Setelah berniat menuliskan ini, saya diam sebentar dan berefleksi. Seperti memandang wajah sendiri di pantulan jernih air danau.
“Mengapa saya harus jadi seseorang yang selalu melontarkan kritik? Adakah tindakan saya yang cukup signifikan yang mengubah dunia menjadi lebih baik?”
Saya benar-benar ditohok oleh pikiran yang cukup kurang ajar ini. Bahkan, pikiran saya ternyata telah memiliki nyawa sendiri dan mengkritik sang tubuh tempat ia bersemayam. Senjata memakan tuannya sendiri.
Di pintu masuk Griya buah batu, saat akan membeli sesuatu yang tidak penting disebutkan di sini, saya membaca sebuah tulisan yang judulnya kira-kira “Hemat, kantong plastik!”
Saya senang sekali dengan isu lingkungan. Jika ada sampah di jalan, saya akan membuangnya. Tidak selalu memang. Tapi, saya pernah memiliki keinginan untuk menjadi anggota Green Peace, entah nyambung atau tidak.
Mendengar bumi merana karena ulah manusia, mengisap bau asap knalpot bus damri, melihat warna hitam payau sungai di kota, saya jadi ingin hijau dan udara segar.
Saya ingat waktu berjalan-jalan ke pangrango. Saya minum air dari sungai dan rasanya lebih segar dari AQU*. Andai, kota Bandung bisa memiliki sungai seperti itu.
Nah, balik lagi ke Griya, hemat kantung plastik adalah sesuatu yang menyenangkan. Saya memang tidak membawa-bawa kantung plastik ke mana-mana. Tapi kadang, jika saya membeli sesuatu yang kecil, atau masuk ke dalam tas, saya akan meminta belanjaan saya tak usah berplastik. Ya, kecil saja memang. Dan saya pun tak menganggap itu berarti. Ini hanya sebuah idealisme yang mungkin sisa-sisa jama jahiliyah dulu.
Nah, dengan riwayat aktivis setengah jadi-jadian itu, saya memandang ke kasa Griya buah batu. Saya tidak tahu berapa harga kantung kertas, atau apakah kantung kertas sama buruknya dengan kantung plastik karena memakan kayu (kecuali daur ulang), yang jelas, saya kecewa dan tertawa bersamaan saat di kasa, kantung plastik putih bertuliskan Yogya masih digunakan sebagai pembungkus belanjaan.
Seandainya yang menuliskan tulisan hemat kantung plastik itu, dan yang memiliki ide untuk meletakkan di pintu masuk itu, melangkah saja satu langkah lagi, tentu kantung plastik berwarna putih itu akan hilang dari Yogya, dan kita akan melihat kantung kertas warna coklat sebagai pembungkus.
Tapi ngomong-ngomong, jika memang dituliskan hemat kantung plastik, tentunya saya harus berpikiran bahwa kantung plastik itu masih digunakan toh? Jika tidak, tentu tulisannya bukan hemat kantung plastik, tapi jangan gunakan kantung plastik. Bukan begitu?
Oh ya, FYI, dibutuhkan 1000 tahun untuk kantung plastik terdekomposisi. Jadi, jika Anda membuang kantung plastik ke tanah, seribu tahun lagi kantung plastik itu masih ada!!!!
and more:
http://smartmama.wordpress.com/2008/01/17/5-disturbing-facts-about-plastic-bags/