang pemasukkannya ini.
Nah, melihat kantong-kantong gairah anak muda, ada beberapa contoh yang bisa ditiru dalam mengkampanyekan anti-rokok. Idenya adalah, bagaiman menjadikan tidak merokok itu keren. Intinya adalah, bagaimana agar tidak merokok menjadi semacam idealisme, sikap, pilihan yang keren bagi anak muda. Sama seperti saat mereka tanpa sadar menjadikan kaos yang dibeli di distro itu keren. Sama dengan semangat untuk menjadi independent itu keren. Sama dengan saat mereka bilang bahwa the chanchuters [sorry kalo salah nulis] itu keren dibanding Rolling Stones? [emang ada gitu yang bilang gitu? ngarang nih orang]. Kalo di dunia komputer, gerakan yang sama ada pada open source. Semangat yang dimiliki suatu komunitas untuk melawan microsoft, untuk melawan raja yang punya kuasa uang dan berbuat seenaknya.
Nah, jika tidak merokok dapat dijadikan semacam ikon untuk orang yang keren, bukan tidak mungkin anak-anak smp dan sma akan berhenti untuk merokok. Mereka akan mengejek teman-teman mereka yang merokok. “Hari gini merokok? hahahahaha”. Nah, saya yakin hal seperti itu bukannya tidak mungkin.
Tapi, ini harus didukung oleh banyak pihak. Jika kita telah tidak mengikutsertakan pemerintah, maka yang masih harus kita bawa adalah: artis, pemain band, sastrawan, pembuat film, olahragawan, ilmuwan…dst. Pokonya, setiap orang yang mungkin ada penggemarnya deh.
Nah, satu lagi.. jangan lagi berharap bahwa dengan mengatakan merokok itu merusak kesehatan orang akan jera. Hal semacam ini sudah terbukti tidak ampuh. Ciptakan saja citra-citra ikonik seperti yang dilakukan oleh iklan-iklan. Ciptakan kesan bahwa merokok itu tidak keren. Itu saja. Strateginya harus melalui jalan belakang sekarang. Lalui alam bawah sadar. Jangan percaya dengan akal manusia ketika itu berhubungan dengan kenikmatan. Karena kenikmatan itu ada sekarang dan saat ini sedangkan akibat itu ada nanti. Dan sebagian besar manusia akalnya tidak bekerja sejauh itu. Betul?
Jadi, katakan sajalah “hari gini masih ngerokok? hahahahaha jauh man…jauuhhhhh”
[nb. saya adalah perokok ringan yang peduli dengan tingkap polah anak sd, smp dan sma yang sudah mulai mencoba merokok]
June 28, 2008
seorang teman yang ingin menjadi wasit
Posted by twelve13 under Story of Days | Tags: teman |Leave a Comment
Teman lama saya sekarang senang sekali memojokkan. Dulu saya memang terlalu senang akan satu hal dalam hidup dan tidak peduli dengan yang lain. Saya bahkan juga mungkin meremehkan hal-hal selain hal yang suka itu. Saya tidak ingat sebenarnya.
Dulu saya suka sekali sastra dan filsafat. Saya juga suka fisika teori. Intinya, saya pikir hal-hal yang berat itu keren untuk disukai. Karena hal-hal di luar itu, seperti hukum, politik, komputer tidak saya anggap berat, maka mungkin saya telah meremehkan itu semua.
Nah, sekian tahun berlalu. Saya masih menyelam di dunia sastra, filsafat dan fisika teori hingga kemudian tanpa kita sadari hidup itu berubah. Ada hal yang kita sadar tidak kita benci dan ada hal yang kita sadar tidak kita sukai. Lalu saya seperti terangkat dari air dan hidup di darat selama beberapa waktu. Dan tiba-tiba saya telah tercebur di dunia yang mungkin saya benci dahulu kala. Teman saya itu berkata “neper say neper again”.
Nah lho, saya tidak pernah merasa saya harus membela diri saya yang dahulu sekarang. Lagipula, saya tidak pernah menghianati filsafat, sastra dan fisika teori. Tidak ada hal semacam itu. Jika saya berubah, ya berubah saja. Jika saya bertambah, ya alhamdulillah. Jika saya sekarang ternyata menyukai apa yang dulu mungkin saya benci, so what? Apa saya harus tetap dengan pendirian saya sepuluh dua puluh tahun yang lalu? Apa saya tidak boleh maju?
Nah, masalahnya adalah, introspeksi sangat menyenangkan jika datang seperti angin yang melambai sepoi-sepoi saat kulit muka terasa panas. Rambut yang tersibak sebanding rasanya dengan coca-cola. Tapi teman saya yang satu ini, bukan sekali dua kali, mungkin bukan juga tiga kali, seperti terus menerus membawa saya ke gelanggang pertarungan antara diri saya sekarang dan diri saya dahulu. Loh, siapa Anda jika pun ada pertarungan semacam itu? Apakah saya pernah meminta Anda menjadi wasit dalam pertarungan seperti itu? Tidak kan, lalu kenapa Anda datang?
Nah, sekarang saya tidak ingin menjadi kawan yang menyebalkan. Saya yakin ada sesuatu yang bisa dikerjakan… yaitu diam. Saya tidak ingin bertarung denganmu kawan. Jika saya pun dapat mengalah kepada diri saya sendiri, jika kesalahan-kesalahan saya terhadap diri sendiri telah saya maafkan. Jika pun saya telah menelan ludah saya sendiri, apakah engkau, yang saya yakin tak pernah ada hubungannya dengan ini, akan selalu menjadi seorang yang mencubit rasa kelemahan manusia, dan membakar nafsu amarah? Saya curiga teman, saya mungkin telah menindasmu di waktu lalu. Dan kini adalah saatnya balas dendam. Duh, maafkan saya. Maafkan saya.
June 28, 2008
Lafadz Allah di atas AlAzhar Cibubur
Posted by twelve13 under Story of Religion | Tags: allah |[3] Comments
Foto ini diambil oleh ibu dari teman ponakan saya di sekolah Al Azhar Cibubur Jakarta. Saya cek di metadatanya tanggal capture dan last modified nya sama. Saya tidak paham betul mengenai metadata suatu foto digital. Jadi, saya serahkan kepada ahlinya. Mengenai foto ini, ada beberapa kemungkinan [in random order]:
1. Foto ini hasil rekayasa
2. Ini adalah kebetulan belaka
3. Ini menunjukkan kebesaran Allah
Tentu saja terserah Anda memilih yang mana.
This picture was taken by a mother of my niece’s friend in Al Azhar School, Jakarta, Indonesia. I have checked the meta data and found the capture date and the last modified date is the same. I don’t really grab this digtal data things. So. i let you decide:
1. This picture is a fake
2. Is just a coincidence
3. This really shows greatness of Allah
For you who do not know, the clouds in this picture has formed itself into words of “Allah” in the arabic letters.
June 25, 2008
far from the madding crowd, thomas hardy
Posted by twelve13 under Story of Another Words | Tags: love, quotation, thomas hardy |Leave a Comment
it may have been observed that there is no regular path for getting out of love as there is for getting in.
June 25, 2008
yogya welcomes you
Posted by twelve13 under Story of Indonesia | Tags: indonesia, travel, yogya |Leave a Comment
Yogyakarta, sometimes called Yogya and spelled Jogyakarta, is a bustling town of some 500,000 people and the most popular tourist destination on the island of Java, largely thanks to its proximity to the temples of Borobudur and Prambanan. Yogyakarta is known as a center of classical Javanese fine art and culture such as batik, ballet, drama, music, poetry and puppet shows. It is also famous in Indonesia as a center of higher education. The touristic heart of Yogyakarta is the kraton, or sultan’s palace. [http://www.indonesia.com/travel/4/Yogyakarta]
June 25, 2008
lombok welcomes you
Posted by twelve13 under Story of Indonesia | Tags: indonesia, lombok, travel |Leave a Comment
Think of Lombok as Bali’s quieter, less crowded counterpart, with terrific beaches, world-class diving and snorkeling, beautiful scenery, and an interesting local culture. If you’re seeking a place to rest and recharge, you can’t do better than Lombok. [http://www.indonesia.com/travel/2/Lombok]


