Setiap butir darah dalam pembuluh nadiku berdetik. Waktu menjadi kesadaran yang mencengram kerah bajuku. Kesadaran seperti menyempit dan ruang yang lapang penuh dengan kegelapan.

Ada ketuk sepatu di lantai. Jantungku berdebur lebih dari ombak terbentur karang. Aku tak merasakan angin. Dan kini, seluruh pori di tubuhku mendingin berembun-embun.

Adakah kau akan datang kepadaku pada hari yang telah kita janjikan, tanyamu suatu hari. Aku tak percaya bahwa kita mampu untuk berlari dari apa yang telah ditakdirkan. Tapi kita tak usah menangis. Kita tak ingin jadi orang yang cengeng. Kau mengajarkanku untuk menantang nasib: dengan menafikannya.

Ketuk sepatu itu semakin mendekat. Aku seperti ingin loncat dan berteriak. Kemarahan yang muncul menelan ketakutanku. Mengapa kau tak tinggal saja sendiri dalam gelap. Aku bukan penghuni kegelapan.

Saya menjawab pertanyaan Bernie lewat sepucuk surat dengan penuh dendam, sebab ia dan Ayah telah membuyarkan rencana saya untuk mendapatkan pendidikan tinggi seni rupa: “Kakak tersayang: Ibaratnya memberi tahu engkau tentang burung-burung dan kumbang-kumbang,” demikian saya mulai. “Ada banya orang berbakat yang dirangsang secara positif oleh sejumlah, tidak semua, aturan manusia tentang warna dan bentuk di atas permukaan datar yang pada hakikatnya tak berfaedah.

“Engkau sendiri suka kepada musik tertentu, aransemen bunyi-bunyian, yang pada hakikatnya juga tak berfaedah. Jika saya menyepak sebuah ember agar menggelundung di tangga gudang bawah tanah, dan kemudian mengatakan kepadamu bahwa suara gaduh yang telah saya buat itu secara falsafah sama dengan The Magic Flute, tindakan ini tidak akan menjadi awal dari perdebatan yang berlarut-larut dan sengit. Jawaban yang sungguh-sungguh memuaskan dan sempurna darimu kiranya adalah, ‘Saya menyukai apa yang dibuat oleh Mozart, dan saya membenci apa yang dibuat oleh ember itu.’

“Memperbincangkan suatu karya seni merupakan suatu kegiatan sosial. Entah engkau menikmatinya atau tidak. Dan sesudah itu engkau tak perlu bertanya mengapa. Engkau tak perlu mengatakan apa pun.

“Engkau adalah seorang eksperimentalis yang patut dihormati, Kakak tersayang. Bila engkau sungguh-sungguh ingin mengetahui apakah lukisan-lukisanmu itu, seperti pertanyaanmu, ’seni atau bukan’, engkau harus memamerkannya di suatu tempat umum entah di mana, dan melihat apakah orang-orang yang tak kau kenal suka memandangnya. Begitulah cara pertandingan dimainkan. Beritahukan kepadaku apa yang terjadi.”

Saya melanjutkan: “Jarang orang menyukai lukisan atau barang cetakan, atau apa saja, tanpa mengetahui sedikit pun tentang senimannya. Sekali lagi, situasinya besifat sosial, bukan ilmiah. Setiap karya seni adalah separo percakapan antara dua manusia, dan amat mambantu bila mengetahui siapakah yang sedang berbicara denganmu. Apakah ia dikenal sebagai orang yang serius, saleh, menderita, bernafsu duniawi, suka memberontak, tulus, gemar berseloroh?

“Lukisan-lukisan terkenal lantaran sifat kemanusiannya, bukan lantaran sifat ke-lukisan-nya.”

Setelah berniat menuliskan ini, saya diam sebentar dan berefleksi. Seperti memandang wajah sendiri di pantulan jernih air danau.

“Mengapa saya harus jadi seseorang yang selalu melontarkan kritik? Adakah tindakan saya yang cukup signifikan yang mengubah dunia menjadi lebih baik?”

Saya benar-benar ditohok oleh pikiran yang cukup kurang ajar ini. Bahkan, pikiran saya ternyata telah memiliki nyawa sendiri dan mengkritik sang tubuh tempat ia bersemayam. Senjata memakan tuannya sendiri.

Di pintu masuk Griya buah batu, saat akan membeli sesuatu yang tidak penting disebutkan di sini, saya membaca sebuah tulisan yang judulnya kira-kira “Hemat, kantong plastik!”

Saya senang sekali dengan isu lingkungan. Jika ada sampah di jalan, saya akan membuangnya. Tidak selalu memang. Tapi, saya pernah memiliki keinginan untuk menjadi anggota Green Peace, entah nyambung atau tidak.

Mendengar bumi merana karena ulah manusia, mengisap bau asap knalpot bus damri, melihat warna hitam payau sungai di kota, saya jadi ingin hijau dan udara segar.

Saya ingat waktu berjalan-jalan ke pangrango. Saya minum air dari sungai dan rasanya lebih segar dari AQU*. Andai, kota Bandung bisa memiliki sungai seperti itu.

Nah, balik lagi ke Griya, hemat kantung plastik adalah sesuatu yang menyenangkan. Saya memang tidak membawa-bawa kantung plastik ke mana-mana. Tapi kadang, jika saya membeli sesuatu yang kecil, atau masuk ke dalam tas, saya akan meminta belanjaan saya tak usah berplastik. Ya, kecil saja memang. Dan saya pun tak menganggap itu berarti. Ini hanya sebuah idealisme yang mungkin sisa-sisa jama jahiliyah dulu.

Nah, dengan riwayat aktivis setengah jadi-jadian itu, saya memandang ke kasa Griya buah batu. Saya tidak tahu berapa harga kantung kertas, atau apakah kantung kertas sama buruknya dengan kantung plastik karena memakan kayu (kecuali daur ulang), yang jelas, saya kecewa dan tertawa bersamaan saat di kasa, kantung plastik putih bertuliskan Yogya masih digunakan  sebagai pembungkus belanjaan.

Seandainya yang menuliskan tulisan hemat kantung plastik itu, dan yang memiliki ide untuk meletakkan di pintu masuk itu, melangkah saja satu langkah lagi, tentu kantung plastik berwarna putih itu akan hilang dari Yogya, dan kita akan melihat kantung kertas warna coklat sebagai pembungkus.

Tapi ngomong-ngomong, jika memang dituliskan hemat kantung plastik, tentunya saya harus berpikiran bahwa kantung plastik itu masih digunakan toh? Jika tidak, tentu tulisannya bukan hemat kantung plastik, tapi jangan gunakan kantung plastik. Bukan begitu?

Oh ya, FYI, dibutuhkan 1000 tahun untuk kantung plastik terdekomposisi. Jadi, jika Anda membuang kantung plastik ke tanah, seribu tahun lagi kantung plastik itu masih ada!!!!

and more:

http://smartmama.wordpress.com/2008/01/17/5-disturbing-facts-about-plastic-bags/

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Melangkah satu-satu ternyata menyenangkan. Memang aku berhenti. Tapi aku bisa meluaskan pandang. Menikmati setiap titik dalam waktu yang tersedia. Aku tak sombong lagi dengan menginginkan satu lompatan. Aku sadar langkahku tak selebar raksasa. Aku bukan raksasa. Aku tak pernah menjadi raksasa. Bahkan Newton pun bukan. Ia harus berdiri di pundak raksasa alih-alih menjadi raksasa itu sendiri.

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Hari ini aku selesaikan satu langkah dan tak menjadi kesal saat langkah kedua belum aku rampungkan. Cukup satu sehari. Aku tahu bahwa bukit dibangun sedikit-sedikit. Dan batu dilubangi setetes-setetes. Aku harus menjadi yang sedikit itu, atau setetes itu,  tapi terus menerus dan tak mudah lelah.

Aku tidak lagi ambisius sekarang sayang. Terima kasih untuk tetap menarikku berpijak di atas tanah dan membangunkanku dari mimpi yang melenakan. Umurku telah hanyut jauh ke hilir, belum satu ranting pun aku tarik untuk kubuat rakit. Tapi, denganmu, aku seperti sadar, bahwa tak ada perahu di ujung sungai. Aku harus menarik dan menali, mengikat dan meluruskan. Agar ketika lautan itu sampai, kita tak tenggelam.

Aku tak lagi ambisius sayang, berikan aku selalu kekuatan untuk gagal atau berhasil. Beri aku pelajaran akan sesuatu yang bernilai kecil. Beri aku pengertian, bahwa satu di genggaman lebih berarti daripada sepuluh di bayangan.

Aku tak lagi ambisius sayang. Besok kita lanjutkan lagi sedikit demi sedikit membangun cita-cita kita.

Saya ingat film kungfu di RCTI. David Carradine bermonolog sambil memandang seekor laba-laba. Untuk satu mahluk hidup, ada satu dunia buat dirinya. Saat ini saya ingin mengganti dunia itu dengan sebuah gudang, atau instalasi kabel listrik di langit-langit. Untuk satu orang, ada satu instalasi kabel buat dirinya.

Berhadapan dengan siapa saja adalah sebuah proses timbal balik. Kita menari alih-alih berkelahi. Menari berarti sebuah kognisi. Kita memahami, kita dipahami, kita berubah, kita mengubah. Ada umpan balik ada respon. Kita berkolaborasi.

Tapi, bayangkan jika yang berkolaborasi adalah alien vs predator, atau kuntilanak vs pocong, dua instalasi kabel yang sama-sama semrawut. Satu keukeuh masuk lewat sini, yang lain bilang, kalau itu adalah jalan tempat keluar.

Di kepala setiap orang ada banyak yang bertengger. Siapa bilang kita adalah mahluk rasional. Setiap keputusan sepele yang kita ambil dalam hidup sehari-hari sering diambil lewat pengaruh emosi. Pada kenyataannya, proses berpikir adalah proses yang dilakukan oleh seluruh tubuh. Jadi, emosi dan rasio itu tidak terbedakan.

Nah, jika dua manusia dengan pengaruh emosinya masing-masing saling bertemu, dengan pengalaman yang berbeda, dengan pola pikir yang berbeda, dengan riwayat yang berbeda, apa jadinya?

Saya ingin berkata bahwa bukan itu maksud saya. Tapi tentu saja saya hanyalah seorang yang secara strata akademis berada di bawah lawan bicara saya. Ada banyak asumsi yang dijelaskan tanpa saya memiliki kesempatan untuk mempertanyakan, atau bahkan untuk mengatakan bahwa tidak boleh asumsi seperti itu diambil.

Tapi karena mahluk hidup adalah suatu mahluk yang adaptif, saya membayangkan semrawutnya instalasi kabel yang mulai bergeser-geser untuk berusaha mengikuti semrawutnya instalasi kabel orang yang saya ajak bicara.

Sungguh sayang jika begitu kan? Pikiran adalah area di mana kebebasan menemukan perwujudannya yang paling penuh. Jangan tundukkan pada apa pun juga!!

Saya pun pergi sambil tertawa dalam hati.

Mungkin pena atau pensil akan menjadi artifak antik di masa depan. Huruf-huruf tidak lagi disambung menggunakan kedua alat itu. Otot jari tidak lagi memiliki kemampuan menggenggamnya: ibu jari dan telunjuk tak bisa bekolaborasi menggenggam pipa kecil yang berisi tinta atau karbon itu. Yang akan menggantikannya adalah sebuah tombol-tombol kecil yang disusun berdasarkan urutan QWERTYUIOP…

Kemarin saya disuruh untuk mengarang cerita satu halaman menggunakan pensil. Mengarangnya tidak masalah, tapi yang masalah adalah, baru setengah halaman menulis menggunakan pensil, tangan saya benar-benar capek.Tangan itu, yang kanan, sudah lama tidak dibiasakan untuk menulis lagi. Sekarang, biasanya ibu jari saja yang aktif menekan tuts hp atau sepuluh jari dalam kolaborasi membuat tulisan di komputer.

Yang menjadi ironi adalah, alasan huruf-huruf di papan ketik disusun QWERTYUIOP. Anda tahu mengapa urutannya seperti itu? Itu karena urutan seperti itu akan membuat Anda sulit untuk mengetik. Ya, urutan seperti itu dibuat saat papan ketik masih merupakan antarmuka untuk papan ketik mesin yang suaranya cetak cetok itu. Jika Anda ingat jaman-jaman itu, tungkai pencetak huruf kadang saling mengait jika tangan kita terlalu cepat beruntunan menekan dua huruf. Nah, agar tidak terlalu cepat kita mengetik, dibuatlah susunan yang menghambat cepatnya pengetikkan.

Ironinya terletak di mana? Ironinya terletak di sini: Posisi ibu jari dan telunjuk saat menggenggam pulpen adalah posisi yang natural. Posisi inilah yang membuat kita menjadi makhluk yang setingkat lebih tinggi dibanding hewan lain. Posisi ibu jari dan telunjuk yang dapat saling berhadapan ini membuat kita sebagai mahluk handycraft. Kemampuan ini juga yang mengembangkan potensi dari otak kita (citation needed).

Nah, sekarang, setelah ditemukannya sang canggih komputer, kita dipaksa untuk meninggalkan posisi natural kita dalam menulis dan menggantikannya dengan posisi yang sebenarnya membuat otot tangan kita stress. Pernah dengar Carpal Tunnel Syndrom, ini adalah sebuah gejala terpelintirnya median nerve yang dapat menyebabkan melemahnya otot pada tangan (check wikipedia for sure). Salah satu penyebab dari CTS ini adalah terlalu lama mengetik dengan papan ketik komputer!!

Jadi, ya, itu ironi sebenarnya. Tapi tak usah khawatir. Mungkin saya salah. Masih akan ada pensil dan pena di masa depan. Mungkin bahkan papan ketik yang akan hilang. Di masa depan, interaksi antara komputer dan manusia akan memiliki antarmuka yang lebih human-like, dan bukan computer-like.

Sudah banyak didengungkan oleh para pendekar teknologi informasi kita bahwa penggunaan perangkat lunak sumber bebas (open source) akan sangat membantu bangsa ini keluar dari predikat buruk sebagai pembajak. Selain itu, penggunaan perangkat lunak bebas sumber juga akan meningkatkan kecerdasarn bangsa dalam teknologi informasi. Sayangnya, hal ini tidak disadari oleh banyak pihak.

Baru saja seorang teman memberikan suatu tautan ke sebuah situs http://www.eii-forum.or.id/cms/news.php, yaitu sebuah situs yang diberi label e-Indonesia Initiatives Forum. Di sana sedikitnya ada dua lomba yang saya baca yang tujuan dari lomba-lomba ini sebenarnya bagus. Lomba pertama berjudul “Kompetisi Desain Arsitektur Komputer Murah” dan yang kedua berjudul “Kompetisi Desain Konten Kreatif untuk Indonesia yang Lebih Produktif“. Kedua lomba ini digagas oleh e-Indonesia Initiatives Forum dan Inkubator Industri dan Bisnis ITB.

Yang menjadi lucu adalah, dalam kedua lomba tersebut, setiap peserta wajib untuk menyerahkan dokumentasi hasil karyanya dalam format .doc. Nah lho, kok seperti ada yang inkonsisten di sini ya. Kok seperti ada yang salah di sini. Seperti ada yang mengganjal di sini.

Adalah salah untuk menganggap setiap orang memiliki Microsoft Word. Adalah salah untuk menganggap setiap orang yang memiliki Microsoft Word, memilikinya dengan cara legal. Adalah salah untuk menstandarkan satu format propietary tertentu bagi umum. Apalagi untuk umumnya Indonesia. Bukankah dengan menstandarkan seperti itu, secara tidak langsung panitia mengharapkan setiap peserta memiliki lisensi sah dari Microsoft untuk setiap program Word yang ada di komputer mereka. Atau mereka tidak peduli? Atau mereka tidak tahu? Jika jawabannya tidak tahu, kok rasanya kebangetan. Jika jawabannya karena mereka tidak peduli, wah lah ya buat apa lomba-lomba dengan tujuan mulia ini?

Golput boleh jadi adalah masalah politik. Tapi, golput bisa jadi juga adalah masalah statistik. Tapi saya tidak ingin dianggap mendukung golput. Beberapa argumen yang saya sampaikan di sini akan jadi mentah bila tulisan ini dianggap sebagai propaganda mendukung golput. Pemilu legislatif sudah lewat, kan? Setidaknya orang masih belum panas untuk pemilu presiden nanti.

Saya tidak mengatakan saya anti politik. Saya hanya tidak tertarik. Tapi ketidaktertarikan saya tidak terlalu penting. Jadi, kemarin saya datang juga ke TPS dan memilih. Partai yang saya pilih? Partai yang suka-suka saja. Tidak terlalu penting. Mengapa?

Anda memiliki satu suara bukan?Adakah kemungkinan satu suara mengubah hasil pemilu? Jawabannya ada. Berapa besar? Tidak terlalu besar.

Dari dulu saya berpikir bahwa jika saya tidak memilih, itu karena saya menganggap saya tidak memiliki arti apa-apa dalam pemilu ini. Wong saya cuman punya satu suara. Kalo saya punya 300 ribu suara, nah saya baru akan ikut pemilu.

Tapi orang yang saya bicara akan bilang selalu bahwa suara saya yang tidak dipakai itu sayang. Nanti bakal kurang satu suara. Nah, argumen yang melankolis dan bukan logis, jadi tak perlu ditanggapi.

Ada juga yang bilang seperti ini, “iya, itu sampean sendiri, coba kalo ada seribu, sejuta orang yang berpikir seperti sampean, toh hasilnya signifikan juga kan!”.

Nah lho, kalo pun seribu, sejuta orang berpikir seperti saya, toh itu bukan salah saya. Yang seribu itu akan milih atau nggak toh bukan saya yang nentukan, Jadi, tetap saja saya tak ada andil. Saya cuman wong cilik toh. Jumlahnya satu. Cuman satu. Ketiup angin juga terbang hilang.

Nah, jadi, ada beberapa kali pemilu saya golput karena memang merasa suara saya tak ada artinya. Sebenarnya ada jawaban yang lebih menantang: memilih itu adalah menggunakan hak, menunjukkan bahwa kita peduli, dan bahwa kita ikut berpartisipasi dalam suatu penyelenggaraan pesta demokrasi. Kalo begini jadinya, ini masalah intern ke dalam diri kita masing-masing. Toh saya akan tetap keukeuh, hasilnya tak berarti.

Ah, kau, ingat dong kata Paulo Coelho: “Jika kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bekerja sama mewujudkannya.”

Hmmm, itu masih di luar ilmu saya mas. Yang jelas, ini bukan propaganda golput dan sebagai catatan, saya memilih pada pemilihan legislatif kemaren.

Tapi memang kadang-kadang saya merasa ada yang sembunyi-sembunyi di balik apa yang terlihat…

Aku tak bisa mengingat nama tempat, pun jalur jalan. Ketika ada orang yang bertanya arah, aku akan mati kutu dan menjawab tak tahu. Bahkan jika pun itu adalah jalurjalur kota kelahiranku.

Aku tak mengingat pula nama orang. Tapi tak separah sang tua pikun. Kadang raut wajah menjentikkan suku kata atau suara. Dan nama mengalir di jantung lidahku. Terucap, seperti tergelincir dari lantai landai yang basah.

Di antara dua kutub Bumi, tak banyak tanah yang aku jejaki. Di antara dua waktu, jarakku tak banyak beranjak. Sepatuku tak tua dan jaket ku tak lusuh. Aku tak membawa gembolan di pundakku.

Tapi aku ingat kata-kata Wordsworth tentang Newton,

And from my pillow, looking forth by light
Of moon or favouring stars, I could behold
The antechapel where the statue stood
Of Newton with his prism and silent face,
The marble index of a mind for ever
Voyaging through strange seas of Thought, alone.

Bukankah batas langit adalah pikiran dan batas bumi adalah tubuh yang mati?

Maka aku ingin bertanya kepada orang-orang yang selalu berkata dengan lantang, seberapa jauh kau tlah arungi lautan kesunyian itu?

Waktu meretas di antara dua jemariku.
Langit terkepung gumpal kabut.
Ada yang mencoba mencari bentuk.
Memahat kebul dengan pisau ingatan.
Kau di sana, dan dia di sampingnya.
Orang ketiga yang tersenyum dan orang keempat yang memeluk.
Pigura yang tak pernah abadi.
Berapa laut yang akan membasuk tinta kenangan.
Membersihkannya hingga noda terakhir.
Bukan aku ingin melarikan diri.
Hanya saja sebingkai foto, entah mengapa, dapat meracuniku.
Dan aku tak ingin mati hari ini.

Next Page »